Koran Jakarta | July 21 2018
No Comments

Menyampaikan Kebenaran Firman Allah dengan Cerita Lisan

Menyampaikan Kebenaran Firman Allah dengan Cerita Lisan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul       : Truth That Sticks: Kebenaran yang Melekat
Penulis    : Avery T Willis JR dan Mark Snowden
Penerbit  : Katalis
Cetakan  : 2017
Tebal      : xi + 286 halaman
ISBN      : 978–602- 60297-3-7

Kemajuan teknologi informasi (TI) di satu sisi menyediakan beragam fasilitas ilmu pengetahuan yang sangat mudah, murah, dan cepat. Namun di bagian lain, menjadikan manusia kesulitan fokus untuk mengingat satu informasi karena dalam hitungan detik hadir selaksa keterangan lain.

Koran New York Times saja setiap pekan memuat lebih banyak informasi dibanding yang dijumpai seorang dari abad 18, seumur hidup. Padahal, di dunia ada jutaan koran yang bisa diakses siapa saja lewat jejaring TI. Pesan iklan pertama kali diluncurkan tahun 1992, saat ini dalam sehari jumlahnya melebihi angka manusia sedunia.

Perkembangan tersebut seiring dengan bertambahnya bahasa, informasi teknis, dan lain sebagainya. Manusia dengan sarana TI setiap saat dibombardir jutaan informasi. “Kita hidup di dunia Teflon yang membuat informasi menggelinding di otak bagaikan tetesan air di mobil BMW yang baru dipoles,” kata Avery T Willis JR dan Maek Snowden, penulis buku ini (hlm 26).

Lalu, bagaimana kebenaran Firman Allah bisa diingat umat jika benak setiap saat kebanjiran informasi? Bagaimana Firman Tuhan bisa diyakini bila setiap saat lebih fokus memburu gugusan informasi, entah penting atau tidak, salah atau benar. Bahkan, mereka tidak hirau yang perlu diingat atau diabaikan.

Penulis buku ini lalu menyajikan Firman Allah lewat cerita lisan. Ini sudah dilakukan bertahun-tahun di berbagai kesempatan di banyak negara dan sukses. Banyak umat mudah mengingat pesan yang disampaikan. Formula tersebut berangkat dari fakta pengaruh teknologi tadi, kecenderungan masyarakat, dan kekuatan yang tersimpan dalam cerita. “Cerita itu memiliki kekuatan. Cerita menggugah imajinasi, dan siap diulang-ulang,“ kata Dr Felicity, Pemimpin Gereja Rumah (hlm vi).

Separuh orang dewasa di Amerika hanya bisa membaca bahan cetakan paling dasar. Hanya sepertiga penduduk pembaca cakap karena lulusan perguruan tinggi. Kendati demikian, secara umum, mereka lebih peka mendengarkan secara lisan. Lebihlebih generasi milenial.

Dengan kata lain, negara-negara selain Amerika sepeti Indonesia dengan tingkat literasi jauh di bawah, lebih layak lagi menggunakan teknik cerita lisan dalam menyampaikan Firman Allah. Hal demikian pernah diaplikasikan pada suku Mouk di Papua Nugini dengan hasil menggembirakan. “Orang Mouk begitu asyik mendengarkan cerita-cerita dan maknanya. Mereka sampai lupa makan dan tidur. Mereka memanfaatkan setiap bangun untuk membicarakan pesan dan mendengarkannya berulang-ulang,” kata penulis buku ini (hlm 39).

Pada dasarnya, terobosan buku ini tidak baru. Ribuan tahun lalu, Yesus sudah melakukannya. Bahkan, Allah sendiri menyampaikan Firman-Nya lewat cerita. Lebih dari separuh isi Alkitab berupa cerita. Allah sudah menuliskan sedemikian rupa sehingga 90 persen lebih orang-orang pada zaman Alkitab yang bukan pembaca, dapat mengingatnya.

Metode buku ini hanya mencontoh dan memodifikasi sesuai dengan zaman serta dilengkapi sarana mutakhir yang lebih audible, visible, dan touchable. “Bercerita yang kami maksudkan di sini adalah seluruh proses komunikasi lisan dan visual yang meliputi presentasi narasi, dialog, interpretasi, aplikasi, drama, sserta lagu,” kata penulis buku ini (hlm 11).

Dengan gaya penyampaian naratif, Firman Allah terasa sederhana sehingga mudah dipahami, penuh kejutan, konkret sehingga bisa diindera seluruh anggota badan, kredibel, serta melibatkan perasaan.  Diresensi Redy Ismanto, Mahasiswa Pascasarjana Unesa Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment