Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments

Menerobos Penderitaan Menuju Kesuksesan

Menerobos Penderitaan Menuju Kesuksesan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Ciputra The Enterpreneur

Penulis : Alberthiene Endah

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Maret 2019

Tebal : 436 halaman

ISBN : 978–602- 03-7703-2

Ciputra sukses membangun Jaya Group, Kosmopolitan Group, dan Ciputra Group yang masing-masing membawahi puluhan anak perusahaan. Dia berhasil menata lahan kosong dan kumuh menjadi bangunan indah. Landmark yang dibuat dan didesain tidak hanya tersebar di kota-kota besar, tapi juga di mancanegara.

Lulusan arsitektur ITB ini juga membangun sekolah dan universitas. Dia juga menulis puluhan buku tentang bisnis, pemasaran, dan manajemen guna menginspirasi. “Saya selalu ingin berbagi pengalaman agar orang lain bisa turut belajar,” katanya (hlm 16).

Tidak ada kata istirahat walau berada di puncak kesuksesan. Baginya, kesuksesan melakukan sebanyak mungkin makna hingga ajal. Itu harus dilakukan sebagai kompensasi atas penderitaan masa kecil yang tak dapat dilupakan.

Buku ini menyibak lapisan-lapisan emosi yang membentuk pribadi salah satu orang terkaya Indonesia. Secara jujur, dia berkata bahwa hidupnya dan juga semangat kerjanya dibangun di atas penderitaan yang kadang beralih rupa menjadi dendam. “Sepanjang mengejar cita-cita, semangat saya dihidupkan oleh trauma penderitaan masa kecil. Ada rasa dendam, tapi saya olah menjadi dorongan kuat untuk maju,” katanya (hlm 20).

Penderitaan traumatis dialami saat tinggal di Dusun Bumbulan, pelosok Sulawesi Utara, zaman Jepang. Selama dititipkan ke famili, di Gorontalo, Pak Ci diperlakukan keras yang tak layak ditanggung anak usia tujuh tahun. “Hidup saya selalu diwarnai ketakutan. Setiap bangun pagi, saya selalu cemas memikirkan kesalahan apa lagi yang akan saya buat dan bentakan apalagi yang akan saya terima. Saya menjadi penyendiri,” kata Ciputra tentang derita hidupnya 80 tahun silam (hlm 48).

Derai penderitaan lebih keras dialami tatkala Ayah diculik polisi Jepang. Dia menyaksikan Mama berusaha menarik-narik tubuh Ayah sambil menangis memohon-mohon. Ciputra kecil memeluk Mama sambil menatap Ayah yang diseret paksa menaiki perahu cokelat. Mamanya kemudian menjadi gila (hlm 68).

Ciputra yang saat itu masih berusia belasan tahun, harus menggantikan posisi Ayahnya untuk menjaga Mama dan saudara-saudaranya. Setiap hari dia berburu babi, anoa, rusa, dan binatang liar lainnya di hutan agar keluarganya bisa bertahan hidup. Habis berburu, dia mengolah ladang hingga malam dan tertidur pulas dengan belasan anjing setianya. Hari-hari berat dilalui karena punya harapan, suatu hari pasti bisa keluar dari lingkaran kemelut penderitaan tersebut.

Pagi hari berangkat sekolah yang berjarak pulang pergi 14 kilometer hanya berjalan kaki. Pengalaman pahit inilah yang memicu semangat peraih 75 penghargaan tersebut terus berkarya hingga senja. Mengapa? Sebab setiap prestasi bisa mengobati luka derita. Setiap karya yang bisa menginspirasi dan mendorong orang lain keluar dari lubang penderitaan, traumanya berkurang. “Segala macam kepahitan masa lalu seperti disembuhkan bila saya mencapai sesuatu yang membanggakan,” tulisnya dalam pengantar (hlm 19).

Buku ini patut dibaca untuk mengetahui strategi bisnis Ciputra sejak awal, ketika berada di puncak sukses, jatuh karena diterpa krismon, hingga bangkit dan berjaya kembali. Yang lebih penting lagi untuk disimak, kemampuan Ciputra mengolah penderitaan menjadi batu loncatan meraih kesuksesan. Diresensi Moh Zammil Rosi, Alumnus STKIP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment