Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Mengerem Pelemahan Rupiah

Mengerem Pelemahan Rupiah

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Muhammad Husein Heikal

Standard & Poor’s (S&P) telah mewanti-wanti agar rupiah tidak sampai terjerumus ke level 15.000 per dollar AS. Sebab semakin hari tren penguatan dollar AS menjadi-jadi, seiring dengan menguatnya kekhawatiran pemerintah. Pada Jumat (31/8) rupiah sempat menyentuh level 14.800 per dollar AS. Padahal sehari sebelumnya masih bertahan di level 14.700.

Dengan ini dapat dikatakan, kurs terus memburuk secara konsisten. Perlu dicatat pula, angka ini merupakan terlemah sejak krisis moneter 1998. Lantas, apakah sebenarnya yang akan terjadi jika nilai tukar dollar AS terhadap rupiah mencapai 15.000? Dari hasil uji stress test, S&P berujar, situasi demikian merupakan bentuk turbulensi yang nyata!

Depresiasi seperti ini sangat berbahaya karena terjadi pelemahan yang begitu siginifikan hanya dalam tempo beberapa bulan. Tentu ini berdampak pada kinerja ekonomi nasional dan berimbas besar terhadap kegiatan bisnis. Kondisi ini menyebabkan pengusaha ataupun perusahaan yang membutuhkan dollar AS untuk transaksi dan kegiatan operasionalnya akan terganggu.

Dampaknya, perusahaan akan melakukan efisiensi. Ini bisa dengan cara menjual aset atau justru mereduksi jumlah karyawannya. Selain itu, ini juga dapat menurunkan kepercayaan investor menanamkan modalnya di Indonesia. Berbagai prediksi yang menyatakan, rupiah tak bakal meringsek sejauh ini, kenyataannya telah gugur.

Bahkan Menko Perekonomian Darmin Nasution, ketika ditanya apakah dollar AS bisa menembus 15.000, ia menukas, “Yang benar saja.” Ya, saat ini hal itu belum benar-benar terjadi. Akan tetapi, kekhawatiran kita semakin memuncak begitu melihat pergerakan kurs yang terus naik. Entah beberapa hari lagi hal itu akan benar-benar terjadi. Lalu, apakah jalan keluar yang bisa diambil untuk meredam gejolak rupiah ini?

Ada beberapa opsi yang dilakukan suatu negara untuk mempertahankan kestabilan mata uangnya. Indonesia telah merealisasikan beberapa di antaranya seperti mengerek suku bunga. Dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan, BI 7-days Repo Rate telah melesat begitu cepat. Terhitung sejak September 2017, suku bunga telah naik sebesar 125 bps.

Saat ini suku bunga berada di posisi 5,5 persen. Anehnya, meski opsi ini telah dilakukan, rupiah tetap tak mampu menahan terjangan dollar AS. Walaupun pada saat suku bunga dinaikkan, rupiah mampu bertahan, hanya terhitung beberapa hari saja. Kini, BI 7-days Repo Rate telah mencapai titik ahead the curve.

 

Opsi-opsi

Opsi lain, intervensi melalui devisa, namun harus disadari bahwa cadangan devisa telah terkuras cukup banyak dalam upaya mengerem pelemahan rupiah. Akibatnya, cadangan devisa tergerus hingga akhir Juli 2018 menjadi 118,3 miliar dollar AS. Bila tren penguatan dollar AS tak juga berhenti atau setidaknya tertahan, bukan tidak mungkin cadangan devisa bakal tergerus lebih dalam.

Opsi berikut, menekan defisit transaksi berjalan. Tercatat transaksi berjalan Indonesia telah mengalami defisit terus-menerus sejak tahun 2012. Defisit transaksi berjalan artinya dollar AS yang dihasilkan dari kegiatan perdagangan lebih kecil dari dollar AS yang keluar. Secara kumulatif bagi negara yang mengalami defisit transaksi berjalan, bisa disebut sebagai negara yang lebih memerlukan dollar AS daripada menghasilkan dollar AS. Adapun cara untuk menutupi defisit transaksi berjalan, Indonesia membutuhkan transaksi finansial berupa aliran modal dan investasi portofolio.

Terhitung pada kuartal I-2018 defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 5,542 miliar dollar AS (2,15 persen terhadap PDB). Sementara itu, kuartal II-2018 justru semakin membengkak di level 3 persen. Walau BI tetap optimistis meramal pada akhir tahun, defisit transaksi berjalan bakal menjadi 2,5 persen, dan tahun depan hanya 2 persen karena perluasan pengunaan biodiesel 20 persen atau B20. Satu hal yang mesti diingat, negara yang terbebani defisit transaksi berjalan sangat terntan pada capital outflow, terutama di masa ekonomi yang bergolak.

Opsi-opsi tadi merupakan pilihan jangka pendek untuk menahan pergerakan nilai tukar rupiah. Dapat disaksikan realita opsi-opsi ini tidak cukup efektif menahan keperkasaan dollar AS yang semakin tak terbendung. Begitupun, sebenarnya ada opsi lain, namun membutuhkan jangka waktu panjang, yakni restrukturisasi perekonomian nasional.

Strategi ini dapat dimulai dari membenahi industri dalam negeri untuk memperbesar porsi perdagangan internasional. Industri dalam negeri menciptakan supply chain sendiri. Ini dilakukan agar mengurangi porsi terhadap impor. Meningkatkan produksi minyak juga merupakan momentum yang baik di tengah melesatnya harga minyak.

Ini juga berdampak pada pengurangan impor minyak. Kemudian memperbesar investasi, dengan memperkuat porsi kepemilikan modal domestik. Meski sesungguhnya, kita harus mengakui bahwa opsi jangka panjang ini menimbulkan sikap yang dilematis. Semua harus dilakukan dalam kurun waktu tidak singkat dan juga memerlukan biaya tidak sedikit. Ini semakin menguatkan pandangan bahwa ekonomi Indonesia saat ini semakin tidak kompetitif.

Maka, opsi terakhir yang dapat diambil untuk segera meredam gejolak rupiah dengan membuat Perppu pengganti UU No 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Pemerintah mesti membuat aturan tegas yang mewajibkan para pengusaha memulangkan devisa hasil ekspor (DHE) dan mengonversinya ke rupiah.

Tak sekadar itu, para pengusaha juga ditetapkan untuk menahan devisanya dalam kurun waktu tertentu. Walau saat ini, Indonesia menganut sistem devisa bebas, jika ini dapat dilakukan, pasokan dollar AS di dalam negeri akan meningkat. Dampak positifnya, terjadi stabilisasi kurs rupiah. Dengan demikian, rupiah tak bakal sempat terperosok ke dalam palung 15.000 per dollar AS.


Penulis Analis Economic Action Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment