Menghayati Kembali Panggilan sebagai Guru | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments

Menghayati Kembali Panggilan sebagai Guru

Menghayati Kembali Panggilan sebagai Guru

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pendidikan merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Setiap manusia memerlukan pendidikan, karena pada hakikatnya pendidikan memiliki tugas untuk mencerdaskan manusia.

Bahkan, pendidikan juga memiliki nilai luhur untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan yang membelenggu jiwanya untuk menuju kepada pencerahan jiwa. Sehingga melalui pendidikan, manusia diharapkan mengalami transformasi kehidupan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Sayangnya mendidik manusia bukanlah suatu usaha yang mudah. Mengingat bahwa setiap manusia memiliki tingkat kecerdasan, ketangkasan, dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka, diperlukan kesiapan dan metode belajar yang tepat dari guru agar mampu mendidik manusia yang cerdas serta berbudaya.

Salah satu bentuk utama dari kesiapan guru adalah spiritualitasnya. Seorang guru tidak cukup hanya bermodalkan kepintarannya saja, tidak juga hanya sibuk dalam aktivitas belajar-mengajar.

Lebih dari itu, hal mendasar yang perlu dimiliki oleh guru adalah spiritualitasnya. Sebab spiritualitas merupakan napas, jiwa, roh, kesadaran diri yang memberikan suatu kehidupan dalam diri seseorang (hlm. 19). Spiritualitas dalam hal ini menyentuh dan bekerja pada ranah kedalaman diri sang guru.

Singkatnya, ia bagaikan penggerak yang memberikan semangat kepada guru dalam menghayati panggilan hidupnya sebagai pendidik. Karena itu, seorang guru yang memiliki spiritualitas yang tinggi, ia akan memahami motivasi dirinya menjadi seorang pendidik. Sebaliknya, guru yang tidak memiliki spiritualitas yang tinggi tidak akan memahami motivasinya menjadi seorang guru. Sang guru akan memberikan dampak buruk tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga kepada siswanya.

Ia akan mudah loyo, tidak bersemangat dalam mengajar, tidak kreatif, membosankan, bahkan tidak peduli terhadap perkembangan siswanya. Karena itu guru perlu menyelidiki dan merefleksikan kembali motivasinya menjadi seorang pendidik. Melalui refleksi tersebut diharapkan guru mengenali dan menghayati kembali motivasinya sebagai seorang pendidik.

Lantas bagaimana cara mengenali guru yang memiliki spiritualitas yang tinggi? Pertama, seorang guru akan memiliki kesadaran bahwa mendidik adalah panggilan hidupnya. Kedua, mendidik merupakan panggilan dari Tuhan. Ketiga, guru memiliki kesadaran yang mendalam akan kebutuhan dan perkembangan bangsa dan negaranya. Keempat, guru memiliki sentuhan yang mendalam kepada subjek didiknya. Kelima, ia memiliki kepekaan dan terpukau pada situasi anak-anak yang terlantar. Keenam, ia memiliki semangat melayani, membantu, dan berbagi (hlm. 29).

Guru tersebut akan menyadari bahwa tugas mendidik adalah mendidik siswa, bukan terutama mengajarkan bahan pelajaran. Artinya, guru sejati adalah dia yang menyadari bahwa dirinya bukanlah guru mata pelajaran.

Lebih dari itu, ia adalah guru dari siswa-siswanya (hlm. 69). Jadi, titik utamanya tidak lagi berpusat pada mengajarkan bahan pelajaran semata, sebab guru seperti itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia hanya tahu mengajarkan sejumlah materi tanpa peduli dengan keadaan dan perkembangan siswanya.

Hal itu mengindikasikan bahwa pendidikan pada dasarnya bersifat menyeluruh dan tidak hanya berpusat pada satu titik kebutuhan semata. Sifat menyeluruh tersebut sudah sepatutnya terealisasikan dalam setiap proses pembelajaran yang hendak dijalankan oleh seorang guru.

Tepatlah kiranya perkataan Ki Hadjar Dewantara bahwa dalam mendidik manusia perlu menekankan proses “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Diresensi Firman Siregar, Alumnus Universitas Kristen Satya Wacana

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment