Koran Jakarta | December 16 2017
No Comments

Mengenal Karakter Wilayah Pemasaran Asia

Mengenal Karakter Wilayah Pemasaran Asia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul buku : Marketing for Competitiveness

Penulis : Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Hoodi Deen Huan

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : Maret, 2O17

Tebal : xiv + 286 halaman

ISBN : 978-602-291-302-3

Dalam dunia bisnis, konsumen merupakan prioritas utama. Semakin besar jumlahnya, tambah kondusif pemasaran. Asia masuk kategori teratas karena berpopulasi 60 persen seluruh penduduk dunia. Wilayah luas, masyarakat beragam, serta petumbuhan ekonomi semakin membaik sangat menggiurkan para produsen untuk memasarkan produk di Asia.

Buku ini berusaha memotret tantangan pemasar barang di Asia karena beragam perubahan. Asia memang pasar sangat menguntungkan. Namun, tanpa pengetahuan tentang perubahan Asia, akan gagal. Maka body of knowledge tentang perubahan masyarakat Asia harus lebih dulu dipahami.

Perubahan Asia karena teknologi, legal politik, sosiokultural, ekonomi, dan pasar. Faktor tersebut saling terkait dan bertumpu pada teknologi. Di Asia, arus perubahan teknologi sangat kuat dan cepat dari mekanis, elektronik, digital, hingga mobile (hlm xiv). Dominasi teknologi digital dan mobile inilah yang kini menjadi sumbu perubahan masyarakat Asia.

Pada tahun 2014, penetrasi ponsel ke Asia mencapai 93 persen. Separuh negara Asia bahkan mengalami penetrasi ponsel lebih dari 100 persen. Artinya, tiap orang memiliki lebih dari satu ponsel. Tingginya penetrasi ini karena mobile broadband yang semakin meningkat. Kemudian, vendor ponsel berasal dari Asia sendiri seperti Tiongkok, harga terjangkau, meningkatnya pendapatan serta suksesnya kerja sama pemerintah dan operator jaringan guna memperbaiki infrastruktur komunikasi masyarakat (hlm 3).

Masyarakat Asia memakai ponsel sangat berpengaruh terhadap ekonomi. Ekosistem mobile juga membuka lapangan kerja jutaan orang. Sepanjang tahun 2014, terbuka lapangan kerja 6,5 juta orang di Asia Pasifik dan diperkirakan meningkat hingga 8 juta tahun 2020.

Penetrasi teknologi yang sangat masif ini memengaruhi dunia marketing. Layanan perhotelan konvensional kini terancam dengan online. Layanan transportasi diserang habis-habisan pasukan uber online. Bahkan, banyak pemilik toko terancam dengan e-commerce. Konsumen juga mengalami revolusi konsumsi sejak dari memilih barang, membayar, menggunakan, hingga membuang yang sudah mereka pakai (hlm 42).

Namun, untuk kasus konsumen Asia, ada fenemona menarik yang disebut paradoks digital. Kendatipun teknologi mobile telah banyak mereka miliki dan transaksi online pilihan sekarang, tidak menutup fakta, secara psikologis masyarakat Asia belum sepenuhnya nyaman dengan transaksi online. Masih ada perasaan was-was. Ia bisa dimaklumi sebab transaksi online relatif baru dibanding Amerika dan Eropa.

Maka, perusahaan busana Zalora khusus di Asia menerapkan transaksi cash on delivery dan cash on collection. Transaksi terakhir membiarkan pembeli mengambil dan menyerahkan barang di tempat. Zalora bekerja sama dengan jaringan minimarket.

Kemudahan teknologi digital dengan hanya memanfaat kecanggihan mesin sama sekali tidak bisa menghilangkan sisi kemanusiaan. Kendatipun internet of thing bisa melayani kebutuhan konsumen, mereka juga memerlukan komunikasi personal guna menguatkan diri. Zappos menjadi perusahan yang tidak hanya bertransaksi dengan konsumen lewat Facebook, Whattsap atau email. Dia juga menggunakan telepon untuk menyapa secara personal. “Hal ini membuat Zappos salah satu merek paling direkomendasikan para konsumen,” kata Philip Kotler (hlm 16).

Buku ini ditulis peminat dunia marketing dunia, seperti Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Hoodi Deen Huan. Konten bahasannya penuh data dan analisis sehingga bisa untuk memahami perubahan sosial dan kecenderungan konsumen Asia. 

Diresensi Salman Alfarisi, Lulusan Universitas Airlangga Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment