Koran Jakarta | March 30 2017
No Comments

Mengendalikan Stres dengan Gerak Ritmik dan Tangis

Mengendalikan Stres dengan Gerak Ritmik dan Tangis

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Teknik Menghilangkan Stres dari Otak
Penulis : Arita Hodeho
Penerbit : Gramedia
Tebal : vii+ 157 Halaman
ISNB : 978-602-03-3435-6
Cetakan : I, 2016

Kehidupan penuh dengan dinamika, terkadang membuat stres yang menjadi musuh karena membuat tidak nyaman, gelisah, bahkan bisa berimplikasi pada timbulnya penyakit fisik. Ada yang berpendapat, untuk menjadi kuat dalam kehidupan dengan menjadi kuat menghadapi stres.

Namun, pendapat ini tidak sejalan dengan buku Teknik Menghilangkan Stres dari Otak karya Arita Hideho. Menurutnya, arti sebenarnya dari orang kuat menghadapi stres bukanlah mengalahkan stres, tetapi dia bisa menghindari stres dengan baik dan mengontrolnya menjadi sesuai dengan tingkatan yang sesuai buat dirinya.

Menurut Profesor Fakultas Kedokteran Universitas Toho, Jepang ini, stres yang dirasakan seseorang berasal dari tekanan otak melalui neurotransmiter. Stres otak harus dikontrol untuk membentuk fisik yang bisa menepis stres. Fungsi ini bisa ditingkatkan, dengan mengaktifkan saraf serotonin. Selain itu, untuk menghilangkan sekaligus stres menumpuk. Fungsi ini bisa diaktifkan dengan mengeluarkan air mata.

Jalan untuk mengaktifkan saraf serotonin dengan melakukan gerakan ritmik. Gerak ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya menggunakan pernapasan perut. Ini dimulai dengan pembuangan napas, lalu melakukan pernapasan dengan menonjol dan mengempiskan perut. Cara lain dengan meditasi sebagai perpaduan antara napas perut dalam dan kontemplasi.

Pernapasan perut saat meditasi dilakukan tidak memaksakan diri, tapi dengan kesadaran sebisa mungkin menghembuskan napas secara penuh secara perlahan. Dengan jalan kaki atau joging dalam ritme tertentu saraf serotonin akan aktif. Bisa juga dengan mengunyah sebagai gerakan ritmik yang mampu mengaktifkan saraf serotonin seperti permen karet.

Adapun untuk pengeluaran air mata dengan menangis, menurut buku, air mata yang selalu membasahi mata untuk melindungi mata. Peningkatan mata kering yang disebabkan kelelahan, bekerja di depan komputer dalam waktu panjang, penyebaran AC, dan lainnya merupakan penyakit kurang air mata basah.

Air mata refleks yang keluar saat kemasukan kotoran atau memotong bawang merah. Air marta ini untuk membersihkan benda asing yang masuk. Air mata emosional yang keluar saat sedih atau terharu. Air mata ini bisa untuk melawan stres sebagai terapi. Dengan catatan menangis tanpa memaksakan diri saat dibutuhkan dan sebaiknya dilakukan secara berkala mengeluarkan air mata simpati.

Dengan mengeluarkan air mata haru, selain melenyapkaan stres, di waktu yang bersamaan juga meningkatkan fungsi otak simpatik. Ini berfungsi untuk menumbuhkan rasa sosial dan simpati pada orang lain. Buku Teknik Menghilangkan Stres dari Otak ini layak dijadikan bahan bacaan Anda yang sedang stres dalam kehidupan. 

Muhrishol Yafi, Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment