Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Rumah Merah Putih

Menghargai Keberagaman di Daerah Perbatasan

Menghargai Keberagaman di Daerah Perbatasan

Foto : dok Rumah Merah Putih
A   A   A   Pengaturan Font

Setelah vakum sekitar lima tahun, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen melalui Alenia Pictures kembali membuat film, masih dengan ciri khasnya yang bertema nasionalis nan inspiratif dengan latar cerita menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus.

Ari Sihasale, sutradara sekaligus produser film Rumah Merah Putih (RMP), meng­ungkapkan film yang ia bikin menceritakan kehidupan anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki kecintaan sangat besar pada Indonesia.

Ia mengemukakan ide penggarapan kisah RMP telah muncul sejak lima tahun lalu, yakni cinta dan nasionalisme masyarakat perbatasan yang tidak pernah berubah.

“Cinta Indonesia menjadi pesan utama kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ter­utama sekarang ini, setelah Pilpres dan lain-lain,” katanya Senin (17/6) ketika konferensi pers di Jakarta.

Ia berharap melalui film ini masyarakat dapat lebih mencintai Indonesia meski berbeda-beda asal daerahnya, namun tetap Indonesia.

“Ingin sampaikan rasa cinta Tanah Air jangan sampai hi­lang. Dalam keadaan apapun jangan putus persaudaraan dan hidup dalam bingkai Merah Putih,” ucapnya.

Ari Sihasale mengatakan film RMP akan menjadi awal “trilogi perbatasan” yang nantinya juga akan membahas kehidupan perbatasan di Papua dan Kalimantan.

Eksekutif Produser film RMP, Nia Sihasale Zulkarnaen mengatakan saat ini merupa­kan waktu yang tepat untuk menayangkan film RMP.

“Film Alenia dibuat untuk semua umur. Paling cocok kalau ditayangkan selama liburan. Dari Agustus 2018 su­dah mempersiapkan produksi dengan cerita yang sebetulnya sudah kami punya sejak empat tahun lalu,” ujarnya.

Film RMP siap tayang pada hari ini, Kamis (20/6), menampilkan anak-anak asli NTT, dua di antaranya adalah Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao. Bintang lainnya adalah Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, dan pendatang baru Dicky Tatipikalawan.

Film RMP berkisah tentang Farel Amaral yang diperankan Petrick Rumlaklak dan Oscar Lopez (Amori De Purivicacao) tinggal di perbatasan NTT-Timor Leste. Meskipun hidup dengan kesederhanaan, rasa cinta mereka terhadap Tanah Air sangatlah dalam.

Kisah berawal dari satu minggu menjelang perayaan 17 Agustus ketika empat sekawan Farel dan Oscar akan mengikuti lomba panjat pi­nang yang meriah.

Namun bukannya bersatu, mereka berdebat hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka gagal dan kemudian menyalahkan satu sama lain.

Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah kemana. Takut dimarahi ayah­nya, Farel, Oscar dan teman-temannya berupaya mengum­pulkan uang untuk membeli cat pengganti yang hilang.

Namun tidak cukup itu saja masalah mereka, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa persediaan cat merah putih sudah habis karena perayaan 17 Agustus sudah semakin dekat. Perjalanan Farel, Oscar dan teman-te­mannya untuk merayakan hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus menjadi cerita utama film.  pur/R-1

Syuting Film di Provinsi NTT

Ari Sihasale beralasan, kenapa syuting film RMP di Provinsi NTT, karena daerah itu punya ba­nyak hal postif yang harus ditularkan ke daerah-daerah lain di Tanah Air.

“Di sini (NTT) bagus, saudara-saudara di sini bisa menularkan banyak hal yang positif untuk saudara-saudara kita di Jakarta dan daerah lain­nya di Indonesia,” katanya.

Ari Sihasale bersama produser Nia Zulkarnaen dan sederet nama besar yang membintangi film RMP seperti Pevita Pearce, Yama Carlos, dan Shafira Umm, berada di Kota Kupang dalam rangka penayangan perdana film tersebut di Lippo Plaza Kupang pada Sabtu (15/6) malam.

Ia mengatakan dirinya sering kali melakukan syut­ing film di wilayah Indonesia bagian timur seperti di NTT maupun Papua.

“Kenapa saya harus syuting di NTT, di Papua, jawaban saya, kenapa tidak, kenapa ha­rus syuting di Jakarta,” kata Ale, sapaan akrab Ari Sihasale.

Ia menambahkan, kita harus banyak belajar di sini (NTT), banyak belajar dari saudara-saudara, adik-adik (anak-anak asli dari NTT yang membin­tangi film RMP) kita di sini.

Menurutnya, alasan ini mendasari dirinya membuat film RMP di NTT agar warga Indonesia di daerah lain yang sering kali berselisih karena berbagai kepentingan dapat belajar tentang pesan persau­daraan dari daerah setempat.

Film RMP yang diprod­uksi Alenia Pictures tayang perdana di Kota Kupang dalam kegiatan peluncuran yang dipusatkan di Lippo Plaza Ku­pang yang dihadiri Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama Wakilnya Josef Nae Soi beserta para pejabat Forkopimda dan Pemerintah Kota Kupang.

Film tersebut ditonton ber­sama Presiden Joko Widodo di Jakarta pada Senin (17/6) sebelum ditayang serentak di bioskop Tanah Air pada hari ini, Kamis.

Syuting film bernuansa ke­bangsaan ini dilakukan di Desa Silawan dan Kota Atambua, Kabupaten Belu, wilayah per­batasan dengan Timor Leste dengan melibatkan anak-anak asli dari NTT sebagai pemeran utama.  pur/R-1

Tak Punya Pengalaman Akting

Alenia Pictures mem­persembahkan film terbarunya yang berjudul RMP, ini merupa­kan produksi film panjang pertama setelah lima tahun vakum.

“Memang kami beristira­hat selama lima tahun bikin film karena empat tahun ini kita lebih banyak bikin dokumenter. Kita memang menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan film untuk seluruh penonton Indonesia,” ungkap Ale.

Alenia Pictures selalu membuat film yang mengangkat teman anak-anak dan nasionalisme, begitu juga dengan film yang sekarang. Bahkan, Ale dan Nia Sihasale Zulkarnaen, mengajak anak-anak asli NTT yang tidak memiliki latar belakang dan pengalaman akting.

“Tujuh pemain utamanya anak-anak yang berasal dari NTT, mereka terpilih dari casting yang cukup ketat. Se­mua yang main di sini tidak ada yang punya pengalaman. Tapi hanya dengan workshop akting selama dua minggu, mereka luar biasa sekali,” ujar Nia.

Menurut Nia, film ini juga terinspirasi dari kejadian yang sempat viral di mana bendera merah putih tidak bisa dikibarkan. Kisah viral tersebut ternyata mirip de­ngan skenario yang telah Alenia buat sejak empat tahun lalu.

“Skrip sudah ada sejak empat tahun lalu, tapi kita enggak tahu kalau ternyata ada kejadian yang viral pada Agustus tahun lalu. Karena kejadian itu, kita ngerasa kalau film ini memang harus diproduksi dan ini waktu yang tepat untuk mengeluar­kan filmnya,” pungkas Nia. pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment