Menyemai Karakter sejak Dini | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Menyemai Karakter sejak Dini

Menyemai Karakter sejak Dini

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pendidikan Karakter Era Milenial
Penulis : Ir Hendarman, MS c, PhD
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya
Cetakan : 2019
Tebal : 224
ISBN : 978-620-446-365-6

Era milenial ini, pendidikan tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses masyarakat tertentu. Fasilitas, sarana, prasarana, dan bantuan biaya pendidikan (beasiswa) bisa dinikmati semua kalangan. Akses pendidikan pun tak sebatas hanya sekolah dasar, namun sudah sampai taraf sarjana, magister, hingga doktoral.

Kemudahan-kemudahan inilah yang akan membangun manusia-manusia cerdas berkualitas unggul. Mereka memiliki pola pikir terbuka, kritis, berani adu gagasan, kreatif, dan inovatif, didukung kemajuan teknologi, membuat percepatan kemandirian dalam berbagai aspek.

Dalam rangka mewujudkan pembangunan manusia tersebut, perlu upaya terus meningkatkan kualitas belajar, membumikan budaya membaca, dan memelihara kesehatan lingkungan. Selain itu, tidak kalah penting perlu pendidikan karakter berkepribadian dan berbudi luhur. Akan sia-sia jika ada manusia cerdas, namun tak berkarakter.

Seiring maraknya kasus kekerasan, pelecehan ataupun perundungan di instansi pendidikan, baik sesama siswa, guru dengan siswa maupun siswa terhadap guru membuka pertanyaan-pertanyaan lain. Bagaimana mungkin pendidikan bisa memunculkan generasi berkarakter unggul jika diwarnai aksi demikian.

Seharusnya, pendidikan bukan semata-mata berfungsi sebagai alat penyalur ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendorong perkembangan nilai luhur, dasar karakter yang baik. Watak dimaknai adalah keunggulan moral sebagai penggerak utama seseorang saat akan melakukan tindakan. Watak bukanlah sesuatu yang begitu saja ada dan tumbuh dalam diri seseorang, melainkan harus dibangun selama menjalani kehidupan (hlm 15).

Maka, menyemai karakter sejak dini perlu dilakukan. Lingkup terkecil dan terdekat seperti keluarga menjadi tempat menentukan bagi pembangunan karakter anak. Orang tua memiliki peran paling sentral agar seorang anak bertumbuh. Tidak dapat dipungkiri, keluarga adalah lembaga pendidikan terpenting dalam proses penumbuhan karakter seorang anak.

Badan Standar Nasional Pendidikan menyebut empat aspek yang harus dilakukan dalam pembentukan watak atau karakter. Pertama, perhatian sisi emosi peserta didik, seperti menghargai diri sendiri, kemampuan berempati, menahan diri, dan rendah hati. Kedua, meningkatkan kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi. Ketiga, menguatkan niat dan menghimpun tenaga untuk melaksanakan prinsip-prinsip luhur dalam kehidupan nyata. Terakhir, pembiasaan pengembangan sikap untuk merespons berbagai situasi dengan baik (hlm 17).

Artinya, lembaga pendidikan bukan hanya mencetak insan cerdas secara akademis, tetapi harus dibarengi dengan karakter yang baik. Meskipun tidak dapat dinafikan, pembentukan karakter seyogianya melibatkan semua pihak: keluarga, sekolah, dan lingkungan lebih luas. Namun, fondasi awal pembentukan karakter dimulai sejak dini dari keluarga. Dengan begitu, pendidikan karakter di sekolah mudah terserap dan teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendidikan karakter dapat dibentuk nilai-nilai respek terhadap hak-hak setiap individu, taat hukum, berperan serta secara sukarela dalam kehidupan bermasyarakat, dan peduli lingkungan (hlm 20). Buku menjabarkan materi cukup detail mengenai pendidikan karakter disertai contoh riil dalam masyarakat sampai teori-teori yang dikutip dari beberapa sumber.

Buku ini sangat layak dibaca untuk semua kalangan karena relevan dengan zaman sekarang. Percepatan teknologi informasi di segala bidang memang harus diimbangi dengan pendidikan karakter yang baik sejak dini. 

Diresensi Nina Fitriani, Mahasiswi IAIN Pekalongan

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment