Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments
Adji Andjono, General Manager Sales Modern Trade PT Ultra Jaya

Mengerahkan Daya Kreativitas

Mengerahkan Daya Kreativitas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dua puluh tahun berkecimpung dalam satu bidang pekerjaan membuat seseorang semakin mumpuni menjalankan tugasnya. Seperti itulah gambaran sosok Adji Andjono, General Manager Sales Modern Trade PT Ultra Jaya.

Selepas kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 1990, rekan sekampus Presiden Jokowi di Fakultas Kehutanan ini melanjutkan sekolah di Magister Manajemen Universitas Prasetiya Mulya. Seusai meraih gelar master, pada 1992, Adji Andjono langsung diterima pada divisi es krim PT Unilever sebagai management trainee hingga mencapai posisi area sales manager untuk Sumatera.

“Tantangannya kala itu selain persoalan infrastruktur adalah habit pelanggan yang berbeda, harus dihadapi dengan bagaimana kita menyiapkan cara berjualan agar bisa diterima pelanggan. Setiap daerah memang perilaku konsumennya punya perbedaan,” tutur Adji.

Pada tahun 1997, pascaakuisisi Campina oleh Sabana Prawirawidjaja, pemilik PT Ultra Jaya , Adji yang sempat bercita-cita sebagai dokter itu langsung dipercaya sebagai National Sales and Marketing Manager, sebuah jabatan dengan tugas yang cukup berat, mengingat pasar es krim di Nusantara yang masih mencari bentuk dan ketatnya persaingan.

“Waktu itu pabriknya belum modern seperti sekarang. Beliau (pemilik Ultra Jaya) mencari tenaga penjualan yang berpengalaman pada bidang es krim. Saya bertemu dan ada kecocokan, lalu saya bekerja di Campina sampai sekarang,” papar dia.

Adji harus mengerahkan segala daya kreativitas untuk bertahan dalam kompetisi, mengingat pesaing utamanya adalah produk berlabel luar negeri. Strategi utama yang tetap dikeluarkan adalah konsisten dalam pemakaian bahan baku berkualitas dan menjaga mutu proses produksi. Cara yang ditempuh selain membina hubungan dengan supplier, baik di dalam dan luar negeri, Campina juga melakukan modernisasi pabrik yang berada di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya.

“Kemudian pada 2009, tercetus ide bersama kawan-lawan lainnya untuk membantu pemasaran. Karena iklan televisi kita tidak segencar kompetitor, maka kami membuka factory visit, yang berjalan sampai sekarang hingga 3 shift sehari,” tutur dia.

Adji menilai konsep factory visit dalam pemasaran merupakan cara jitu untuk menumbuhkan kesetiaan pelanggan terhadap suatu produk. Kini, setiap hari ratusan orang, terutama anak-anak sebagai segmen utama, bebas datang ke pabrik untuk melihat proses produksi dan pengiriman ice cream Campina. Bahkan, pengunjung yang datang bisa masuk ke gudang penyimpanan yang suhunya mencapai hampi minus 30 derajat Celsius.

“Kita ingin memberikan experencial marketing, yakni pengalaman pada anak-anak sebagai segmen utama. Dengan cara ini, mereka melihat langsung dan memahami proses produksi, agar lebih loyal pada produk kita. Kami ingin menunjukkan pada konsumen, meskipun Campina perusahaan lokal, tapi tetap memproduksi es krim dengan standar internasional, nilai positifnya wawasan anakanak bertambah. Hal ini perlu dilakukan karena mau tidak mau kompetitor kami adalah perusahaan multinasional sehingga kita harus bermain dalan hal mutu,” tutur dia.

Sementara untuk menghadapi sejumlah pesaing baru yang menjalankan strategi harga murah, pihaknya menggencarkan penetrasi pasar dan inovasi tampilan produk.

“Penetrasi dilakukan dengan penguatan dan perluasan jaringan distribusi, baik pada pasar modern maupun traditional market. Selain merepackaging (mengemas ulang) produk lama dengan tampilan yang lebih menarik agar konsumen selalu merasa mendapat new excitement,” ujarnya.

Menjalankan Amanah

Karena sukses menjaga tingkat penjualan, pada 2010, Adji dipercaya menjadi General Manager Sales Modern Trade PT Ultra Jaya. Tugas pemilik hobi travelling ini adalah menjual produkproduk Ultra ke channel modern trade, seperti hypermarket, supermarket, dan minimarket.

“Sifatnya lebih memanaging customer, namanya customer modern trade permintaan semakin bertambah sehingga kita harus pintar-pintar negoisasi agar perjanjiannya menguntungkan kita. Juga mengatur agar suplai tetap terjaga sehingga customer tidak kecewa,” kata dia.

Meski mengemban dua tugas yang berbeda, Adji tetap menjalankan amanah dengan sebaik mungkin dan penuh tanggung jawab. Menurutnya, kunci sukses dalam berkarir adalah punya rasa cinta terhadap pekerjaan.

“Dengan kecintaan itu, kita akan mendalami teknis pekerjaan agar mumpuni melakukannya. Setelah itu dengan tim yang ada, kita harus punya empati dalam mengelola SDM,” ujar Adji.

Dia menambahkan dengan pengelolaan sumber daya manusia dan kontrol seimbang terhadap setiap anggota tim, Adji dapat membagi waktu lebih efesien antara dua tugasnya itu. Terpenting adalah mendelegasikan kepada tim. Sebab, dengan delegasi tim akan lebih berkembang, dan mature dalam menjalankan tugas, yang pada akhirnya secara organisasi semuanya akan lebih diuntungkan.

“Kita juga harus bisa memilah anggota tim mana yang masih harus diberi instruksi, yang fifty-fifty, dan yang bisa dilepas. Untuk pengelolaan manusia memang harus dilihat bahwa setiap orang berbeda sehingga harus memahami sisi psikologis setiap orang, sambil terus berupaya sebaik mungkin memahami bahwa potensinya akan keluar,” pungkasnya. selocahyo/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment