Mentan: Kartel Pangan Merugikan Rakyat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
1 Comment
Stabilitasi Harga

Mentan: Kartel Pangan Merugikan Rakyat

Mentan: Kartel Pangan Merugikan Rakyat

Foto : ANTARA /M Risyal Hidayat
A   A   A   Pengaturan Font

SURABAYA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan praktik penimbunan pangan yang dilakukan oleh oknum pengusaha telah merugikan masyarakat. Praktik kartel ini juga memicu terjadinya kenaikan harga pangan di kala permintaan tinggi, seperti menjelang bulan puasa atau perayaan hari-hari keagamaan.


“Mereka itu orang-orang yang membuat posisi kita menjadi sulit. Harusnya kita kan memikirkan yang produktif, tapi karena ada yang bermain dengan stabilitas harga, jadi sulit. Padahal, produksi kita cukup,” kata Amran saat meninjau pengungkapan praktik penimbunan 116 ribu garam impor di kawasan pergudangan Jalan Mayjen Sungkono, Gresik, Jawa Timur, Jumat (19/5).


Pada kesempatan itu, Amran menyampaikan apresiasi terhadap sinergi kinerja antara Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komando Daerah Militer V Brawijaya, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam upaya menjaga stabilitas harga bahan pokok.


“Ini sinergi yang luar biasa dalam penanganan penimbunan bahan pokok oleh kartel pangan di Jatim. Kita sudah mulai membongkar kartel, bisa dibayangkan sudah ada sejumlah tersangka, baik untuk cabai, bawang, minyak goreng, dan sekarang garam,” ujar Amran.


Menyinggung tentang sanksi kepada importir yang menimbun bawang putih di kawasan Marunda, Jakarta, beberapa hari lalu, Menteri Amran memastikan akan mencabut izin perusahaan tersebut. “Saya sudah bertemu dengan Menteri Perdagangan dan kemarin telah mencabut izinnya,” ujarnya.


Tak hanya mencabut izin, pihaknya memastikan perusahaan tersebut tidak akan berdagang dan berbisnis bawang putih lagi di Indonesia karena telah membuat resah masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan tahun ini. “Termasuk sudah ada penetapan tiga tersangka kasus penimbunan bawang putih di Marunda yang saat ini ditangani serius oleh kepolisian,” ucapnya.


Ia mengatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah membuat konsensus dengan 42 pengusaha impor yang menetapkan harga bawang putih tidak lebih dari 38 ribu rupiah per kilogram.


“Saat itu kami sudah ada perjanjian, tapi kok ada harga yang lebih tinggi di pasaran. Setelah turun ke lapangan untuk mengecek dan mencari tahu sumbernya, ditemukan penimbunan di Marunda,” katanya.


Informasi Masyarakat


Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin menjelaskan pengungkapan penimbunan garam impor berawal dari informasi masyarakat yang ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penindakan. Garam sebanyak 116 ribu ton itu seharusnya didatangkan dari Australia untuk industri, namun ditimbun untuk dijual ke pasar bebas.


“Ini sudah dilakukan sudah cukup lama, ada juga minyak goreng curah yang dijual kemasan. Akan kita lakukan penindakan hukum sesuai instruksi Menteri Pertanian dalam rapat sebelumnya dengan Pemprov Jatim. Kita juga akan melakukan operasi lagi,” ujar Kapolda.


Sementara itu, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, menyampaikan persediaan seluruh bahan pokok di Jatim telah terjamin dengan operasi pasar. Bila ada kekurangan atau gejolak harga hal tersebut menandakan adanya kartel pangan yang bermain. SB/AR-2

View Comments

erica
Sabtu 20/5/2017 | 02:46
Liam Ammaar Bower: Anak 5 tahun Amerika masih hilang dan kabarnya meninggal dunia

Submit a Comment