Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

Menemukan Kasih Tuhan dalam Realitas Sehari-hari

Menemukan Kasih Tuhan dalam Realitas Sehari-hari
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Suara Keheningan

Penulis : Sr Maria Inosensia Dua Bela, OP

Penerbit : Kanisius

Cetakan : I, 2017

Tebal : 128 halaman

ISBN : 978-979-21-5282-1

 

Berbagai realitas sekitar sejatinya mengandung pesan mengenai kehadiran Tuhan untuk mengubah cara pandang dan hidup menjadi lebih baik. Namun, hiruk-pikuk duniawi sering kali membuat manusia bingung, sulit berkontemplasi untuk memaknainya. Keheningan menjadi kesempatan bermenung dalam batin. Dalam sunyi bertemu, mengalami kedekatan, dan berdialog tentang Tuhan.

Sr Maria Inosensia Dua Bela, OP, seorang biarawati Dominikanes dengan beragam pengalaman pelayanan di paroki maupun di bidang pendidikan sebagai guru, kepala sekolah, serta pengurus yayasan pendidikan Katolik. Dia mengajak pembaca belajar hening dan bahkan dalam kesibukan serta kebisingan sehari-hari untuk melihat rahmat Tuhan bekerja.

Ada 20 judul kisah ringan dan sederhana, namun mendalam sebagai hasil permenungan, doa, serta kontemplasinya. Dengan harapan dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam menemukan cinta dan kasih Tuhan.

Tulisan pembuka “Aulia, Gadis Cilik yang Malang,” mengisahkan Aulia, bocah kelas 1 SD yang selalu tersenyum, semangat, ceria, dan kuat. Padahal ada luka mendalam karena kehilangan kedua orangtuanya akibat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Dia juga harus berpisah dengan 5 saudaranya untuk dirawat oleh tantenya dalam kesederhanaan. Sang tante pun ternyata mengalami depresi hingga sering memukuli Aulia. Tak ada yang bisa disalahkan. Semua butuh ditolong, baik Aulia maupun tantenya.

Sr Inosensia membagikan inspirasi hidup Ayub dalam cerita Alkitab pada mereka sebagai pegangan hidup. Aulia mengajarkan kita untuk tidak membiarkan kebahagiaan hilang dari hidup hanya karena banyaknya beban. Dia menjadi inspirasi untuk tetap percaya pada kasih Tuhan yang akan selalu mencintai dan memelihara umat-Nya. Sementara itu, iman yang baik tak hanya mengupayakan kebaikan bagi diri sendiri. Dia juga merangkul orang lain untuk hidup baru yang lebih baik.

Dalam tulisan “Jeritan Hati Seorang WTS” (hlm 114–118) diceritakan pergumulan Susi yang awalnya terjebak dalam dunia prostitusi karena ‘dijual’ suaminya sendiri. Merasa sudah telanjur kotor, berdosa, dan sering mendapat kekerasan fisik suaminya, Susi melarikan diri dari rumah dan tenggelam lebih dalam di lembah hitam itu.

Tembok biara juga terbukti tak menghalangi interaksi dengan pribadi-pribadi dari latar belakang suku, agama, budaya, dan strata sosial berbeda. Kontemplasi pada kisah “Kesederhanaan yang Kaya” hadir dari seorang bapak penjaga parkir sekolah. Seorang muslim taat yang hidup sederhana, namun penuh syukur. Salah satu buah perjuangan hidupnya, koin-koin dan lembaran rupiah yang dikumpulkan untuk membiayai anaknya menimba ilmu di sekolah Katolik tempat Sr Inosensia mengabdi.

“Kekaguman muncul karena bapak ini memiliki iman dan harapan mendalam akan kasih Allah, yaitu Allah pasti menolong asalkan manusia mau berdoa dan berusaha. Dia meyakini bahwa Allah yang ia imani juga hadir dalam sesama yang peduli, walaupun berbeda keyakinan” ucap Sr Inosensia (hlm 55).

Perjumpaan menarik lain memberi refleksi, ketakutan dan kecurigaan hanya melahirkan pribadi yang mudah menghakimi dan menghancurkan mereka yang berbeda dengan kita. Ini terjadi melalui pertemuan Sr Inosensia dalam aktivitasnya di bidang pendidikan dengan rekan-rekan dari Aceh. Seperti judul tulisannya “Sahabat dari Kota Serambi Mekkah” (hlm 67–72).

Perbedaan memperkaya hidup. Membuka hati terhadap perbedaan dengan melepas konsep diri yang keliru juga menjadi cara Tuhan memperkenalkan Diri dan kasih-Nya, sekaligus menyelamatkan. Dengan seringkali harus melepas zona nyaman, aman, dan kemapanan. Namun tentu hasilnya akan sepadan dengan menjadi pribadi-pribadi yang lebih peka, peduli, dan rendah hati. Ini akan melahirkan kehidupan yang penuh kasih dan syukur.


Diresensi Anindita Arsanti, alumnus UPN Veteran Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment