Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments

Menikmati Swiss Kecil di Pulau Jawa

Menikmati Swiss Kecil di Pulau Jawa

Foto : foto-foto: koran jakarta/selo cahyo basuki
A   A   A   Pengaturan Font

Terkenal dengan julukan De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa, Batu, telah dikenal sebagai kawasan wisata andalan Jawa Timur.

Hawa sejuk lereng Gunung Panderman menjadi daya tarik alami bagi wisata­wan untuk berkunjung ke daerah yang dikelilingi perbukitan dan berlembah-lembah itu. Sifat tanahnya yang subur mendorong warga untuk nelakukan budi daya sayur-mayur dan buah-buahan, sehingga Batu juga dikenal sebagai kawasan agriwisata.

Potensi pariwisata Batu telah mendorong para investor untuk berlomba-lomba mengembangkan sejumlah objek wisata baru di dae­rah ini.

Sejak tahun 2000-an, berbagai lokasi hiburan baru tumbuh bagai jamur di musim hujan di Batu. Seba­gian besar dari objek-objek tersebut mulai menonjolkan konsep theme park, wahana hiburan terpadu yang menghadirkan museum, kebun binatang, taman, hotel, hingga permainan.

Jatim Park 1 yang dibuka pada 2002, merupakan cikal bakal theme park Batu yang berada di bawah bendera Jawa Timur Park Group. Disusul kemudian dengan pembu­kaan Jatim Park 2, Museum Angkut, Batu Night Spectacular, hingga yang terbaru Jatim Park 3.

Keberadaan sejumlah taman hiburan tersebut menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin mera­sakan sensasi baru tren pariwisata di Batu. Terbukti setiap akhir pekan, jalur menuju sejumlah theme park selalu padat bahkan macet hingga beberapa kilometer.

Jatim Park 3

Siapa yang tidak mengenal karya sutradara Steven Spielberg, Jurasic Park. Film yang mengisahkan seke­lompok wisatawan yang terjebak dan berusaha keluar dari taman kebun binatang dinosaurus di sebuah pu­lau itu laris di bioskop pada era 1990, hingga dibuat kelanjutannya sampai sekarang.

Bagi wisatawan yang ingin mera­sakan sensasi alam zaman prase­jarah, cukup datang ke Jatim Park 3 di Batu. Pengunjung akan banyak menemui binatang purba mulai yang berukuran raksasa hingga kecil di objek tersebut. Namun, tak perlu khawatir diterkam dinosaurus, selu­ruh makhluk yang ada di Jatim Park 3 adalah replika, sebagian digera­kan oleh sistem mekanik. Taman ini mengintegrasikan tidak hanya teknologi dan hiburan, namun juga museum, hotel, dan apartemen da­lam area seluas 16 hektare.

Untuk mencapai lokasi objek ini cukup mudah. Dari pusat Kota Malang langsung saja menuju ke arah Kota Batu melalui Jalan Raya Tlogomas. Lokasinya di Jalan Raya Ir Soekarno, Beji, Batu, sebelum sam­pai pusat Kota Batu. Perjalanan nor­mal membutuhkan waktu sekitar 40 menit, namun pada akhir pekan bisa lebih dari satu jam karena padatnya jalur Malang menuju ke Batu.

Tiba di lokasi pengunjung akan masuk ke area taman melalui Dino Mall, pusat perbelanjaan dengan banyak restoran dan kafe. Setelah itu pengunjung bebas memilih ma­suk ke berbagai zona dan fasilitas hiburan yang tersedia di Jatim Park 3. Zona paling populer dan menjadi ikon tempat wisata ini adalah Dino Park, di mana pengunjung dapat melihat berbagai jenis hewan pur­bakala dengan ukuran asli beserta penjelasan dari tiap jenis hewan.

Zona Dino Park sendiri cukup luas dan terdiri dari tujuh atraksi utama atau subzona. Subzona paling depan yang dijumpai pengunjung adalah Museum Dino, bangunan yang menyimpan berbagai rep­lika tulang hewan purba raksasa. Terdapat beberapa kerangka dino seperti Triceratops dan Angkilo­saurus, bahkan dino besar seperti Tiranosaurus dan Apatosaurus. Dari sini pengunjung dapat mengetahui ukuran tinggi dan panjang badan dinosaurus seperti Tyranosaurus Rex yang ikonik.

Dalam Museum Dino, pengun­jung juga dapat mempelajari ber­bagai fakta mengenai DNA, anatomi tubuh seperti komposisi tulang dan otot dinosaurus, hingga lingkung­an hidup dan wilayah persebaran hewan itu.

Selanjutnya pengunjung akan dibawa menjelajah ke zaman ke­hidupan setiap jenis dinosaurus. Ya, Jelajah 5 Zaman adalah atraksi paling favorit yang selalu menjadi pilihan utama pengunjung Jatim Park. Dalam sub zona ini wisatawan dapat mempelajari alur waktu dari kehidupan zaman prasejarah, mela­lui film hingga replika habitat setiap makhluk.

Serunya, susunan kursi yang di­gunakan pengunjung dalam bioskop mini tempat pemutaran film, seka­ligus menjadi sarana pengangkut untuk menjelajahi kawasan taman pra sejarah berikutnya. Usai film diputar dan ruangan menjadi gelap, mendadak salah satu sisi dinding ruangan terbuka, dan kursi penon­ton bioskop berputar arah, menjadi kereta ukuran raksasa berkapasitas 48 orang yang bergerak mengikuti jalur rel menuju gerbang zaman Permian.

Selama 15 menit pengunjung diajak berkeliling mengenali dari de­kat kehidupan makhluk dari zaman Permian, zaman Triassic, zaman Jurrasic, zaman Cretaceous, hingga zaman Ice Age. Sambil mendengar­kan narasi yang informatif, seolah-olah pengunjung merasakan sensasi seru dikelilingi hewan purba raksasa yang ada di sepanjang jalur kereta.

Selanjutnya, kita bisa berjalan di tengah-tengah puluhan makhluk prasejarah dalam The Rimba. Ti­dak hanya bisa sekadar mengambil gambar, subzona ini menyajikan pengalaman menakjubkan bagi pengunjung karena hewan-hewan yang ada dilengkapi sensor. Jadi jangan kaget, karena setiap ada pe­ngunjung yang mendekat, hewan-hewan itu langsung bergerak dan mengeluarkan suara.

Ingin tahu seperti apa zaman Es ? Dari The Rimba pengunjung akan dibawa ke subzona, Ice Age. Wahana dalam ruangan ini menampilkan lebih banyak hewan dan bentuk kehidupan saat bumi tertutup es, bahkan daratan tropis seperti di Indonesia. Pengunjung akan ber­jumpa dengan berbagai makhluk yang mampu bertahan hidup pada suhu ekstrim seperti gajah Mamoth, Smilodon atau harimau gigi pedang, dan makhluk-makhluk lain yang hi­dup pada 4.500 tahun yang lalu.

Selanjutnya ada Life with Dino, wahana yang dapat membuat pe­ngunjung merasakan suasana hidup bersama dinosaurus. Pada subzona inu dikisahkan hewan purba dan manusia hidup dalam satu wilayah dengan suasana khas timur tengah. Seperti halnya zaman sekarang, hewan-hewan purbakala itu juga dimanfaatkan untuk membantu manusia sebagai pengangkut beban, atau keperluan lain.

Terdapat labirin yang seru untuk dipecahkan dan sebuag danau buat­an yang penuh dengan dinosaurus. Masih banyak lagi wahana seru dalam Dino Park, seperti Jembatan Akar, 3D Aquarium, Dino Bumper Car, Active Fun House, dan lain-lain. Jembatan Akar adalah jembatan yang dipayungi akar raksasa buatan, tempar pengunjung melihat berbagai macam dinosaurus dari ketinggi­an. Meskipun berada di ketinggian bukan berarti kita adalah tertinggi, karena terdapat replika elasmo sau­rus yang menyapa dengan lehernya yang panjang hingga jauh lebih tinggi dari jembatan yang menghubung­kan pengunjung ke zona-zona lain itu. Sementara pada 3D Aquarium, pengunjung akan melihat kehidupan hewan purbakala di lautan melalui tayangan tiga dimensi. SB/E-3

The Legend Stars dan Museum Musik Dunia

Wahana-wahana Jatim Park 3 tidak hanya bertema za­man prasejarah saja, me­lainkan kaya akan tema dan pilihan “rasa” lainnya. Bagi anda yang belum sempat melihat isi museum patung lilin ternama, Madame Tus­sauds di Thailand atau Hong Kong, cukup datang ke Batu.

Pada zona The Legend Stars Park di Jatim Park 3, pengunjung seolah bisa merasakan sensasi berada di dekat para tokoh-tokih dunia. Tan­pa takut dihalau paspampres atau bodyguard, kita bebas mengambil swafoto bersama replika Presiden keempat, Abdurrahman Wahid, pemimpin revolusi Tiongkok, Mao Zedong, hingga selebritas kerajaan Inggris, Pangeran William dan Kate Middleton.

Pilihan dari dunia hiburan tak kalah banyak, siapkan kapasitas memori penyimpan yang besar un­tuk berpose dengan bintang papan atas Hollywood, seperti Hugh Jack­man, Vin Diesel, atau sang pem­eran agen mata-mata 007, Daniel Craig. Tak ketinggalan sejumlah pemain olahraga mulai bintang la­pangan hijau, seperti Lionel Messi, Christiano Ronaldo, David Beck­ham, atau dari legenda ring tinju abad ini, Mike Tyson.

Situs utama yang menjadi fa­vorit zona ini adalah replika Istana Negara, yang dibuat lengkap de­ngan halaman, ruang utama, serta pos penjaga. Pengunjung seolah diajak merasakan kemegahan ke­diaman dan kantor resmi itu. Mulai berjalan melewati karpet merah yang membentang di halaman istana, masuk ke ruang utama yang mewah, lengkap dengan duplikat lampu kristal, podium pidato, meja, kursi, dan segenap keleng­kapan lainnya.

Kemiripan bangunan itu meng­hadirkan suasana asli tempat pe­laksanaan berbagai acara kenegara­an, mulai dari peyambutan tamu negara, rapat kerja presiden, dan peringatan hari kemerdekaan. Hal itu membuat sebagian pengunjung menahan suara keras saat bicara, seolah khawatir menggangu sua­sana resmi tempat bersejarah itu.

Bagi pencinta musik, wajib hu­kumnya melihat isi Museum Musik Dunia. Dalam museum ini pengun­jung diajak mengenali berbagai jenis alat musik dari manca negara dan alat musik nasional dari setiap provinsi. Koleksi berbagai negara ditampilkan antara lain dari Timur Tengah, India, Eropa, Tiongkok, In­donesia, Hawai, Amerika, Xinjiang, Korea, Jepang, Meksiko, Skotlandia, Afrika, dan Australia. Ada Cigar Box Guitar dari Amerika Serikat, satu set lonceng dengan nada berbeda dari Tiongkok yang disebut Bian­zhong, hingga kecapi dari Jepang, Koto.

Sementara dari negara tercinta terdapat banyak alat musik yang digolongkan berdasarkan provinsi, seperti Rindik dari Bali, NTB de­ngan Gula Gending, Papua dengan Triton, Kalimantan dengan Sam­pek, Betawi dengan Tehyan, Sunda dengan Gamelan, dan Gamelan Jawa.

Naik ke lantai dua, berbagai genre musik lain siap untuk dipela­jari, seperti Jazz, Rock, Pop, dan Keroncong. Pengunjung juga dapat berswafoto bersama musisi legen­daris B.B. Kings, Michael Jackson, atau Elthon John. Patung lilin para seniman musik tersebut sangat mirip dengan aslinya, dari hasil foto tidak ada yang mengira bintang-bintang itu hanya buatan manusia. Di lantai ini terdapat pula berbagai memorabilia dan audio sample dari masing-masing musisi, misalnya Memorabilia Koes Plus, Diva From Batu, dan The Beatles.

Sementara di lantai tiga sebagai lantai teratas, pengunjung akan terpesona oleh ruangan megah Concert Hall, Pilar Musik, Pang­gung Dara Puspita, hingga berbagai koleksi alat musik klasik dari puluh­an tahun yang lalu seperti Decap, Akordion, dan Music Box. SB/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment