Menumbuhkan Rasa Senang Belajar pada Anak | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 15 2020
No Comments
PERADA

Menumbuhkan Rasa Senang Belajar pada Anak

Menumbuhkan Rasa Senang Belajar pada Anak

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Banyak yang menganggap belajar itu membosankan dan tidak menyenangkan. Wajar, bila banyak anak tidak senang belajar. Padahal, belajar dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan bila dilakukan dengan cara yang tepat. Di sekolah, guru memiliki peranan penting mengubah persepsi itu. Salah satu caranya dengan bertransformasi menjadi guru yang tidak kaku.

Pendidik yang kaku, tidak banyak disukai siswa. Mereka akan takut, tertekan, dan terkekang selama pembelajaran. Ini menyebabkan pembelajaran tidak berjalan maksimal. Buntutnya, prestasi belajar siswa rendah. Apalagi di era seperti saat ini, pendidik demikian sudah tidak relevan lagi. Guru yang kreatif lebih disukai, sehingga suasana belajar rileks dan nyaman.

Pendidik yang kreatif akan dirindukan murid (hal 179). Banyak kejutan yang selalu dibawa ke ruang kelas, sehingga siswa selalu penasaran. Ia mampu memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah menjadi sarana, media, bahkan metode pembelajaran. Guru juga mampu membuat pelajaran yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami.

Buku ini dapat menjadi panduan pendidik yang ingin bertransformasi menjadi guru kreatif. Uraian mengenai berbagai metode pembelajaran masa kini, ditulis lengkap beserta langkah pelaksanaan dan manfaatnya. Ulasan metode pembelajaran dibagi tiga bagian besar. Bagian pertama, penjelasan mengenai cara belajar dari lingkungan.

Pada bagian ini, buku menjabarkan banyak opsi kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan lingkungan sekolah. Selain akan membuat pembelajaran menyenangkan dan tidak monoton, anak juga dapat belajar tentang pendidikan karakter. Bagian kedua, belajar menggunakan teknologi.

Guru dapat memanfaatkan teknologi setiap kali tatap muka, seperti Edmodo, media sosial, Quipper, Telegram, dan berbagai media edukatif lainnya. Namun, dalam pelaksanaannya diperlukan kesiapan sarana dan prasarana, serta bimbingan yang ketat oleh pendidik agar tujuan pembelajaran tercapai.

Pembelajaran kreatif merupakan bagian ketiga. Isinya, siswa diajak belajar dengan cara yang menyenangkan dan menuntut pemikiran kritis. Pendidik dapat menerapkan prinsip belajar sambil bermain. Jadi, pelajaran tak melulu seputar kegiatan kognitif. Anak juga diajak bermain dengan otak kanan. Kreativitas, kerja sama, dan rasa percaya diri dapat dilatih menggunakan metode ini.

Dengan demikian, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak dapat berkembang baik. Adapun contoh metode pembelajaran kreatif antara lain mind mapping, turn back book, who am I, kartu berpasangan, dan lainnya.

Metode pembelajaran tadi sesuai dengan konsep abad 21 yang menganut prinsip model mengarahkan dan mengajak peserta didik untuk memiliki kecakapan 4C: communicative, collaborative, critical, dan creativity (hal 21). Pembelajaran abad 21 ini diharapkan melahirkan guru kreatif yang memiliki kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi yang baik serta menjadi teladan bagi murid.

Mereka akan membentuk peserta didik berbudi luhur dan mampu berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah (hal 32). Maka, pendidik harus kreatif. Setiap hari, guru harus mendesain pembelajaran yang berbeda.

Kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan karakteristik siswa dan konsep pembelajaran terbaru. Pembelajaran yang menarik akan membuat anak antusias dan senang belajar, sehingga kelak akan menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. 

 

Diresensi Wening Niki Yuntari, Mahasiswi UNY

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment