Koran Jakarta | May 27 2019
No Comments

Mengenali Karakter Gen Z di Dunia Kerja

Mengenali Karakter Gen Z di Dunia Kerja
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Gen Z @ Work

Penulis : David Stillman dan Jonah Stillman

Penerbit : Gramedia

Cetakan : 2019

Tebal : xxiv+268 halaman

ISBN : 978-602-03-7981-4

Perputaran dunia sangat cepat. Di saat milenial baru mera­sakan duduk di kursi strategis perusahaan, generasi baru menyerbu dunia kerja yang sama sekali berbeda dengan milenial. Welcome to the work! Dengan jumlah 72,8 juta, gen Z hadir di lingkungan kerja dan perusahaan (halaman 1). Mengapa dunia kerja harus mengenali mereka? Agar da­pat dipahami bahwa gen Z memiliki karakter berbeda dengan generasi sebelumnya, milenials.

Hal tersebut berimbas pada perekrutan, jalur karier, komunikasi, serta segala lingkungan kerja. Buku ini memperkenalkan tujuh sifat gen Z. Gen Z hidup dalam kemajuan teknologi yang tidak ada lagi pembatas antara dunia fisik dan digital (figital). Dalam rekrutmen pekerjaan, resume berbentuk video diasumsikan lebih menggambarkan autentisitas. Meski­pun serbafigital, dalam komunikasi pekerjaan, sebagian besar gen Z lebih menyukai tatap muka (halaman 79).

Gen Z selalu terdorong untuk melakukan kustomisasi identitas dan menunjukan pada dunia. Kustomisasi gen Z di lingkungan kerja, misalnya, pada nama jabatan, jalur karier, uraian pekerjaan. Dalam studi nasional di­ungkapkan, 56 persen gen z lebih suka menuliskan sendiri uraian pekerjaan­nya daripada diberi uraian umum (halaman 96).

Gen Z memunculkan sikap yang lebih realistis saat berurusan de­ngan karier. Hal ini tidak terlepas dari orangtuanya, gen X, yang skeptis dalam membesarkan gen Z pada lingkungan sosioekonomi yang rumit. Menurut Northeastern University, 79 persen gen Z memilih program pendi­dikan dipadukan dengan pengalaman praktik seperti magang (halaman 130).

Gen Z tidak mengenal dunia, tanpa koneksi. Survei nasional menunjukan, 44 persen gen Z mengecek media sosial setidaknya setiap jam. Di mana 7 persen di antaranya mengecek lebih sering, 15 menit sekali. Hal ini mem­buat mereka selalu terdepan dalam tren dan kompetisi. Fomo membuat 32 persen gen Z lebih memilih tiga hari, tanpa mandi daripada, tanpa ponsel (halaman 173).

Gen Z mendukung prinsip ekonomi berbagi dengan menempatkan diri sebagai filantropis. Ada 93 persen gen Z mengatakan, perusahaan mempen­garuhi kerja mereka (halaman 62). Weconomist gen Z ini dilakukan de­ngan cara-cara baru, misalnya, mem­beri dan berbagi melalui lensa bisnis.

DIY (do it yourself), ciri lain gen Z yang tumbuh dengan dunia internet, khususnya youtube yang dapat menga­jari banyak materi. Pada kenyataannya, gen Z-lah yang memiliki banyak in­formasi. Atasan menjadi pembimbing dari samping. Gen Z percaya dengan pernyataan “Jika ingin melakukannya dengan benar, lakukanlah sendiri.”

Gen Z siap dan giat dalam berkom­petisi. Mereka meyakini adanya pemenang dan pecundang. Dari survei nasional, 72 persen gen Z men­gatakan, mereka kompetitif terhadap orang yang melakukan pekerjaan sama (halaman 224). Di tempat kerja, para atasan perlu menata ulang sifat terpacu ini untuk tidak hanya me­mahami gen Z, tapi juga tahu cara menghadapinya.

Buku ini salah satu pelopor dialog gen Z di dunia kerja dengan menya­jikan riset tentang gen Z sebagai data konkret dalam menyajikan tulisan. Uniknya, dalam buku terdapat dialog antara sang ayah (mewakili gen X) dan anak (mewakili gen Z) yang menam­bah unik karya ini. Diresensi Liah Siti Syarifah, S2 Administrasi Pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment