Menumbuhkan Mitokondria Penghasil Energi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Olahraga Lari

Menumbuhkan Mitokondria Penghasil Energi

Menumbuhkan Mitokondria Penghasil Energi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Lari masih menjadi olahraga yang disukai banyak orang. Lihat saja berbagai lomba lari terus diadakan untuk wadah berkumpul, bersenang-senang, dan untuk merealisasikan misi ‘kesehatan’ diri.

Lari adalah olahraga paling mu­rah dan mudah dilakukan. Dan kini kegiatan fisik tersebut se­dang tren dan menjadi bagian gaya hidup kaum urban. Selepas lelah bekerja, lari pasti menjadi salah satu kegiatan umum dilakukan, khususnya di pusat kota.

Lari, menurut Jordan Metzl, Instruk­tur Kebugaran, dari Universitas Cornell merupakan olahraga yang paling efisien.

Meskipun tidak bisa dipastikan pengaruhnya dalam penurunan berat badan, beberapa penelitian menunjuk­kan lari lebih efektif daripada berjalan. Secara keseluruhan, pelari reguler memiliki risiko 30 persen lebih rendah meninggal akibat penyakit jantung se­lama periode 15 tahun. Hal itu diung­kap dalam studi besar yang melibatkan lebih dari 55 ribu orang.

“Dengan berlari, fungsi endotel pada tubuh akan lebih baik. Berlari mendo­rong tubuh untuk memproduksi lebih banyak nitric oxide, vasodilator yang kuat. Semakin banyak berlari, semakin banyak mitokondria penghasil energi yang tumbuh di dalam sel,” terang Jordan.

Perlu diketahui mitokondria memainkan peran penting dalam membantu tubuh mengubah glukosa menjadi energi, sebagian mengatur sekresi hormon insulin. Jadi artinya tu­buh akan semakin baik mengatur gula darah, dan ini baik untuk menangkal risiko diabetes tipe 2.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Contemporary Clinical Trials menunjukkan bahwa lari setida­knya tiga kali sepekan dapat mengurangi nyeri haid. Selain itu, dalam jangka panjang rutin lari juga dapat meningkat­kan kualitas hidup seseorang.

Untuk memperoleh kesimpulan itu, penelitian ini melibatkan 70 wanita beru­sia 18 hingga 43 tahun, semua peserta merupakan pengidap dismenore, istilah medis untuk periode menstruasi yang menyakitkan. Para peneliti juga men­gawasi kegiatan lari peserta selama satu bulan. Kemudian peserta melanjutkan lari menggunakan treadmill di rumah masing-masing selama enam bulan.

Hasilnya, para wanita yang mengiku­ti program olahraga selama empat bu­lan berkurang nyeri haidnya sebanyak enam persen. Sementara mereka yang melanjutkan program selama enam bulan memperkirakan bahwa rasa nyeri haidnya telah berkurang sebesar 22 persen. Manfaat lainnya mereka juga merasakan peningkatan kualitas hidup dan kinerja sepanjang harinya.

“Uji coba ini menunjukkan bahwa olahraga lari secara signifikan mengu­rangi nyeri haid. Peserta juga mel­aporkan penurunan tingkat rasa sakit setelah empat dan tujuh bulan,” kata Leica Claydon-Mueller, dosen senior di Anglia Ruskin University di Inggris.

Namun menurut Claydon, karena penelitian ini memiliki ukuran sampel yang kecil, penelitian lebih lanjut pada skala yang lebih besar diperlukan. Studi lanjutan dibutuhkan untuk membangun bukti klinis yang lebih kuat tentang man­faat lari untuk nyeri haid. ima/R-1

Menjadi Gaya Hidup

Kini jika berbicara lari, pasti kita sepakat jika mengkategorikan olahraga ini menjadi gaya hidup. Bisa dibayangkan, hampir setiap malam, selepas jam pulang kerja ada saja perorangan, kelompok sampai komuni­tas menggelar lari bareng.

Bahkan ajang kompetisi lari marak digelar, dan selalu mendapat respon dari pecinta olah­raga ini. Salah satu kompetisi yang akan digelar ialah London School of Public Relations (LSPR) Run di kawasan car free day (CFD), yang akan berlangsung pada 14 Juli 2019. Lomba yang digelar oleh LSPR Jakarta menargetkan akan menarik tidak kurang dari 1.000 peserta dan berhadiah total 270 juta rupiah.

Tunggul Siahaan, Ketua Pelaksana LSPR Run yang juga Dosen LSPR Jakarta mengatakan, even ini adalah kegiatan lari pertama yang digelar LSPR, yang dikelola langsung oleh mahasiswa semester enam mata kuliah Managing Event, jurusan Marketing Communication bersama Race Management yang memang sudah piawai menangani even lari berskala besar, yakni deb­rads Race Management.

“Even lari ini berjarak 5K, yang akan men­gambil rute FX Sudirman, Bunderan Semanggi, dan kembali lagi ke FX Sudirman,” kata Pico dari debrads Race Management.

Tak hanya lari, pada even tersebut, diung­kapkan Tunggul, LSPR juga akan menghadirkan sejumlah hiburan. Di antaranya, entertain­ment yang dibawakan oleh mahasiswa maupun alumni, serta penampilan JKT 48. ima/R-1

Segudang Manfaat

Banyak jurnal dan catatan medis soal manfaat olahraga lari. Tak hanya bagus untuk jantung, lari memiliki dampak baik juga untuk kesehatan fisik dan mental, berikut ulasannya.

Penawar Depresi

Sebuah studi pada 2013 yang diterbitkan dalam Kedokteran & Science in Sports & Exercise me­nunjukkan bahwa aktivitas fisik bertindak sebagai alternatif yang efektif untuk mengobati depresi. Akan lebih baik lagi jika dikombi­nasikan dengan meditasi.

Mendorong Kinerja Otak

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di London Journal of Physiology menunjukkan bahwa berlari dapat membantu Anda mengembangkan keuntungan kog­nitif besar. Menjalankan, mengak­tivasi, dan meningkatkan cadan­gan neuron dalam otak manusia, yang merupakan pusat kapasitas otak untuk belajar.

Kemudian menurut sebuah studi lain yang dipubikasikan pada 2014 di University of British Columbia menunjukkan bahwa latihan aerobik teratur atau jenis yang bisa meningkatkan detak jan­tung dan membuat Anda berkerin­gat, seperti berlari, dapat me­ningkatkan ukuran hippocampus atau area otak yang terlibat dalam memori verbal dan pembelajaran. Lari juga bisa menangkal gejala penyakit Alzheimer.

Menjaga Kesehatan Lutut

Berlari bukan sekadar memba­kar lemak dalam tubuh, tapi juga dapat benar-benar membantu mas­sa peningkatan tulang dan dapat memperlambat pengeroposan tulang yang berkaitan dengan usia.

Menyembuhkan insomnia

Selain mampu menghilangkan stres, hormon endorfin yang di­dapat ketika lari juga bisa menyembuhkan insomnia alias susah tidur. Beberapa pemicu insomnia adalah gangguan emosional seperti depre­si, gelisah, stres, tertekan, maupun rasa cemas. Dengan produksi en­dorfin yang meningkat setelah lari, gangguan emosional yang Anda rasakan berangsur-angsur akan berkurang dan menurun.

Meningkatkan Fungsi Organ Tubuh

Lari secara rutin akan menguat­kan jantung, menambah jumlah kapiler serta sel-sel darah merah dalam tubuh. Jantung yang terlatih akan memompa jumlah darah yang lebih besar per siklus. Saat aliran darah meningkat, konsumsi oksigen juga akan meningkat. Membiasakan diri berlari secara rutin akan mem­berikan efek positif pada tulang dan sendi-sendi dalam tubuh. Manfaat olahraga lari juga berlaku bagi orang yang berusia lanjut karena mencegah penyakit sendi degen­eratif atau ostearthritis. ima/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment