Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments

Mengoptimalkan Usia Muda untuk Berkarya

Mengoptimalkan Usia Muda untuk Berkarya
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Muda, Berdaya, Karya Raya

Penulis : Fadh Pahdepie

Penerbit : Republika

Cetakan : I, Maret 2019

Tebal : xx + 336 halaman

ISBN : 978-602-573-472-4

Ada yang mengatakan fase ter­berat hidup saat berusia 20-an hingga 30-an. Ini momen orang mengalami krisis hebat tentang pe­nemuan jati diri dan segala yang ber­kaitan dengan masa depan, misalnya bekerja atau berwirausaha.

Dunia psikologi populer menye­but fase ini dengan istilah quarter life crisis atau krisis perempat usia. Gejala umum krisis perempat usia antara lain rasa cemas, takut, bingung, tersesat, bahkan terasing. Di dunia kerja, mi­salnya, orang mulai didera rasa jenuh, tak betah di tempat yang tak sesuai dengan passion. Tambah lagi hubung­an asmara menuntut segera membawa hubungan ke jenjang pernikahan. Be­lum lagi pertanyaan masyarakat yang merongrong terkait “kapan menikah” dan seterusnya (hlm xv).

Buku ini berbagi pengalaman cara menyikapi dan menghadapi krisis per­empat usia. Cara paling elegan dengan menggali potensi diri dan meng­optimalkan usia muda untuk berkarya, menuai beragam prestasi, dan berbagi kebaikan sebanyak mungkin.

Hidup ini berat. “Balas dendam” itu menyenangkan. “Balas dendam” da­lam arti positif, dengan cara menggali potensi diri, menuai prestasi, sehingga tak ada lagi orang-orang yang berani melecehkan dan menganggapnya sebelah mata.

Penulis pernah mengalami kisah pahit saat usia 8. Datanglah seorang pria mencari ayah untuk menagih utang. Hanya dirinya, ibu, serta adik perempuannya di rumah. Pria itu tak hanya meluapkan marah, tapi juga menggebrak meja dan membentak ibu. Ia memaksa agar ayah membayar utang hari itu juga. Adik perempuan­nya ketakutan dan menangis di bawah meja makan.

Ayah terlilit banyak masalah. Usahanya bangkrut karena ditipu. Rekan bisnis kabur membawa hampir seluruh uang. Ayah pun terlilit utang besar. Dia juga kehilangan rumah, kendaraan, dan harta benda berharga lainnya. Hati Fahd sangat terluka saat menyaksikan keluarganya direndah­kan. Sejak saat itu, hati dan pikirannya dipenuhi dendam. Ia ingin membalas­kan semuanya dengan cara elegan: belajar giat untuk menutupi kesedihan hidupnya. Selama SD selalu ranking satu (hlm 7).

Ia juga rajin mengikuti banyak perlombaan. Saat kelas 3 SMP, dia berhasil memenangi karya tulis ilmi­ah tingkat nasional dan terpilih seba­gai penulis esai terbaik UNICEF. Dari hasil lomba tersebut, dia memperoleh uang dan kemewahan. Saat kelas 3 SMA, Fahd menang MTQ tingkat pro­vinsi dan nasional. Da bisa menabung 100 juta rupiah.

Prestasinya kian meningkat saat berstatus mahasiswa. Di kampus, dia juga belajar berwirausaha (hal 123). Kini, dia berhasil mewujudkan cita-cita membahagiakan orang tua, istri, dan anak-anaknya. Ia mampu melewati usai perempat usianya de­ngan banyak berkarya dan menebar manfaat bagi banyak orang.

Misalnya, membantu orang yang tengah terlilit utang, membantu usaha teman-temannya dengan cara rajin membeli dagangan mereka. Ia juga menorehkan prestasi di dunia per­bukuan. Dalam kurun 16 tahun telah menulis lebih dari 20 buku. Bahkan, beberapa bukunya dibeli hak adapta­sinya menjadi film dengan royalti ratusan juta rupiah (halaman 325). Buku ini mengajak kaum muda untuk terus berkarya, menggali potensi diri, dan jangan pernah menyerah, seburuk apa pun kondisi sekarang. Diresensi Sam Edy Yuswanto, Alumnus STAINU Kebumen

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment