Merajut Sinergi dan Harmoni di Taman Lumbini | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Borobudur Marathon 2019

Merajut Sinergi dan Harmoni di Taman Lumbini

Merajut Sinergi dan Harmoni di Taman Lumbini

Foto : FOTO-FOTO: HENRY PELUPESSY
A   A   A   Pengaturan Font

Belasan ribu pelari dari dalam dan luar negeri bersiap mengikuti lomba marathon terbesar di Indonesia. Borobudur Marathon (BorMar) 2019, yang dihelat di Taman Lumbini Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng).

Para pelari sudah terlihat memenuhi jalanan Magelang, peserta dibagi menjadi tiga kategori yaitu 10 K, half marathon, dan full marathon. Tak hanya didominasi pelari lokal, sejumlah pelari internasional terlihat berseliweran di jalanan Magelang.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh Ganjar Pranowo, turut memeriahkan even tahunan itu. Tak hanya meramaikan di bangku VIP, keduanya dipastikan ikut menjadi peserta dalam lomba lari yang mengusung tema Synergy & Harmony tersebut. Sebanyak 11.000 peserta, dari jumlah itu, terdapat 350 pelari internasional dari 35 negara.

“Jumlah peserta dari internasional memang meningkat dibanding tahun lalu. Tahun lalu hanya sekitar 150 peserta mancanegara, sementara tahun ini menjadi 350 peserta dari 35 negara,” kata Kadis Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jateng, Sinung N Rachmadi.

Bertambahnya jumlah pelari dari luar negeri akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dari survei pelaksanakan BorMar sebelumnya, perputaran uang saat even tersebut tiap tahun terus meningkat.

“Pada perhelatan pertama 2017, tercatat perputaran uang di Magelang sebesar Rp17 miliar. Jumlah itu naik menjadi Rp29 miliar pada perhelatan BorMar 2018. Dengan semakin banyaknya peserta asing tahun ini, dipastikan perputaran uang itu akan semakin bertambah,” tegasnya.

BorMar sangat layak didukung karena menciptakan dampak ikutan dari berbagai sisi.

Menurut Hani Sutrisno, Pengelola Homestay Halal Desa Bahasa di Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, kamar-kamar di penginapannya sudah dipesan untuk momentum BorMar sejak Agustus lalu.

‘’Kalau tidak salah, begitu slot peserta BorMar ditutup, tiga hari kemudian kamar di homestay kami yang berjumlah sekitar 60 langsung habis dipesan. Kebetulan kami lagi promo waktu itu, yang harga Rp 800 ribu menjadi Rp 600 ribu/malam, yang Rp 600 ribu jadi Rp 500 ribu. Bukan hanya kami yang bergembira, homestay di sekitar Borobudur juga penuh,’’ katanya.

Penyelenggara BorMar 2019, Budiman Tanuredjo mengatakan, BorMar tahun ini ditargetkan menjadi lomba marathon terbaik di Indonesia. Pihaknya juga sedang mengejar target agar BorMar mendapat sertifikasi internasional.

“Saat perlombaan diumumkan terkait sertifikasi internasional itu. Sebenarnya kalau dari sisi peserta, BorMar sudah layak disejajarkan dengan even marathon internasional lainnya,” kata dia.

Memang membutuhkan campur tangan banyak pihak untuk menjadikan Borobudur Marathon sekelas dengan Tokyo Marathon, Berlin Marathon dan lainnya. Pemerintah pusat diharapkan ikut membantu mewujudkan harapan itu.

Bank Jateng sebagai main sponsor kegiatan itu, secara tegas berkomitmen untuk mengawal lomba lari internasional karena selama ini mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.

Ketua Yayasan BorMar, Liem Chie An, juga mengakui, tanpa kolaborasi bersama semua elemen, BorMar tidak bisa berkembang. Ke depan, dia ingin mendapat dukungan agar lebih baik lagi.

Respon positif dari pelari Tanah Air, internasional, pelaku ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Magelang terhadap even BorMar 2019 , membuatnya kian termotivasi.

“Saya juga berkeinginan ajang ini setara dengan Tokyo Marathon, Berlin Marathon, Boston Marathon dan lain sebagainya,” kata Ganjar.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Kemenpar, Rizki Handayani yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, BorMar merupakan even yang selalu ditunggu masyarakat. Tak hanya dalam negeri, peserta dari luar negeri juga selalu menantikan gelaran tahunan ini.

“Saya usul ke Pak Ganjar, bagaimana kalau ajang semacam ini digelar lima kali setahun. Soalnya ini ramai sekali dan mampu mendatangkan banyak wisatawan,” kata dia. SM/R-1

Cerita Kemanusiaan dan Cinta

Di sepanjang jalan, masyarakat menyambut para pelari dengan berbagai kesenian. Ada jaran kepang, tari barongan dan tari-tari tradisional lainnya. Ganjar pun beberapa kali menyempatkan menari dengan anak-anak dan mengajak para peserta lain untuk bergabung.

Ajang BorMar bukanlah perlombaan lari semata. Namun dalam acara itu, cerita-cerita tentang kemanusiaan dan cinta begitu kental terasa.

Ganjar menceritakan, saat lomba lari dirinya bertemu dengan seorang peserta yang berlari dengan mendorong kursi roda anaknya. Si anak yang menyandang disabilitas juga tampak begitu semangat mengikuti lomba.

Selain itu, ada juga empat perempuan pengidap kanker yang semangat mengikuti lomba. Keempatnya semangat untuk melawan penyakitnya itu dengan berlari.

“Itu hal yang sangat berkesan buat saya. Tidak hanya sekedar lari, namun Borobudur Marathon adalah cerita kemanusiaan dan cinta,” tegasnya. SM/R-1

Ada Spiderman dan Batman

Peserta BoMar dikejutkan dengan kehadiran Spiderman dan Batman sesaat sebelum start. Namun begitu bendera dikibarkan, dua superhero itu ternyata tidak ikut lari melainkan berjalan santai menuju rerumputan pelataran Candi Borobudur.

Begitu sampai, Spiderman dan Batman mulai beraksi. Keduanya memasang kanvas dan mulai menata cat warna-warni. Garis demi garis dia goreskan dan perlahan bentuk Arca Buddha Candi Borobudur mulai nampak. Ya, dua pria yang mengenakan kostum itu rupanya pelukis yang sehari-hari berkarya di sekitar Borobudur.

Easting Medi, salah satu seniman yang mengenakan kostum Spiderman, mengatakan, kemunculan para pelukis dengan kostum unik merupakan inisiatif pribadi. “Ya ini untuk merespon even yang sangat besar di lingkungan kami. Ikut nyengkuyung dengan cara kami,” kata Medi.

Selain menarik dengan keindahan lukisannya, para seniman juga beraksi dengan mengenakan kostum superhero. Spiderman, Batman, Zorro, Bajak Laut dan lainnya.

Atraksi unik para seniman mendapat apresiasi Ganjar Pranowo. Menurutnya, cara-cara seperti itulah yang berhasil membuat BorMar diingat para runner.

“Ternyata masyarakat memang menginginkan sesuatu dan suasana yang baru. Bukan hanya berlari tapi melihat pemandangan, ketemu sesuatu yang unik. Gimmick-gimmick seperti ini yang penting,” kata Ganjar.

Keunikan Borobudur ditambah pengemasan acara yang menarik membuat event Borobudur semakin istimewa. Tidak heran tahun ini pesertanya mencapai 11 ribu ditambah 350 pelari internasional dari 35 negara.

“Makin hari makin naik. Sekarang 35 negara ikut. Kita dorong lebih menarik maka harus promo ke Boston, Berlin, Tokyo dan lainnya yang sudah punya nama besar marathon,” katanya. SM/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment