Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments

Menyusuri Sungai Kahayan

Menyusuri Sungai Kahayan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rekreasi ke laut, alam pegunungan, atau menjelajah kota-kota mungkin sudah biasa. Mau menikmati pelancongan yang berbeda? Coba saja menyusuri Sungai Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Wisata susur kali ini menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan.

Lokasi ini dari Jakarta bisa ditempuh naik Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno Hatta lalu mendarat di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dari sini tak jauh. Naik mobil sekitar setengah jam menuju “Dermaga” atau lebih dikenal Tugu Soekarno. Para wisatawan dianjurkan, jauh sebelum tiba, sudah reservasi kapal agar bisa segera naik dari Tugu Soekarno.

Sungai Kahayan memiliki panjang 600 kilometer de­ngan lebar ada yang sampai setengah kilometer dengan kedalaman antara lima dan tujuh meter. Banyak kapal yang menyediakan jasa untuk perjalanan menyusur sungai Kahayan. Untuk kapal-kapal sedernaha yang diisi puluhan orang, setiap penumpang cu­kup membayar 10.000 rupiah. Ada kapal lebih besar dengan biaya sekitar 75.000 rupiah perorang.

Tetapi kalau rombongan satu keluarga/kenalan/ko­munitas lebih baik menyewa kapal wisata. Dengan kapal wisata perjalanan sangat nya­man dan benar-benar bisa menikmati pemandangan di kiri kanan sungai. Kapal wisata ada yang harga sewanya 10 juta sampai 15 juta rupiah. Kapal ini dilengkapi ruang bagian atas yang mewah dan ruang bawah. ada juga arena di buritan yang bisa memandang ke belakang.

Biasanya, pemilik kapal telah menyiapkan berbagai keperluan turis selama da­lam perjalanan, tergantung negosiasi. Biasanya disiapkan makanan, snack, minum­an, dan hidangan lain. Kapal sejenis ini dilengkapi toilet, ruang santai, tempat memasak, dan semacam “kafe” kecil.

Perjalanan dari dermaga Tugu Soekarno kapal ber­gerak ke arah “ujung” susur yang ada tempat semadi pahlawan nasional Cilik Riwut. Selama perjalan­an, di kiri kanan, turis bisa melihat dari kapal kehidup­an masyarakat Dayak yang menetap di pinggir sungai. Tempat tinggal atau rumah mereka berada di tepian atau pinggir sungai dengan sistem floating house. Me­reka menyebutnya sebagai rumah lating.

Jadi, rumah mereka mengikuti kondisi air, se­hingga tidak tenggelam. Kalau air pasang, rumah naik. Demikian juga saat sungai surut, rumah akan turun. Uniknya, “perkam­pungan” mereka memanjang atau berderet tanpa putus. Ra­ta-rata mereka beraktivitas di sungai baik mencuci, mandi, juga termasuk “kegiatan” lain. “Coba kalau rumah mereka ini ditata oleh pemerintah, tidak dibiarkan kumuh, bisa men­jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujar seorang turis asal Jakarta, Maria (61).

Di tengah perjalanan akan bersisipan dengan kapal-kapal wisata lain. Sebab cukup ba­nyak kapal susur sungai baik besar maupun kecil. Peman­dangan yang paling banyak dinanti adalah ulah lucu orangutan-orangutan yang kebanyakan masih muda. Mereka banyak muncul dari rerimbunan hutan untuk “me­nyapa” para turis.

Tentu saja para wisata­wan langsung mengeluarkan kamera atau telepon geng­gam untuk mengabadikan gerak-gerik orangutan yang menggemaskan, begitu meli­hat mereka muncul. Orang­utan-orangutan pun tampak menyambut gembira dengan naik turun pohon di pinggir-pinggir sungai. Ada juga yang mencoba turun, tetapi para wisatawan tetap aman karena cukup jauh jarak mereka de­ngan kapal.

Nakhoda sudah tahu lokasi berhenti untuk membiarkan pelancong “bercengkerama” dari jauh dengan primata yang mulai mengkhawatirkan eksistensinya lantaran banyak diburu manusia tak bertanggung jawab. Selain orangutan, di kiri kanan sungai juga dapat ditemui hewan lain seperti bekantan, uwa-uwa, kera abu-abu, biawak. Belakangan dikabarkan juga muncul binatang yang berbahaya, buaya. “Tetapi ini amat jarang ditemui. Semua aman-aman saja, tak perlu khawatir,” ujar seorang pemandu di kapal wisata, Indria (23). Menurut wanita kelahiran Sampit ini, selama dia memandu, belum ada kejadian diganggu buaya.

Semedi

Pahlawan Nasional Cilik Riwut oleh warga Palangkaraya dianggap memiliki kesaktian melebihi orang biasa. Hal ini bisa dimengerti karena Cilik Riwut termasuk orang yang “gemar” bersemadi. Yang paling terkenal sebagai tempat semadi adalah di Bukit Batu, Kabupaten Kasongan, Kalteng.

Di Bukit Batu tersebut, Cilik Riwut memiliki tempat khusus di antara bebatuan untuk bersemadi dan tidur. Namun di luar Bukit Batu, dipercaya juga bahwa di “ujung” susur Sungai Kahayan ini ada suatu tempat yang juga menjadi tempat Cilik Riwut bersemadi. Masih ada bekas-bekasnya, meski tidak terlau mencolok.

Namun, masyarakat setem­pat masih menghormati lokasi semedi tersebut, bahkan se­ngaja dipelihara agar tidak ru­sak dimakan waktu. Bentuknya sebuah rumah dari kayu, tidak terlalu besar. Namun, wisata­wan tidak bisa turun karena lokasinya jauh dari air.

Setelah sampai di “ujung” susur sungai ini, kapal bertolak untuk kembali ke Tugu Soekarno. Total perjalanan pergi dan kembali kira-kira tiga jam. wid/G-1

Tiang-tiang Tugu Soekarno

Bukan sekarang saja wacana me­mindahkan Ibu Kota Negara ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Namun, ternyata sudah jauh sebelum Indonesia memasuki Orde Baru. Pre­siden Soekarnolah yang telah meman­cangkan Palangkaraya untuk menjadi Ibu Kota Negara. Semangat membangun Palangkaraya sebagai bakal calon Ibu Kota Negara tersimpan dalam tiang-tiang di Tugu Soekarno.

Soekarno merintis Palangkaraya untuk persiapan menjadi Ibu Kota Negara dengan mencanangkan Provinsi Kalimantan Tengah dalam bentuk tiang-tiang di Tugu Soekarno. Pemancangan pada 17 Juli 1957 tersebut sekaligus awal membangun Kota Palangkaraya yang disiapkan menjadi Ibu Kota Kalteng dan kelak Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Maka, bila wisatawan hitung, akan ada 17 tiang di dalam kompleks Tugu Soekarno yang menandakan tanggal 17 Juli saat pencanangan. Angak 17 mung­kin juga sebagai yang keramat, dikaitkan dengan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus (1945). Tiang utamanya memiliki ketinggian sekitar enam meter. Pada ba­gian kaki (bawah) tertulis pahatan pem­bangunan pertama Kota Palangkaraya.

Di era Soekarno banyak kendala un­tuk memindahkan Ibu Kota Negara ke Palangkaraya seperti kekurangan sarana dan prasana, tiada gedung-gedung, transportasi, jalan, dan administrasi ne­gara. Sementara itu, sistem administrasi di Jakarta, kala itu, sudah berjalan saat digunakan Belanda sebagai pusat peme­rintahan dengan nama Batavia.

Namun, kini seiring padatnya Jakarta dan telah memungkinkannya membangun Palangkaraya sebagai Ibu Kota Negara, wacana pemindahan ibu kota tersebut sempat muncul kembali. Akan tetapi, belakangan wacana pemindahan tersebut kembali hilang ditelan bumi. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment