Mengembangkan Domain Afektif Siswa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Mengembangkan Domain Afektif Siswa

Mengembangkan Domain Afektif Siswa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Lembaga pendidikan atau sekolah selalu menjadi bahan diskursus tak kunjung usai. Sekolah ibarat arena pertarungan modal yang akhirnya memunculkan kelompok dominan. Melalui hidden curriculum, kelompok-kelompok dominan menyebarkan ideologi-ideologinya, sehingga sekolah tak bebas nilai.

Begitulah kiranya, jika memasukkan analisis sosiologi pendidikan dalam membongkar struktur dan sistem sekolah. Namun, sebetulnya tidak berhenti sampai di situ saja. Buku ini menawarkan gagasan-gagasan meluruskan kembali pendidikan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Buku menginginkan kembalinya paradigma pendidikan nasional kepada pembentukan akhlak manusia. Sekolah jangan hanya pembentuk tenaga kerja saja.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 menyebutkan, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Namun, definisi tersebut tidak selaras dengan situasi sekarang. Sekolah hanya menekankan pada domain kognitif dan psikomotorik. Akan tetapi, domain afektif dan moralitas kerap kali dilupakan, padahal sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman.

Pandangan tersebut didukung hasil penelitian yang menyebutkan, “Unsur-unsur tersebut sesungguhnya juga kunci utama menjadikan individu-individu sebagai warga negara yang baik, bahkan angkatan kerja yang kompetitif,” (hlm 30).

Sudah jelas, kekosongan paradigma juga berakhir pada kesalahan praktik pendidikan yang merupakan penerapan teori pendidikan. Model-model pembelajaran yang indoktrinatif, masih saja dilakukan dalam proses pembelajaran sekolah. Padahal, sudah sangat jelas bahwa praktik demikian sangat bertentangan dengan hakikat ilmu pendidikan, yakni prinsip praksis–refleksi dan bertindak.

Kesalahan praktik seperti ini terjadi terus-menerus juga timbul dari ketidakpahaman dalam memandang subjek pendidikan (murid). Kegiatan pendidikan yang seharusnya mengaktualkan potensi diri manusia, justru mengerdilkan. Karena murid hanya dipahami sebagai bejana kosong yang harus diisi penuh oleh guru, sehingga metode yang digunakan ceramah.

Proses pendidikan tentu sarat pelibatan lingkungan alam yang akan membawa peserta didik menjadi individu yang reflektif dan bermoral. Karena pendidikan adalah praksis, maka praktik langsung untuk mendalami realitas dan merefleksikan harus dilakukan dalam pendidikan di sekolah.

Tidak hanya itu, proses pendidikan dengan praktik langsung juga akan menumbuhkembangkan domain afektif dalam peserta didik. Terlebih lagi, domain afektif sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman. Mendekatkan murid dengan lingkungan secara langsung, lebih efektif dalam menumbuhkan sikap dan moralitas.

Daya imajinasi peserta didik juga dapat berkembang. John Dewey menyebutkan imajinasi adalah pintu gerbang untuk menurunkan makna dari pengalaman-pengalaman masa lampau lantas masuk ke sekarang. Imajinasi adalah penyesuaian secara sadar yang baru dan lama (hlm 92).

Sederhananya, imajinasi adalah bentuk refleksi atas dunia melalui aspek historis dan realitas sekarang. Kemudian, melalui praktik langsung melihat lingkugan sekitar, muncul dorongan-dorongan dalam siswa mendalami fenomena melalui daya imajinasinya. Imajinasi ini menjadi salah satu yang tidak dimiliki artifficial intelegence (AI), di samping intuisi dan daya moral.

Buku juga berasumsi bahwa AI akan menjadikan manusia lebih manusia, kalau intuisi, imajinasi, dan daya moralnya dikembangkan dalam proses pendidikan. Bahkan, ini akan menjadi kelahiran baru umat manusia. Buku ini menjadi tawaran baru di tengah putus asa manusia menghadapi perkembangan teknologi.

Diresensi Ahmad Qori Hadiansyah, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment