Koran Jakarta | September 22 2018
No Comments

Menggelorakan Merdeka dari Mental “Inlander”

Menggelorakan Merdeka dari Mental “Inlander”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bung Karno dan Revolusi Mental

Penulis : Sigit Aris Prasetyo

Penerbit : Imania

Cetakan : November 2017

Tebal : 320 halaman

ISBN : 978–602- 7926-37-0

 

Gelora revolusi mental yang pernah digemakan Bung Karno lebih kembali bergaung ketika tahun 2015 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencanangkan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Ini upaya sistematis untuk meningkatkan integritas, etos kerja, dan gotong royong manusia Indonesia.

Pencanangan Presiden Jokowi pada dasarnya kelanjutan amanat Bung Karno bahwa revolusi belum selesai. Gerakan tersebut merupakan perjuangan bangsa untuk mengikis mental inlander yang ratusan tahun diformat penjajah. Bung Karno merasakan sendiri betapa ganasnya penyakit mental tersebut. Ia menyuburkan inferioritas, ketidakmandirian, lemah dalam persatuan, dan mudah dipecah belah. Mental minder lebih mengedepankan kepentingan personal dan gampang kagum kepada bangsa asing atau produknya. Hal itu bisa menegasikan kehebatan produk bangsa sendiri.

Berdasarkan riset Edward W Said, para kolonialis sengaja mendesain agar bangsa terjajah mengidap mental tersebut, diwariskan secara genetis agar mudah dijajah. Mereka tidak melawan dan menganggap para penjajah lebih unggul. “Mentalitas jongoisme inilah yang menyebabkan kolonialisme dapat bertahan ratusan tahun,” katanya (hlm 253).

Buku ini menuturkan 34 kisah perjuangan Bung Karno menggelorakan revolusi mental guna membersihkan penyakit mental tadi. Kendatipun Indonesia secara de jure sudah merdeka, ikatan keterjajahan secara de facto dalam mental masih kuat. Nilai dasar revolusi mental digagas guna mengembalikan jati diri bangsa.

Soekarno memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia dan menganjurkan rakyat mempelajari tarian bangsa sendiri serta meninggalkan tarian bangsa asing. Bahkan, Presiden pertama ini minta putri-putrinya mempelajari. Presiden juga menyerukan agar produk dalam negeri lebih dicintai. Cindy Adams mengisahkan kekesalan Soekarno kepada koki Istana yang menyajikan kue Eropa daripada makanan khas Indonesia. “Kita mempunyai panganan yang enak-enak, mengapa bukan itu yang disajikan,” tanya Bung Karno (hlm 247).

Bung Karno juga berusaha menyatukan bangsa di atas keragaman karena sadar, taktik licik penjajah berhasil melemahkan kekuatan rakyat dengan stratifikasi suku, agama dan ras. Di setiap mimbar dia serukan Indonesia untuk semua, bukan satu golongan. Dia marah ketika peristiwa rasialisme meletus pada tahun 1963 di Bandung. “Rasialisme hanya membikin malu kita sebagai bangsa,” katanya (hlm 39).

Bagi Bung Karno, bukan hal mustahil bersatu dalam perbedaan. Contoh, Swiss dan Amerika yang berhasil menjaga persatuan dalam keberagaman. Perbedaan adalah simbol kelebihan. Bagi Bung Karno, identitas keindonesiaan tidak dilihat dari kulit, suku atau agama, tapi sumbangsihnya terhadap bangsa.

Ketika Oei Thoe Tat, salah seorang menterinya, mengajukan permohonan untuk mengubah namanya agar sama dengan nama rakyat Indonesia, Bung Karno justru marah. “Apa? Kamu kan orang Timur? Apa kamu kehilangan hormat pada ayahmu yang memberi kamu nama itu? Terserah, tapi untukku Kolonel Pieters, Douwes Dekker atau John Lie lebih Indonesia daripada macam Kartosuwiryo,” katanya (hlm 41).

Buku ini juga mengisahkan tentang pluralitas darah dalam diri Bung Karno. Ibunya beragama Hindu dari Bali dan ayahnya muslim dari Jawa. Dalam skala kebangsaan dia tidak membawa indentitas personalnya. Dalam kabinet, Soekarno merangkul semua pemeluk di dalamnya. Arsitek Masjid Istiqlal dipasrahkan kepada Frederik Silaban yang beragama Kristen. 

 

Diresensi Muhammad Aminulloh, Alumnus STAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment