Koran Jakarta | October 22 2018
No Comments

Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai

Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : The Book of Ikigai

Penulis : Ken Mogi, PhD

Penerbit : Noura Books

Cetakan : Pertama, Juni 2018

Tebal : 200 halaman

ISBN : 978-602-385-415-8

 

Salah satu cara agar sukses dengan menerapkan ikigai sehari-hari. Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Ini filosofi Jepang yang memberi motivasi, semangat, dan gairah menjalani hidup. Dengan ikigai, pembaca bisa menjalani hidup lebih menyenangkan, bisa terhindari dari stres agar meraih kesuksesan.

Dengan penjelasan yang terperinci dan mudah dipahami, buku The Book of Ikigai mencoba menunjukkan peran penting ikigai dalam meraih kesuksesan. Ada kisah-kisah inspiratif pelaku ikigai yang patut diteladani. Ada pilar-pilar yang harus diterapkan agar sukses.

Di antaranya, mengawali yang kecil seperti kebiasaan bangun pagi akan membuat orang selangkah di depan dari mereka yang terbiasa bangun siang. Jiro Ono, pemilik Sukibayasi Jiro, restoran sushi selalu bangun pagi agar bisa ke pasar untuk mendapat ikan terbaik. Dia juga tidak segan memijit daging gurita selama satu jam, agar hasilnya lebih lezat. Dia juga tidak segan membersihkan sisik dan usus ikan demi menghasilkan sushi terbaik (hal 7).

Kebiasaan sederhana merupakan salah satu kunci sukses yang mengangtarkan Jiro Ono, sebagai chef bintang tiga Michelin dan restorannya menjadi terbaik di dunia. Ada pula Hiroki Fujita yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji di Tokyo. Dia selalu bangun pagi agar bisa memperoleh tuna terbaik. Fujita menyadari seni memilih tuna itu sangat rumit.

Jika bangun terlambat, bisa jadi tidak mendapat tuna terbaik dan tidak memperoleh keuntungan. Di Jepang sendiri kebiasaan bangun pagi memang sudah menjadi tradisi sejak era Edo (1603-1868) ketika Jepang diperintah oleh Keshogunan Tokugawa. Hal ini demi meraih kesuksesan dalam bidang pertanian (hal 27).

Kemudian, membebaskan diri sendiri dengan tidak memedulikan definisi sosial baik pangkat atau profesi. Menurut Mihaly Csikzentmihalyi, psikolog Amerika kelahiran Hungaria, membebaskan diri sendiri berarti berada pada kondisi flow (mengalir). Orang tidak memerlukan pengakuan untuk hasil kerja atau yang telah dilakukan. Dia larut dalam aktivitas sehingga rasanya tidak ada yang lebih penting (hal 78).

Seperti Sei Shinagon yang nyaris tidak pernah merujuk posisinya di masyarakat dalam keseluruhan The Pillow Book. Padahal dia penulis cerita film tersebut. Hal itu juga berlaku bagi Jiro Ono yang tidak memedulikan posisinya sebagai seorang chef hebat. Terpenting, selalu menghasilkan sushi terbaik agar nikmat.

Keselarasan dan kesinambungan dalam menyesuaikan diri berbagai lingkungan masyarakat dan siap melanjutkan kebiasaan tersebut. Jepang memang kaya adat dan budaya seperti kebiasan minum teh dan olahraga sumo. Keselarasan dan kesinambungan merupakan etos terpenting dan unik dari cara berpikir masyarakat Jepang.

Sikap inilah yang dipertahankan Ono dalam menjalankan restorannya. Dia melestarikan salah satu makanan khas Jepang dengan sushinya hingga masih bertahan sampai sekarang.

Tak kalah penting menjalankan kegembiraaan akan hal-hal kecil dan hadir di tempat dan waktu sekarang. Semuanya saling melengkapi. Jika menerapkannya bisa meraih kesuksesan. Ikigai ini tak hanya bisa dimiliki orang Jepang. Setiap manusia juga bisa memiliki ikigai sendiri. Secara keseluruhan buku mengajarkan pembaca untuk menerima diri sendiri dalam sebuah pekerjaan. “Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri. Apa pun ciri-ciri unik yang mungkin dimiliki semenjak lahir” (hal 183).


Diresensi Ratnani Latifah, Lulusan Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment