Koran Jakarta | December 15 2017
No Comments
Surat untuk bu Rossa

Menghindari Seks Bebas

Menghindari Seks Bebas

Foto : dok. kj
A   A   A   Pengaturan Font

Pertanyaan :

Bu Rossa, anak saya yang pertama mulai memasuki usia remaja. Saya khawatir sekali dengan pergaulan remaja yang mengarah pada seks bebas. Bagaimana cara yang efektif untuk menghindarinya Bu?

Marina, Jakarta

Jawaban :

Kaum remaja Indonesia saat ini mengalami lingkungan sosial yang sangat berbeda daripada orang tuanya. Dewasa ini, kaum remaja lebih bebas mengekspresikan dirinya, dan telah mengembangkan kebudayaan dan bahasa khusus antara grupnya. Sikap-sikap kaum remaja atas seksualitas ternyata lebih liberal daripada orang tuanya.

Seksualitas adalah sebuah cermin yang menerangkan dengan jelas apa itu cinta, hubungan kekasih, sampai hal-hal seperti hak-hak seks dan kekerasan seks. Secara biologis, yang termasuk dalam pengetahuan alat-alat reproduksi perempuan dan lakilaki, proses reproduksi yaitu kehamilan dan kelahiran, serta pengetahuan dan pemahaman cara penularan PMS dan HIV/ AIDS.

Pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsurunsur hak asasi manusia sehingga menajadi pendidikan akhlak dan moral juga. Oleh karena itu, pendidikan seks sering didampingi ajaran agama, iman, dan norma-norma yang ditentukan masyarakat.

Anak yang kurang diperhatikan orang tua tidak menutup kemungkinan si anak akan mencari kesenangan di luar rumah sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Di tambah lagi dengan adanya pengaruh dari teman sebaya yang biasa melakukan seks bebas, tidak menutup kemungkinan anak mengikuti gaya hidup teman tersebut jika tidak mau disebut gak gaul. Ada beberapa solusi untuk menghindari seks bebas, di antaranya:

Pertama, membuat regulasi yang dapat melindungi anak-anak remaja dari tontonan yang tidak mendidik. Perlu dibuat aturan perfilman yang memihak kepada pembinaan moral bangsa. Oleh karena itu, Rancangan Undang- Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) harus segera disahkan.

Kedua, orang tua sebagai penanggung jawab utama terhadap kemuliaan perilaku anak harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Kondisi rumah tangga harus dibenahi sedemikian rupa supaya anak betah dan kerasan di rumah.

Ketiga, orang tua harus mengembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima kualitas; openness, empathy, supportiveness, positiveness, dan equality.

Keempat, orang tua harus menunjukkan penghargaan secara terbuka dan hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang masuk akal.

Kelima, orang tua haruslah melatih anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orang tua harus membiasakan diri bernegosiasi dengan anakanaknya tentang perilaku dari kedua belah pihak.

Keenam, ketahuilah bahwa walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan pengembangan harga diri, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan intelektual. Proses belajar biasa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan harga diri. Intinya, hanya apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi intelektual dan kemandirian mereka dapat dikembangkan.

Keteladanan orang tua juga merupakan faktor penting dalam menyelamatkan moral anak. Orang tua yang gagal memberikan teladan yang baik kepada anaknya, umumnya akan menjumpai anaknya dalam kemerosotan moral dalam berperilaku.

Seks bebas yang terjadi di kalangan remaja sudah sangat meresahkan kita semua. Perilaku seks bebas itu dapat dicegah melalui keluarga. Hendaknya orang tua lebih memperhatikan anak-anaknya apalagi anak yang baru beranjak dewasa dan memberi pengertian pada anak tentang apa itu seks dan akibatnya jika seks itu dilakukan. Seks bebas itu juga dapat dicegah melalui keinginan diri sendiri, remaja harus lebih memikirkan akibat sebelum berbuat paling tidak remaja lebih meningkatkan lagi iman dan lebih meningkatkan keimanan pada Tuhan. Pemerintah juga sangat berperan dalam usaha penanggulangan seks bebas dikalangan remaja seperti mengadakan penyuluhan di sekolah dan membuat UU khusus bagi anak-anak yang melakukan pelanggaran ak an berpikir lagi sebelun berbuat pelanggaran.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment