Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments

Mengatasi Tantangan Hidup dengan Tindakan Iman

Mengatasi Tantangan Hidup dengan Tindakan Iman

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Unstoppable: Kuasa Menakjubkan Tindakan Iman

Penulis : Nick Vujicic

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Maret, 2016

Tebal : 277 Halaman

ISBN : 978-602-03-0095-5

Buku ini mengisahkan Nick Vujicic, pria asal Australia yang terlahir tanpa tangan dan kaki, namun akhirnya mampu menginspirasi jutaan orang, terutama yang mengalami senasib. Sejak lahir, Nick hanya memiliki sebuah telapak kaki kecil dekat pinggul kiri. Kondisi fisik ini sempat membuatnya ingin bunuh diri. Namun, karena cinta pada orang tua, dia mulai bangkit dari keterpurukan dan mampu menjadi motivator kelas dunia. Hingga kini, Nick telah berbicara di hadapan lebih dari tiga juta orang dari 24 negara di lima benua.

Ini merupakan buku keduanya menyusul yang pertama berjudul Life Without Limits. Buku kedua mengisahkan Nick mengatasi berbagai rintangan dengan berfokus pada janji untuk mencapai tujuan spesifik menjadi berkat bagi orang lain. Ia percaya terlepas dari segala keputusasaan dan kesulitan, Tuhan selalu hadir.

Nick menganggap kesuksesannya dari kekuatan yang tidak memiliki batas ketika iman mengambil tindakan. Tindakan iman bukan sekadar mengatakan “saya percaya”, tetapi harus meletakkannya dalam tindakan. Tindakan iman berasal dari kasih. Seperti kata Rasul Paulus, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang. Sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Nick menerapkan tindakan iman tatkala menghadapi krisis, tantangan, dan rasa sakit ekstrem. Ada tiga cara. Pertama, menyesuaikan diri secara internal untuk menata emosi. Ini akan membuat manusia bisa mengendalikan hidup sendiri dan dengan penuh pertimbangan menanggapinya selangkah demi selangkah.

Langkah kedua, mengingatkan diri cara berjuang melewati kesulitan masa lalu hanya untuk bangkit lebih kuat dan lebih bijaksana. Ketiga melibatkan tindakan iman yang telah dimiliki secara eksternal dengan menjangkau ke luar. Ini bukan hanya untuk memperoleh bantuan dan dorongan semangat dari orang lain, tapi juga memberikannya. Ada kuasa penyembuhan dalam keduanya ini. Namun, salah satu cara terbaik mengenyahkan rasa sakit dari pengalaman masa lampau atau ketidaksempurnaan, menggantinya dengan ungkapan syukur (hal 41).

Para peneliti menemukan orang-orang yang berhasil mengatasi kemalangan fisik, bahkan bertumbuh dengan cara-cara yang positif, di antaranya menerima rasa sakit dan kekurangan serta menggantinya dengan rasa syukur. Ini akan berdampak positif. Mereka akan menjadi lebih kuat secara rohani.

Tokoh Alkitab yang dapat diteladani dalam pertumbuhan iman adalah Ayub yang penuh penderitaan. Allah mengambil seluruh miliknya, bukan hanya tanah dan harta, tetapi juga anak-anak serta kesehatannya. Meski demikian, Ayub tidak mengeluh. Dia bahkan tetap setia kepada Allah. Sebagai balasan, Allah akhirnya mengganti dua kali lipat seluruh milik yang telah hilang (hal 124).

Buku ini mengajak pembaca melihat ketidaksempurnaan fisik, Nick tetap mampu berfokus pada tujuan. Dia mampu memastikan diri sendiri untuk mewujudkan imannya. Berjalan melalui berbagai pintu kesempatan untuk membagikan kasih dan pengharapan yang telah ia temukan. Hidupnya kian diperkaya, dipenuhi sukacita, dan sempurna. Hidupnya dibangun di atas iman dan Alkitab yang merupakan sumber kekuatannya. Dengan iman yang membimbing, dia bisa menemukan keseimbangan pikiran, tubuh, hati, dan roh.

Melalui buku ini, Nick ingin menginspirasi banyak orang dengan memberitahu tentang kasih dan pengharapan yang ia temukan dalam iman. Hasil tindakan iman tersebut sungguh luar biasa. 

Diresensi Tanti Endarwati, Alumna Stikes Surya Global Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment