Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments

Menuju Puncak “Pakuning Tanah Jawa”

Menuju Puncak “Pakuning Tanah Jawa”

Foto : koran jakarta/ALOYSIUS WIDIYATMAKA
A   A   A   Pengaturan Font

Masyarakat Indonesia mengeklaim kaum religius, meski di mana-mana terus saja terjadi tindak barbar: perusakan, pembakaran, dan pembunuhan yang jauh dari sikap orang ber- Tuhan. Namun, dalam sejarahnya, penduduk negeri ini juga memiliki banyak sekali mitos, seperti Gunung Tidar, Magelang, Jateng.

Meski orang Magelang menyebutnya Gunung Tidar, senyatanya kawasan ini hanya­lah perbukitan dengan ketinggian 503 meter di atas permukaan laut. Orang setempat tidak tahu se­tiap ditanya Bukit Tidar. “Oooo… Gunung Tidar,” ujar seorang sopir angkot, Sudarman (60). Dia tidak tahu ketika diminta mengantar ke Bukit Tidar. Begitu, diluruskan, ke Gunung Tidar, dia lalu menjawab kalimat tersebut. Gunung Tidar sungguh bisa menjadi paru-paru Kota Magelang yang kebetulan ber­ada di tengah kota.

Hutan Gunung Tidar bisa men­jadi paru-paru kota karena “dihuni” begitu banyak jenis pepohonan yang tinggi-tinggi seperti pinus, kolang-kaling, dan cemara. Ada juga pepohonan kecil seperti salak. Kelebatan hutan tersebut merupa­kan buah reboisasi yang dilaku­kan tahun enam puluhan. Hutan lebatnya bisa menyerap polusi kota modern.

Gunung Tidar sekarang memang lebih diperkenalkan sebagai wisata spiritual karena begitu banyak­nya mitologi yang melingkupinya. Salah satu mitologi Gunung Tidar diceritakan bahwa dulu kala tanah Jawa terus terombang-ambing di tengah samudera. Maka agar tanah Jawa tidak ditelan lautan, dewa me­masang paku besar yang kelak ber­nama Gunung Tidar. Maka orang menyebut Gunung Tidar adalah “Pakuning Tanah Jawa” (paku tanah Jawa). Sejah dipaku dengan Gu­nung Tidar, Jawa menjadi tenang dan tak lagi diombang-ambingkan samudera.

“Maka masyarakat di sekitar Gunung Tidar tidak ada yang be­rani membuat sumur karena akan meluap seperti samudera lagi,” kata Sudarman. Sampai sekarang me­mang tidak ada sumur di seputaran Gunung Tidar. “Tak ada warga yang berani melanggar dengan mem­buat sumur,” tambah dia. Pernah, katanya, ada yang mencoba meng­gali tanah untuk membuat sumur, malamnya mendapat mimpi. Dia mendengar suara, apakah mau saya guyur air bah? Warga itu lalu mem­batalkan. Dia tidak jadi membuat sumur.

Percaya atau tidak, Gunung Ti­dar ini memang berada di tengah-tengah pulau Jawa, pas menjadi paku Jawa. Dia menjadi pengim­bang dan memantek agar pulau ini dapat tertancap kuat dipijakan, sehingga tidak terseret arus samu­dera. Simbol atau lambing paku tersebut berada di puncak Gunung Tidar. Untuk mencapainya diper­lukan persiapan fisik yang baik karena pendakiannya sungguh me­nanjak. Namun, udara dan cuaca di Gunung Tidar sangat sejuk, meski Magelang sedang terik.

Mulai Mendaki

Setelah membayar tiket ma­suk (3.000 rupiah) para wisatawan bisa langsung menapati anak-anak tangga yang berwarna-warni. Meski pada siang hari tetap sejuk, mendaki pada pagi hari lebih baik karena sekalian olahraga. Pengelola menyadari bahwa jalan ini amat menanjak, sehingga terdapat bebe­rapa tempat untuk beristirahat. Ada dalam bentuk bangku dari beton atau pendopo yang sekalian buat berteduh bila hari hujan.

Sekitar pertengahan perjalanan, pengunjung dapat beristirahat untuk menikmati minum atau makan karena ada warung. Di warung ini tersedia berbagai jenis minuman dan tentu saja makanan serbacepat dalam bentuk aneka mi instan. Cukup bagus menikmati makanan minuman di sini di bawah pepohonan yang menjulang.

Mereka yang beragama Islam juga bisa menunaikan kewajiban karena di sini pun ada sebuah masjid ukuran kecil, tetapi ter­jaga kebersihannya, atau sekadar duduk-duduk di petilasan syeik yang juga bersih.

Perjalanan selanjutnya, semakin tinggi untuk mencapai puncak. Di bagian puncak ini terdapat tanah lapang yang cukup luas. Di sini juga banyak pedagang yang menjajakan selain makanan dan minuman ada pula rebus-rebusan, di antaranya pisang dan jagung rebus. Makan­an berat juga ada berupa pecel lele atau tongseng.

Di lapangan ini terdapat simbol utama “Pasak Bumi.” Di sinilah letak Pakuning Tanah Jawa yang menjadi pantek pulau, sehingga tidak terseret arus samudera dalam posisi seakan menghadap atau me­nyambut kedatangan pengunjung. wid/G-1

Menjadi Destinasi Spiritual

Gunung Tidar tidak sekadar menjadi oase Kota Mage­lang, tetapi juga berkem­bang atau dikembangkan menjadi tujuan wisata spiritual. Hal ini mungkin berkaitan dengan foklor terdapat beberapa tempat keramat. Maka tak heran, setiap malam Jumat Kliwon masyarakat yang masih mempercayai tradisi seperti ini berbondong-bondong mendaki Gunung Tidar. Mereka tidak hanya datang dari Magelang, tetapi juga Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, bahkan Lampung.

“Saya setiap ke Temanggung, pasti mampir ke sini,” ujar warga Lampung, Priyo (54) saat ditemui di puncak Gunung Tidar. Menurut pria beristrikan warga Temanggung ini, teman-teman sejarawan banyak menulis tentang tempat keramat yang ada di Gunung Tidar. “Di sini ada Syekh Subakir, Kiai Sepan­jang, dan Kiai Ismoyo yang banyak dikunjungi,” kata juru kunci ketiga petilasan tersebut, Ny Sutidjah.

Konon, Subakir dikatakan se­bagai penyebar Islam dari Turki. Sementara itu, beberapa meter dari petilasannya terdapat tempat pedangnya sepanjang tujuh meter yang dinamai Sepanjang. Namun, ada juga cerita lain bahwa Sepan­jang adalah seorang pangeran yang berdiam di Gunung Tidar.

Kemudian di puncak Gunung Tidar, di pojok lapangan, persisnya di bawah pohon beringin, terdapat petilasan Kiai Purboyo. Malahan ada cerita yang mengatakan bahwa pohon beringin raksasa tersebut jelmaan Purboyo sendiri. Menurut legenda, Purboyo adalah salah satu pemimpin perang Mataram.

Yang juga banyak menjadi tu­juan adalah makam Ismoyo atau Semar. Makam Semar ini berada dalam kuncup kuning dan dipagari. Lokasi makamnya cukup besar. Semar adalah salah satu tokoh pewayangan yang banyak meng­abdi atau membimbing Pandawa. Meski dia punakawan, sebenarnya seorang “dewa” yang luhur budi dan sakti mandraguna. Tidak jelas bagaimana ceritanya sampai ada makam Semar di sini.

Air Keramat

“Ke depan tempat ini akan makin menjadi tujuan masyarakat berziarah karena tengah dibangun suatu tempat guna menampung air dan tanah keramat dari seluruh Indonesia. Ini diprakarsai Presiden Jokowi,” kata Sutidjah. Menurut dia, Presiden Jokowi minta agar di Gunung Tidar dibangun tempat un­tuk menampung air dan tanah yang dianggap keramat dari seluruh Tanah Air.

Setidaknya ada 79 daerah di Indonesia yang memiliki sumber air keramat. Jika tempat ini sudah rampung dibangun, kelak Gunung Tidar diyakini bakal lebih ramai lagi didatangi para pencari ketenang­an jiwa atau apa pun namanya. Yang penting perlu ditekankan agar jangan sampai tumbuh sisi-sisi ne­gatif seperti klenik.

Semoga saja 79 air keramat dari seluruh Indonesia ini menjadi “monumen” yang akan memper­kaya kasanah kultur dan tradisi, tanpa melahirkan klenik. Maklum di sejumlah kalangan, kepercayaan seperti ini masih hidup hingga se­karang. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment