Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Menuju “Green Economy” Pertanian

Menuju “Green Economy” Pertanian

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Diana Dwi Susanti

Indonesia sebagai negara agraris memiliki sumber daya hayati melimpah. Banyak yang tidak dimiliki negara lain. Back to agriculture dengan menggali potensi yang tidak dimiliki negara lain menjadi kekayaan yang unik dan bisa sampai ke tingkat ekspor, kalau dikelola dengan baik. Mendorong investasi pertanian bisa memberikan dampak luar biasa untuk mencapai kedaulatan pangan.

Ini juga akan meningkatkan pendapatan petani dan membuka kesempatan kerja di perdesaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan berkurang, devisa negara makin besar, dan PDB sektor pertanian juga meningkat. Yang terpenting hal ini bisa mewujudkan green economy (GE).

Yang dimaksud GE adalah pertumbuhan ekonomi yang berbasis kelestarian lingkungan sumber daya alam. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang sejak dulu menjadi incaran negara-negara.

Pulau-pulau di gugusan Provinsi Maluku Utara, contohnya, adalah sumber rempah- rempah dan cengkeh dunia yang melegenda. Pedagang India, Arab, Tiongkok, dan Jawa sering berkunjung ke Ternate, Tidore, dan Banda yang menjadi pusat rempah-rempah dunia.

Mereka pulang membawa komoditas berharga itu ke negara asal untuk dijual dengan harga tinggi. Cengkeh, bersama pala begitu berharga sebanding dengan emas karena digunakan sebagai bumbu-bumbu makanan.

Mereka juga untuk mengawetkan makanan atau bahan obat-obatan. Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda bertekad menemukan sendiri kepulauan yang menjadi sumber rempah-rempah pada masa lampau.

Sejarah telah membuktikan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Baik Portugis maupun Belanda mengincar Indonesia karena rempah- rempah yang tidak dimiliki negara lain. Itu baru salah satu kekayaan alam.

Belum lagi potensi hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan yang sampai sekarang masih dilakukan dengan cara-cara tradisional oleh rakyat. Pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian terus melambat.

Tiga tahun terakhir hanya tumbuh 3 persen, jauh di bawah angka nasional yang menembus 5 persen. Sektor pertanian semakin tua, seiring menuanya para petani. Tanpa regenerasi sektor pertanian akan tambah suram. Kontribusi pertanian semakin tergeser sektor industri dan kontruksi yang lebih menjanjikan.

Dua sektor ini upahnya setara dengan UMR, sedangkan keuntungan pertanian per bulan 1,2 juta. Itu pun jika petani mempunyai lahan 1 ha. Padahal, petani gurem yang lahannya kurang dari 0,5 ha adalah mayoritas, mencapai 75 persen (SUTAS 2018). Wajar pertanian tidak dilirik generasi milenial.

Minim

Perkembangan ekonomi pertanian masih minim karena investasi juga sedikit. Padahal, Indonesia mempunyai potensi pertanian sangat besar. Hasil padi pada saat ini melimpah karena panen raya. Mengutip data BPS dalam 4 tahun terakhir (2015–2018), harga panen padi terendah pada setiap tahunnya selalu terjadi pada bulan panen raya.

Bahkan perbandingan rata-rata gabah selama setahun (Maret 2018–Maret 2019), saat ini merupakan titik terendah harga gabah pada tingkat petani.

Kondisi ini semakin parah, mengingat stok beras bulog ada di posisi 1,6 juta ton. Angka itu di atas batas aman stok beras Bulog akhir tahun, sebesar 1,5 juta ton.

Dengan cadangan yang melimpah apakah masih memungkinkan menyerap gabah petani lokal? Produksi hasil perkebunan rakyat pun tidak beda jauh.

Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan Rakyat merupakan gambaran pendapatan usaha petani dengan komoditas kelapa, kelapa sawit, rempahrempah, dll, dengan biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan konsumsi rumah tangga petani.

Pada bulan Maret NTP Perkebunan Rakyat berada di bawah 100 atau tepatnya 96,07. Artinya, laju pertumbuhan konsumsi dan biaya produksi petani perkebunan rakyat masih lebih tinggi dari laju pertumbuhan pendapatan petani perkebunan rakyat. Bahkan di daerah Maluku Utara sebagai produsen rempah-rempah lebih miris lagi.

NTP petani perkebunan rakyat hanya 86, 16. Rempah-rempah yang menjadi kebanggaan dan rebutan negara-negara pada zaman dulu, sekarang mati suri.

Keadaan pertanian hortikultura tidak jauh beda, malah rentan dengan para spekulan. Di saat produksi melimpah harga menjadi sangat murah. Peternakan, perikanan, dan hasil hutan hampir sama. Mereka belum tersentuh oleh industri modern untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pertanian.

Hal ini menyebabkan pendapatan petani rendah. Investasi sektor pertanian dianggap kurang menguntungkan karena masih diusahakan secara tradisional dan individu.

Untuk mendorong peningkatan pendapatan petani diperlukan investasi bidang pertanian. Tetapi pertanian bukan hanya masalah budi daya, namun juga logistik dan penyimpanan. Si s tem produksi pun harus bisa membaca situasi pasar.

Gambaran pertanian tadi mengindikasikan, perubahan iklim dan distribusi komoditas menumpuk di sentra menjadi tantangan yang bisa menjadi peluang bagi investor. Mengembangkan industri pertanian di perdesaan merupakan peluang investasi. Contoh, dengan membangun kilang-kilang padi modern atau kilang produk pertanian lainnya.

Dengan begitu bisa dihasilkan beras berkualitas tinggi. Selain bisa menyerap hasil pertanian yang melimpah, industri modern yang mengolah dan mengemas hasil pertanian menjadi peluang membuka lapangan pekerjaan di perdesaan.

Jika hasil pertanian diolah dan dikemas selain meningkatkan nilai tambah, tidak ada lagi produksi pertanian yang rusak. Guna mengakses pasar internasional, petani perlu membangun standar produk.

Investor pertanian bisa menjadi peluang modal bagi petani untuk menerapkan Good Agriculture Practise. Dengan demikian, produk yang dihasilkan seragam kualitasnya. Investor bisa mempertemukan suplai dan permintaan. Sistem produksi harus bisa membaca situasi pasar. Konsumen menengah ke atas, misalnya, tidak lagi memikirkan makan kenyang, tetapi sehat.

Era sekarang healthy food (makanan sehat) dan kembali ke organic, tanpa melibatkan zat-zat kimia yang bisa merusak kesehatan dan lingkungan. Jika ingin mendapat harga yang mampu menyejahterakan petani, maka sistem pengelolaan budi daya harus mengarah pada standar dan sehat.

Pengelolaan pertanian modern, namun tetap memikirkan dampak kesehatan manusia dan lingkungan merupakan salah satu pertumbuhan ekonomi yang gencar diimplementasikan global. Investasi di bidang pertanian merupakan implementasi GE.  Penulis Pegawai BPS

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment