Menumbuhkan Gerakan Sadar Lingkungan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Menumbuhkan Gerakan Sadar Lingkungan

Menumbuhkan Gerakan Sadar Lingkungan

Foto : FOTO-FOTO/dok seasoldier
A   A   A   Pengaturan Font

Upaya menjaga lingkungan menjadi semacam darurat untuk dilakukan di segala lapisan masyarakat.

 

Sampah, penebangan pohon, hingga penggunaan satwa untuk atraksi komersil, menjadi beberapa masalah lingkungan yang tak kunjung usai. Gerakan sadar lingkungan terus didengungkan untuk mencegah makin meluasnya kerusakan alam.

Seasoldier menjadi gerakan ramah lingkungan yang berkomitmen pada diri sendiri untuk meminimalkan kerusakan alam. Gerakan ini menegaskan perlunya komitmen diri. Hal ini sebagai amunisi untuk menjaga lingkungan.

Dengan komitemen, maka perilaku yang sekiranya dapat merusak lingkungan akan dapat dikontrol. Misalnya, meminimalkan penggunaan plastik. Alhasil, penggunaan plastik lambat laun dapat dikendalikan bahkan menular pada lingkungan sekitaranya.

“Supaya kalau berbicara lingkungan tidak terlalu berat,” ujar Dinni Septianingrung, Co Founder Seasoldier tentang komitmen diri saat ditemui di Pantai Marunda, Jakarta Utara. Yang utama, masyarakat telah memiliki kebiasaan menjaga lingkungan sekitar.

Pasalnya, masalah lingkungan bukan sekadar isapan jempol semata. Masalah ini telah berkembang cukup serius mengingat rusaknya sejumlah lingkungan ditambah jumlah sampah yang semakin hari semakin menggunung. Upaya menjaga lingkungan menjadi semacam darurat untuk dilakukan di segala lapisan masyarakat.

Menjaga lingkungan dengan sekadar mengampanyekan tidak menggunakan sedotan plastik, meminimalisir penggunaan plastik, hemat energi menjadi langkah awal untuk menjaga lingkungan. Cara-cara tersebut merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan semua kalangan.

Dalam kegiatannya, Seasoldier memiliki empat program utama, yaitu Bersihkan Warungku, Penanaman Mangrove, Penanaman Pohon dan Dolpine Soldier. Program keempat, Dolpine Soldier dilakukan dengan kampanye di sekolah-sekolah lantaran Seasoldier melihat banyaknya lumba-lumba yang masih digunakan sebagai hewan atraksi dalam sirkus.

Di sekolah-sekolah, mereka mengkampanyekan stop buying ticket dan diharapkan masyarakat tidak menonton atraksi tersebut. Di sampaing program utama tersebut, Seasoldier yang telah berkembang di 14 kota di Indonesia.

Komunitas ini memiliki program sesuai dengan isu yang berkembang di setiap daerah. Seperti di Manado, masalah lingkungannya terkait dengan terumbu karang maupun reklamasi. Di Bandung memiliki masalah yang berbeda. Penanaman bambu menjadi persoalan di daerah tersebut lantaran setelah pohon bambu ditebang tidak selalu diikuti dengan penanaman kembali.

#seasoldier menjadi senjata untuk “mengamankan” lingkungan dari kerusakan. Melalui hastag tersebut membuat semua orang dapat berpartisipasi maupun menyebarkan virus menjaga lingkungan. Upaya yang tidak terlalu besar ini diharapkan dapat menyadarkan semua kalangan untuk tidak “sewenangwenang terhadap lingkungan sekitarnya”.

Saat ini, banyak anak muda yang tergabung dalam gerakan tersebut. Semula, Dinni dan Nadine Chandrawinata, Founder Seasoldier serta publik figur tidak menyangka bahwa gerakan yang dilakukan akan mendapatkan tanggapan yang positif. “Awalnya, kami pesimis,” ujar dia tentang gerakan yang berdiri sekitar lima tahun yang lalu.

Dinni yang pernah tergabung dalam seribu guru dan berkunjung ke daerah serta Nadine sebagai penyelam dan publik figure, keduanya bergerak untuk mengkampanyekan menjaga lingkungan. Tahun kemarin, gerakan telah menjadi foundation sehingga memudahkan untuk melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. din/E-6

Perlunya Mengelola Sampah agar Bernilai Ekonomis

Siapa sangka, aktifitas sehari-hari tanpa mengindahkan lingkungan menjadi pemicu kerusakan alam. Penggunaan barang yang menimbulkan sampah maupun sampah yang tidak dikelola tanpa terasa menyebabkan lingkungan menjadi terganggu.

Sekilas, sampah rumah tangga tertangani saat petugas mengangkut sampah dari tong sampah. Padahal, sampah tak sepenuhnya tertangani. Karena, sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lambat laun, TPA pun tidak sanggup menampung sampah yang datang setiap hari.

TPA Bantar Gebang, misalnya, telah kelebihan muatan untuk menampung sampah. “Pada 2021 nanti, Bantar Gebang akan ditutup,” ujar Dinni. Daerah Tangerang menjadi kawasan lain yang digadanggadang akan menjadi TPA pengganti.

Dalam jangka pendek, penggantian kawasan TPA akan membantu masyarakat dalam membuang sampah. Namun lama-kelamaan, Tangerang pun akan bernasib sama dengan Bantar Gebang kalau pembuangan sampah tidak dikendalikan maupun sampah tidak dikelola menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Laut tidak berbeda dengan TPA, laut yang tidak dihuni seolah-olah menjadi tempat pembuang sampah. Sejumalah sampah tersebar di lautan. Plastik merupakan sampah yang paling banyak di tempat tersebut. Ternyata, sampah yang terdapat di laut tidak hanya berasal dari laut.

“Sebanyak 80 sampai 90 persen, sampah di laut berasal dari daratan,” ujar Dinni. Sehingga penyadaran masyarakat terhadap sampah sangat mendesak. Lantaran, sampah dapat merusak lingkungan di hulu maupun di hilir. Meminimalkan sampah dan mengelola sampah menjadi salah satu pengendali lantara manusia tidak dapat menghentikan produksi sampah. din/E-6

Saatnya Bijaksana Menggunakan Plastik

Upaya mengurangi sampah harus menjadi gaya hidup. Selain mengurangi tumpukkan sampah di TPA dan menjaga lingkungan, sampah dari daratan akan berakhir di lautan terbawa aliran sungai.

“Sampah itu dari hulu ke hilir, Jadi orang bukan buang sampah ke laut tapi orang buang sampah ke sungai, dari hulu akan berakhir di laut,” ujar Hamdan Uje, 26, anggota Seasoldier yang di temui di Pantai Marunda, Minggu (24/11). Artinya, mengurangi sampah di laut bukan hanya tidak membuang sampah di laut melainkan harus mengurangi sampah di daratan.

Pasalnya jika hanya membuang sampah di tempat sampah, upaya tersebut masih dapat menimbulkan sampah di bagian hilir. Sampah yang tertampung di tempat sampah tidak menutup kemungkinan akan terbuang ke lautan secara tidak sengaja maupun sengaja.

Hamdan menyadari untuk meniadakan sampah merupakan hal yang tidak mudah. Yang, ia lakukan adalah mengurani jumlah sampah yang terbuang. ”Minimal, kita bijak menggunakan sampah plastik,” ujar laki-laki yang berprofesi sebagai fotografer wedding ini. Karena, jenis sampah tersebutlah yang sering ditemukan di laut.

Seperti saat nongkrong bersama teman-temannya, Hamdan memilih tidak menggunakan sedotan platik saat memesan minuman. Semula, teman-temannya tidak tanggap atas alasannya. Namun lambat laun, merekapun ikut tergerak. Mengingat, minum dengan sedotan yang hanya memakan waktu setengah jam dapat menyumbangkan sampah yang sulit terurai hingga ribuan tahun.

Rina Elfitasari Siahaan, 26 memilih mengubah gaya hidup untuk menjaga kelestarian lingkungan. Wanita yang senang menyelam ini dihadapkan kenyatan bahwa pantai di Kepulauan Seribu banyak bertumpuk sampah.”Karena, sampah daratan bermuara di lautan, terbawa arus,” ujar dia.

Sebagai seorang diver, ia sangat miris melihat kondisi laut yang kotor. Setiap menyelam di sekitar Kepulauan Pramuka, bukan pemandangan indah yang dilihatnya melainkan sampah yang melayang di air.

Untuk menjaga lingkungan, beberapa tahun terakhir, dia telah mengubah gaya hidupnya untuk dengan meminimalkan sampah, caranya seperti membawa tumbler sebagai tempat minum. Saat berkumpul dengan komunitas diving, mereka lebih memilih membeli makanan pada penduduk setempat yang menyajikan dengan piring dan sendok ketimbang membawa makanan dari Jakarta menggunakan kemasan.

Diakuinya, perubahan gaya hidup tersebut tidak mudah namun perlu dimulai dan dibiasakan. Lambat laun, perubahan gaya hidup minim sampah akan menjadi kebiasaan.

Masyarakat juga harus diedukasi bahwa dirinya sendiri wajib risi setiap menggunakan barang yang menghasilakn sampah. Rina mengaku saat ini sudah sepatutnya merasa risi jika menggunakan barang yang dapat menghasilkan sampah. “Sudah,” jawabnya singkat. din/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment