Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Menjadi Guru seperti Yesus

Menjadi Guru seperti Yesus

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berguru dari Yesus sang Guru

Penulis : P Markus Manurung

Penerbit : Pohon Cahaya

Cetakan : September 2017

Tebal : 207 halaman

ISBN : 978602-5474-00-2

Guru itu sosok mulia dan dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa adalah pengakuan umum akan peran penting dalam mencerdaskan bangsa tanpa berharap untuk mendapatkan imbalan atas perjuangannya. Guru juga layak digugu dan ditiru sebab tidak hanya mengajar dan mendidik, namun juga memberikan teladan kebaikan.

Hanya, realitanya tidak semua guru seideal tersebut. Beberapa kasus mengungkapkan perilaku guru yang belum elok. Dengan membaca buku ini, kita bisa melihat seperti apa guru yang sebenarnya. Buku ini membahas tentang Yesus yang sepanjang hidup- Nya dicurahkan untuk mendidik umat. Dia adalah Maha Guru dari semua guru. Dia hadir untuk melayani seluruh kebutuhan esensial manusia. Dia tidak memiliki day off untuk mengajar.

Sepanjang waktu, Dia melayani orang yang datang kepada-Nya. Sebagai Guru Agung, Yesus memiliki dua keutamaan yang tidak dimiliki siapa pun. Sebelum lahir, Dia bersama Bapa di surga. Dia langsung belajar semua ilmu kepada Bapa. Setelah lahir, Dia mendidik manusia. Dengan belajar dari Sang Guru, mereka mampu mengenal umatnya dan bisa membedakan domba dari kambing, kata P. Markus Manurung, penulis buku ini (hlm 11).

Misi ilahiah yang Yesus emban membuat-Nya mengajar tanpa pamrih, tidak pilih kasih, dan tidak mengenal lelah. Wawasan keilmuwan Yesus sangat luas. Gaya mengajarnya integratif, memberdayakan, berkelanjutan dan penuh kasih sayang. Dengan berjalan kaki, Dia mendatangi satu pintu rumah ke pintu rumah lain.

Sayang, tidak semua menerima pengajaran-Nya. Sebagian menentang keras. Yesus menerima dengan lapang dada. Dia tidak putus asa. Apa yang Dia perjuangkan bukanlah untuk kepentingan diri-Nya. Ia amanat Bapa untuk kepentingan umat manusia (hlm 103).

Buku ini menjelaskan berbagai model pengajaran yang Yesus terapkan. Misalnya, model penyampaian metafor. Model ini membuat pesan pengajaran mudah diterima dan menarik perhatian. Metafor-metafor itu ditulis oleh empat murid dan dikumpulkan dalam Injil Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ketika mengajar Yesus juga bertanya dan mendengarkan. Dua pendekatan ini sangat penting.

Ketika bertanya, Yesus hakikatnya mengeksplorasi apa yang sangat dibutuhkan murid berdasarkan kesadaran mereka sendiri. Yesus dengan mukjizat-Nya bisa mengetahui dan memberikan semua yang dibutuhkan murid-murid-Nya. Itu tidak dilakukan sebab tidak memberdayakan.

Bartimeus, lelaki tidak kudus yang dijauhi masyarakat, mengiba kasih kepada Yesus. Orang-orang berharap Yesus mengabaikan pria buta tersebut. Yesus justru meminta agar Bartimeus dipanggil mendekat. Kepadanya Yesus bertanya tentang apa yang sangat dia harapkan. Dengan jujur ia menjawab agar matanya bisa melihat. Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau, kata Yesus (hlm 33).

Buku ini menjelaskan bahwa pertanyaan Yesus merupakan pemantik penyadaran tidak semua apa yang diinginkan itu dibutuhkan. Kadang keinginan sekadar epigon terhadap keinginan orang lain. Keinginan kadang hasrat tak berdasar yang justru akan mencelakakan diri ketika terpenuhi. Pertanyaan yang Yesus lontarkan adalah media untuk mengeksplorasi need assessment murid yang harus mereka sampaikan dengan jujur agar terwujud hasil pembelajaran yang optimal.

Yesus juga bersedia mendengar sepenuh hati omongan murid-murid- Nya. Kesediaan mendengar ini memberikan informasi berharga tentang ragam kondisi yang dihadapi mereka. Sikap ini mengajarkan bahwa mendengarkan merupakan langkah strategis dalam mengajar. Tanpa bersedia mendengarkan, guru tidak akan paham perasaan dan diharapkan muridnya. Tidak ada komunikasi interaktif. Ikatan emosional sulit tercipta karena guru tampil sebagai sosok berjarak (hlm 27).

Sebagaimana Yesus, guru tidak berharap imbalan. Kendatipun mereka mendapatkan gaji dan honor dari pemerintah, jangan jadikan ia sebagai tujuan. Guru harus akrab dengan murid tanpa kehilangan batas kewajaran. Mengedepankan kasih sayang adalah satu-satunya cara paling efektif untuk membuat murid betah belajar dan juga memiliki sikap kasih serupa. 

Diresensi Miftahul Khoiri, Mahasiswa Pascasarjana UIN Yogyakarta

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment