Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Menyusuri Lorong Bambu Petung Jepang

Menyusuri Lorong Bambu Petung Jepang
A   A   A   Pengaturan Font

Bambu-bambu makin kritis di negeri ini karena tidak dibudidayakan dengan baik. Bambu terbesar yang biasa disebut petung sudah sangat sulit dijumpai. Namun, di negeri Sakura, bambu petung terawat dengan amat baik, bahkan dikelola menjadi destinasi wisata yang moncer sampai ke mancanegara.

Pemerintah Jepang menanam bambu sangat teratur, sehingga membentuk gang-gang hidup yang berada di kiri-kanannya. Ribuan bambu petung berdiri rapi seperti di tujuan wisata Arashiyama, Kyoto, Jepang. Untuk sampai ke sini, wisatawan Indonesia dapat naik Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Osaka (Kansai International Airport). Kemudian, dilanjutkan naik kereta api ke Kyoto sekitar satu jam. Dari stasiun JR Kyoto lanjut naik kereta, kurang lebih 20 menit, dan turun di Stasiun Saga Arashiyama.

Karena tidak terlalu jauh, sebaiknya berjalan kaki dari Stasiun Saga menuju lokasi lorong bambu sambil menikmati keindahan Kota Arashiyama, walau banyak sewaan sepeda di kiri dan kanan jalan. Pertokoan yang memang menjadi khas Jepang juga menarik dan menambah asri karena berjajar di sepanjang jalan. Ada restoran-restoran kecil, pedagang makanan lokal, toko suvenir. Sangat nyaman berjalan kaki.

Tempat wisata yang memiliki nama resmi hutan bambu “Arashiyama Bamboo Grove” memang tampak terawat sekali. Untuk bisa menikmati hutan bambu atau sekadar memotret-motret lebih baik datang agak pagi. Sebab kalau sudah siang, terutama musim libur, suasana akan menjadi ramai sekali karena penuh manusia, sehingga tidak leluasa berfoto. Untuk menikmati suasana lokasi ini, pengunjung tidak dipungut biaya.

Menyusuri lorong bambu ini bisa menjadi sarana olahraga juga karena panjang mencapai sekitar setengah kilometer. Sepertinya, bambu sengaja tidak ditebang karena yang tua pun dibiarkan. Kebersihan Arashiyama Bamboo Grove juga sangat dijaga. Deretan bambu berdiri berjajar sangat rapi. Pinggir-pinggir gang dipagari dengan rumbai-rumbai yang digapit atau dijepit dengan belahan bambu.

Bahkan bambu-bambunya dibersihkan, sehingga tidak ada bekas-bekas katup pertumbuhan. Ini membuat ros-ros pohon tampak jelas. Tidak seperti di Indonesia, bambu mungkin jauh lebih komplit jenisnya, tetapi tidak dibentuk taman bambu seperti di Arashiyama ini. Barangkali taman Arashiyama tersebut bisa menjadi ide pemerintah daerah untuk membuat taman yang diisi berbagai jenis bambu dengan formasi seperti di Jepang tersebut. Sebab di Arashiyama ini jenis bambunya homogen.

Lokasi itu sudah cukup lama eksis, sejak abad kedelapan. Zaman dulu menjadi tempat bangsawan Jepang yang ingin mencari kesejukan dan berjalan-jalan dari area sekitar Nonomiya Shrine sampai taman Okochi-Sanso. Ketika ditiup angin, bambu-bambu tersebut saling bersenggolan atau gesekan, sehingga melahirkan suara denyit. Ini benar-benar suara alami yang diciptakan Tuhan melalui pohon-pohon yang menjulur tinggi.

Turis lokal Jepang kebanyakan mengunjungi Arashiyama Bamboo Forest pada musim bunga sakura dan musim gugur karena sungguh indah suguhan pemandangannya. Hal ini karena bersamaan dengan mulai mekarnya bunga sakura yang sangat menawan.

Malam Hari

Walaupun jalan-jalan pada siang hari sangat bagus, namun boleh juga melihat suasana malam harinya. Ada acara pada malam hari yang sungguh menakjubkan. Namun, hal ini terjadi pada bulan November–Desember atau akhir tahun. Ada sekitar 2.500 lampion yang dipasang di hutan bambu. Tentu saja warna lampu yang bersinar dari lampion melahirkan pemandangan malam yang luar biasa indah. Orang Jepang menamai acara ini night illumination atau cahaya malam.

Lampu-lampu yang diletakkan di bagian bawah selain memberi pencahayaan, juga menjadi penambah keindahan tersendiri. Sinar lampu dari lampion melahirkan pemandangan malam yang menawan. Suasana seperti ini sungguh romantik bagi mereka yang memadu kasih. Pada masa akhir tahun, memang pemerintah Kyoto menerangi jalan-jalan di Arashiyama untuk memberi sungguhan pencahayaan menakjubkan bagi para wisatawan.

Setelah puas menikmati dan memandangi pohon bambu, pelancong juga bisa bergeser ke jembatan Togetsukyo. Dari jembatan ini wisatawan dapat berfoto dengan latar belakang bukit Arash. Jika lagi musim berbunga, tumbuhan di bukit tersebut sungguh elok untuk dijadikan sebagai latar belakang karena dedaunannya berwarna-warni.

Jembatan ini dulu menjadi sarana masyarakat menuju ke Kuil Horinji. Maka, tak heran sampai sekarang kadang orang setempat juga menyebutnya sebagai jembatan Horinji. Pada malam setiap November–Desember dari jembatan ini juga bisa memperoleh pemandangan luar biasa, apalagi ketika air sungai di bawahnya penuh, bisa menjadi tambahan siluet tersendiri. wid/G-1

Bukit “Spot” Warna-warni

Para wisatawan yang mengagumi Jepang tentu paham betul masa-masa paling mengesan untuk berkunjung, termasuk ke Arashiyama ini. Salah satunya adalah bulan depan. Pada bulan April banyak turis berkunjung ke Arashiyama yang merupakan salah satu tempat bunga sakura mekar lebih awal dari daerah lain.

Sakura menjadi unggulan negeri Jepang untuk mengundang wisatawan mancanegara. Kemunculan bunga yang elok ini tak hanya ditunggu-tungguh orang Jepang, tetapi juga warga asing. Turis luar negeri kebanyakan ingin menyaksikan langsung keindahan masa-masa mekar bunga sakura. Bahkan, orang Jepang sendiri selalu menanti-nanti musim mekar sakura.

Selama bulan April dari awal sampai akhir, masyarakat dipuaskan untuk menikmati bunga sakura di Arashiyama. Acara melihat dan menikmati bunga sakura oleh orang Jepang disebut hanami. Di samping itu, masa-masa ini juga menjadi waktu perubahan warna dedaunan pohon sakura gunung (yamazakura) dari hijau menjadi merah kecokelatan. Warga setempat menyebut perubahan warna ini sebagai masa kouyou.

Di Asashiyama, ada perbukitan yang ditumbuhi pohon berwarna-warni yang didominasi kemerahan. Dialah bukit Arashi (Arashiyama) yang berada di atas Sungai Oi, dan pada musim ini menghadirkan pemandangan menakjubkan karena warna dedaunan yang kemerah-merahan, kuning, hijau, dan sebagainya. Bukit ini seolah menjadi gunung pot berisi bunga-bunga indah yang warna-warni.

Banyak tradisi dan budaya Jepang digelar pada musim sakura. Mereka menggelar perayaan dan festival sepanjang bulan bunga mekar. Masih ada waktu bagi wisatawan Indonesia yang akan menikmati keindahan bunga sakura. Segera siapkan perjalanan karena waktunya sudah mepet, namun masih bisa terjangkau. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment