Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Conservacation

Menjaga Kelestarian Sumber Air “Kehidupan”

Menjaga Kelestarian Sumber Air “Kehidupan”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebanyak 20 anak muda terpilih menjalani kegiatan konservasi air yang bernama Conservacation yang dilaksanakan di Desa Bea Muring, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Desa Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta.

 

Air merupakan kebutuhan hidup manusia yang paling mendasar. Dalam tubuh manusia terdapat kandungan air yaitu pada bayi 80 persen, orang dewasa 60 persen, dan usia lanjut 50 persen. Sedangkan menurut WHO menyebut per individu membutuhkan air 30 liter per hari, yaitu 10 liter untuk minum dan 20 liter untuk sanitasi.

Sedangkan penggunaan air untuk pertanian membutuhkan pasokan air dunia paling besar sekitar 70 persen, kebanyakan untuk irigasi, sementara industri 20 persen yang didominasi energi dan manufacturing, serta 10 persen sisanya untuk rumah tangga.

Pada 2050, populasi dunia akan bertumbuh 2 miliar orang dan kebutuhan akan air meningkat 30 persen dibanding hari ini. Bahkan World Water Day menyebut, kini tak kurang dari 2,1 miliar orang hidup tanpa air yang aman untuk dikonsumsi, dan sekitar 1,9 miliar orang masih hidup di area sulit air. Diperkirakan pada 2050, angka ini terus meningkat sekitar 3 miliar orang.

Isu soal pelestarian air bukan tugas pemangku kepentingan semata, setiap individu di muka Bumi ini pun juga memiliki tanggung jawab terhadap persoalan global, tak terkecuali pada genererasi muda yang sejatinya adalah penghuni Bumi di masa yang akan datang.

Atas dasar semangat itu, Ades menggelar program Sobat Air Ades, yang mengajak generasi muda terpilih untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi air yang bernama Conservacation.

Marketing Manager Hydration Coca-Cola Indonesia, Mohamad Rezki Yunus, mengatakan program ini berhasil menarik 800 anak muda. Setiap calon melewati proses seleksi dengan mengirimkan foto, pesan kreatif untuk menggaungkan kelestarian air yang berkelanjutan, semua dilakukan melalui jalur sosial media Instagram dan Facebook.

“Dari 800 kita hanya pilih 20 orang saja, nantinya peserta akan dibagi menjadi dua kelompok. Mereka akan diberangkatkan ke Yogyakarta dan NTT pada 25-30 September 2018,” kata Rezki dalam peluncuran program Aksi Generasi Muda Jalani Conservacation di NTT dan Yogyakarta, di Jakarta, belum lama ini.

Dua tempat itu, sengaja dipilih karena ada dua sosok pejuang air yaitu Sugeng Handoko (30) dari Yogyakarta, dan Romo Marselus Hasan (37) dari NTT.

Sugeng Handoko diketahui telah berkontribusi dalam membangun desa Nglanggeran. Desa yang berada di kawasan Gunung Kidul ini telah bertransformasi dan menjadi contoh nyata sebuah desa yang mengintegrasikan penghijauan, konservasi air, serta praktek perkebunan yang berkelanjutan menjadi daya tarik ekowisata yang edukatif dan menginspirasi banyak orang.

Sementara Romo Marselus Hasan, mendorong pemanfaatan air untuk kehidupan dengan menggerakkan pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pembangkit ini memanfaatkan potensi aliran air yang tersedia di sana. Melalui program ini, Romo telah berhasil menyediakan listrik bagi lebih dari 1.200 KK yang terbagi dalam lima desa di NTT.

Berkontribusi Nyata

Para peserta akan mengikuti proses survei dan workshop terkait pelestarian lingkungan dan konservasi air bersama para pejuang air tersebut. Ades Indonesia sendiri secara berkelanjutan bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara, mitra lokal dari The Nature Conservancy Indonesia telah melakukan rangkaian tinjau lapangan di Desa Bea Muring, NTT dan Desa Nglanggeran, Gunung Kidul Yogyakarta.

Hasil nyata yang dilakukan 20 generasi muda itu yakni membangun sumur resapan sebagai upaya konservasi air, mengoptimalkan pemanfaatan sumber air, penanaman pohon di sekitar daerah aliran sungai, serta perbaikan akses air bersih bagi warga. Ini dilakukan semata-mata untuk mengedukasi pengelolaan air yang berkelanjutan.

Salah seorang Sobat Air Ades, Evrina Budiastuti, yang akan berangkat ke NTT, mengatakan motivasi mengikuti konservasi untuk dapat mendukung pemanfaatan air secara berkelanjutan. “Motivasinya kebetulan saya penyuluh pertanian, saya ingin bersama petani setelah ikut konservasi untuk mendukung keberlangsungan air,” tuturnya.

Kara Nisa, karyawan swasta yang juga terpilih menuturkan sebagai anak muda yang gemar travelling, mengaku belum memberikan kontribusi lebih kepada tempat yang dikunjunginya. Untuk itu ia berharap dapat memberikan kontribusi lewat konservasi air. “Saya suka merasa sedih kalau pergi ke tempat yang saya datangi tapi tidak alamnya tidak lestari,” tutur Kara.

Diharapkan melalui program ini anak muda bisa lebih menghargai air sebagai sumber kehidupan manusia seutuhnya. “Setelah program conservacation mereka bisa lebih berkontribusi pada lingkungan sekitarnya melalui caranya, dan menularkan semangat pelestarian air ke anak muda lainnya,” tutur Rezki.

 

Butuh Perhatian Khusus

Kisah sukses Sugeng Handoko dan Romo Marselus Hasan yang berhasil membangun desanya melalui pelestarian air memang patut diapresiasi, meskipun masih memerlukan perhatian khusus soal bagaimana keberlangsungan pemanfaatan air di wilayah tersebut.

Jaka Setia, Communication Manager Yayasan Konservasi Alam Nusantara menjelaskan kepada Koran Jakarta, topografi daerah di Indonesia berbeda-beda. “NTT, Yogyakarta atau bahkan Jakarta sendiri memiliki ke unikan wilayah, sehingga persoalan sumberdaya air di tiap daerah pun berbeda. Di NTT persoalan air cukup rumit, karena semua terbentur dengan akses. Bisa dibayangkan dari Desa Bea Muring ke kota besar terdekat saja memakan waktu 4 jam perjalanan, sehingga sulit untuk memobilisasi sumberdaya dan lain sebagainya, lalu di desa Romo Marselus itu sungai yang mengalir melibatkan banyak desa, jadi perlu membangun pemahaman masyarakat sekitar aliran sungai terhadap program pelestarian air berkelanjutan. Ini lebih pada koordinasi terhadap masyarakat dan pemerintah,” terangnya.

Sedangkan keberlangsungan sumber air di Desa Nglanggeran, semua orang mau mengambil air dari embung. “Kalau tidak dikelola dengan baik masyarakat bisa rebutan, harus ada pengelolaan yang baik di sana kalau tidak 5-6 tahun ke depan, indahnya desa ekowisata Nglanggeran bisa menurun bahkan hilang,” tutur Jaka.

Kemudian persoalan unik di Nglanggeran ialah banyaknya pompa air, dan kabel bergelantungan di area ekowisata yang sangat menghalangi keindahan desa asri tersebut. “Akses ke sumber air juga harus kita kelola tanpa merusak pemandangan,” lanjutnya.

Beberapa tahun belakangan isu air memang menjadi perhatian dunia. Musim hujan yang tak menentu, sudah seharusnya ‘dunia’ memikirkan solusi untuk memastikan ketersediaan air di masa depan.

Pemanfaatan air berkelanjutan menurut Jaka adalah cara yang paling efektif untuk memastikan ketersediaan air kedepan. Di lingkup Indonesia sebenarnya kita memiliki sumber daya air yang melimpah ruah, hanya saja kita terlena. “Contoh sumber air di Jakarta yang berasal dari Ciliwung dan Citarum, kondisinya kini memprihatinkan padahal itu sangat mencukupi kebutuhan, sekarang tinggal bagaimana merawatnya dari hulu ke hilir agar pemanfaatannya bisa berlanjut ke anak cucu,” pungkasnya. 

 

ima/R-1

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment