Mengenali Karakter Gen Z di Dunia Kerja | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments

Mengenali Karakter Gen Z di Dunia Kerja

Mengenali Karakter Gen Z di Dunia Kerja
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Gen Z @ Work

Penulis : David Stillman dan Jonah Stillman

Penerbit : Gramedia

Cetakan : 2019

Tebal : xxiv+268 halaman

ISBN : 978-602-03-7981-4

Perputaran dunia sangat cepat. Di saat milenial baru mera­sakan duduk di kursi strategis perusahaan, generasi baru menyerbu dunia kerja yang sama sekali berbeda dengan milenial. Welcome to the work! Dengan jumlah 72,8 juta, gen Z hadir di lingkungan kerja dan perusahaan (halaman 1). Mengapa dunia kerja harus mengenali mereka? Agar da­pat dipahami bahwa gen Z memiliki karakter berbeda dengan generasi sebelumnya, milenials.

Hal tersebut berimbas pada perekrutan, jalur karier, komunikasi, serta segala lingkungan kerja. Buku ini memperkenalkan tujuh sifat gen Z. Gen Z hidup dalam kemajuan teknologi yang tidak ada lagi pembatas antara dunia fisik dan digital (figital). Dalam rekrutmen pekerjaan, resume berbentuk video diasumsikan lebih menggambarkan autentisitas. Meski­pun serbafigital, dalam komunikasi pekerjaan, sebagian besar gen Z lebih menyukai tatap muka (halaman 79).

Gen Z selalu terdorong untuk melakukan kustomisasi identitas dan menunjukan pada dunia. Kustomisasi gen Z di lingkungan kerja, misalnya, pada nama jabatan, jalur karier, uraian pekerjaan. Dalam studi nasional di­ungkapkan, 56 persen gen z lebih suka menuliskan sendiri uraian pekerjaan­nya daripada diberi uraian umum (halaman 96).

Gen Z memunculkan sikap yang lebih realistis saat berurusan de­ngan karier. Hal ini tidak terlepas dari orangtuanya, gen X, yang skeptis dalam membesarkan gen Z pada lingkungan sosioekonomi yang rumit. Menurut Northeastern University, 79 persen gen Z memilih program pendi­dikan dipadukan dengan pengalaman praktik seperti magang (halaman 130).

Gen Z tidak mengenal dunia, tanpa koneksi. Survei nasional menunjukan, 44 persen gen Z mengecek media sosial setidaknya setiap jam. Di mana 7 persen di antaranya mengecek lebih sering, 15 menit sekali. Hal ini mem­buat mereka selalu terdepan dalam tren dan kompetisi. Fomo membuat 32 persen gen Z lebih memilih tiga hari, tanpa mandi daripada, tanpa ponsel (halaman 173).

Gen Z mendukung prinsip ekonomi berbagi dengan menempatkan diri sebagai filantropis. Ada 93 persen gen Z mengatakan, perusahaan mempen­garuhi kerja mereka (halaman 62). Weconomist gen Z ini dilakukan de­ngan cara-cara baru, misalnya, mem­beri dan berbagi melalui lensa bisnis.

DIY (do it yourself), ciri lain gen Z yang tumbuh dengan dunia internet, khususnya youtube yang dapat menga­jari banyak materi. Pada kenyataannya, gen Z-lah yang memiliki banyak in­formasi. Atasan menjadi pembimbing dari samping. Gen Z percaya dengan pernyataan “Jika ingin melakukannya dengan benar, lakukanlah sendiri.”

Gen Z siap dan giat dalam berkom­petisi. Mereka meyakini adanya pemenang dan pecundang. Dari survei nasional, 72 persen gen Z men­gatakan, mereka kompetitif terhadap orang yang melakukan pekerjaan sama (halaman 224). Di tempat kerja, para atasan perlu menata ulang sifat terpacu ini untuk tidak hanya me­mahami gen Z, tapi juga tahu cara menghadapinya.

Buku ini salah satu pelopor dialog gen Z di dunia kerja dengan menya­jikan riset tentang gen Z sebagai data konkret dalam menyajikan tulisan. Uniknya, dalam buku terdapat dialog antara sang ayah (mewakili gen X) dan anak (mewakili gen Z) yang menam­bah unik karya ini. Diresensi Liah Siti Syarifah, S2 Administrasi Pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment