Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments

Menjadi Guru Kreatif Perlu Banyak Belajar

Menjadi Guru Kreatif Perlu Banyak Belajar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Gurunya Manusia

Penulis : Munif Chatib

Penerbit : Kaifa

Cetakan : September, 2016

Tebal : 260 Halaman

ISBN : 978-602-0851-45-7

Liburan sekolah segera usai dan sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai. Pelajar SD sampai SMA kembali sekolah. Di tahun ajaran baru bukan hanya murid saja yang harus bersemangat menyambut, tapi juga para guru. Buku Gurunya Manusia ini bisa dijadikan panduan pendidik mengajar di tahun ajaran baru sebab banyak strategi di dalamnya.

Jamak dijumpai, guru hanya menyampaikan materi di kelas dan murid cenderung menghafal materi yang sudah diajarkan saja. Proses pembelajaran bersifat kaku dan membosankan sehingga tidak akan cukup mampu menghasilkan generasi penerus tangguh di masa depan.

Guru adalah tokoh sentral dunia pendidikan sehingga memiliki peran penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Kemampuan akademis murid memang penting, namun tugas guru tidak hanya untuk meningkatkannya. Dia juga bertugas menjadikan calon-calon penerus bangsa tumbuh menjadi manusia bernurani dan manusiawi.

Buku ini menjelaskan, empat kompetensi yang harus dimiliki guru. Pertama, kompetensi pedagogi di mana guru harus mampu mengelola pelajaran siswa dengan kreatif. Guru harus memahami karakter murid karena setiap anak istimewa dan memiliki karakter sendiri. Selain itu, kadar kemampuan siswa dalam menerima materi juga harus diperhatikan.

Kedua, kompetensi kepribadian di mana guru harus memiliki pribadi mantap, stabil, arif, dan bijaksana agar menjadi teladan murid. Pepatah guru digugu lan ditiru membuat pendidik harus bisa menjadi teladan. Ketiga, guru mesti profesional menguasai materi secara mendalam. Maka dia akan bisa membimbing siswa sesuai kurikulum dan mengembangkan cara ajar kreatif dan inovatif.

Secara sosial, dia mampu bergaul secara luas dalam bermasyarakat, terutama dengan murid-murid, tenaga pengajar lain, dan masyarakat luas (hal 29). Guru juga harus memahami cara menjadi profesional dan menyenangkan. Dia bisa ngemong dan membuat semua murid merasa nyaman, tidak terintimidasi. Terkadang guru bersikap menuntut dan menghakimi.

Ketika murid belum memahami pelajaran, lalu menyalahkan. Murid dianggap tidak memperhatikan atau menganggapnya malas belajar. Hal tersebut tentu akan membuat murid merasa tidak percaya diri dan menganggap bodoh seperti dituduhkan.

Ketika murid belum mendapat nilai atau hasil baik, sudah menjadi tugas guru untuk memotivasi agar mereka tetap optimistis dan mau belajar. Bisa jadi, murid belum paham karena metode mengajar tidak sesuai dengan karakter siswa. Sekadar mencatat saja atau mungkin menghafal tentu sangat membosankan. Kembali lagi, setiap murid memiliki karakter berbeda. Ada yang mudah belajar melalui visualisasi. Ada pula yang mudah memahami melalui audio. Dalam mengajar, seyogianya guru pandai mengambil hati murid sehingga tertarik dan bersemangat belajar (hal 81).

Strategi multiple intelegences, yaitu gaya mengajar yang disesuaikan dengan gaya belajar murid, bisa diterapkan agar bisa mengenal karakter lebih baik. Melalui strategi ini, guru dapat menentukan metode mendidik. Momentum tahun ajaran baru merupakan saat yang tepat untuk memperbaiki metode mengajar dan cara belajar murid sehingga mampu menumbuhkan semangat berbagi dan menuntut ilmu. 

Diresensi Tanti Endarwati, Alumna Stikes Surya Global Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment