Koran Jakarta | May 27 2019
No Comments
SAINSTEK

Meneliti Protein Madu sebagai Bahan Obat Baru

Meneliti Protein Madu sebagai Bahan Obat Baru

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Madu merupakan salah suatu cairan kental berasa manis dan lezat, berwarna kuning terang atau kuning keemasan yang dihasilkan oleh hewan jenis se­rangga. Madu telah dikenal hampir di seluruh dunia.

Manusia telah menggunakan madu sepanjang sejarah. Umur sim­pan yang panjang serta khasiat obat membuat madu menjadi produk alami yang multiguna.

Meski demikian, tampaknya be­lum banyak diketahui tentang madu selain dari zat manis yang menjadi ciri utamnya ini. Terutama terkait dengan kandungan protein dalam madu.

Saat ini, para peneliti melaporkan dalam ACS ‘Journal of Natural Prod­ucts data baru tentang protein madu yang memungkinkan penggunaanya sebagai aplikasi obat baru.

Lebah lebah Eropa, Apis mellif­era Linnaeus, menciptakan produk khasnya dengan mengumpulkan nektar dari berbagai tanaman dan membawanya kembali ke sarang, di mana ia “matang” dan berubah menjadi zat kental, manis.

Madu adalah produk makanan yang sangat dihargai dan telah di­sebut-sebut sebagai obat alami un­tuk luka, infeksi saluran pernapasan, dan penyakit lainnya.

Karena kepentingan ekonominya, produk tersebut telah menjadi sasar­an para pemalsu, yang terkadang menambahkan serbuk sari atau zat lain untuk menggambarkan negara asal atau tanaman tempat pem­buatan madu.

Dengan demikian, banyak pene­litian telah dilakukan pada susunan kimiawi madu, meskipun tidak banyak yang dilakukan untuk meng­identifikasi proteinnya. Itu sebagian besar karena protein hadir dalam jumlah kecil, sehingga membuat analisisnya menjadi sulit.

Peneliti Tomas Erban dan rekan­nya menerima tantangan ini dengan melakukan analisis proteomik dari beberapa madu. Para peneliti ini menganalisis proteoma dari tiga belas madu yang berbeda, yang se­bagian besar berasal dari Republik Ceko.

Menggunakan spektrometri massa, tim mengidentifikasi protein yang diketahui dan sebelumnya tidak dilaporkan dan menentukan jumlah mereka di setiap sampel. Sampel mengandung rasio protein yang serupa, meskipun jumlah total protein bervariasi.

Para peneliti juga menemukan protein yang sebelumnya tidak dilaporkan dalam madu, seperti hy­menopaectin, yang berperan dalam sifat antimikroba zat manis. Selain itu, hasilnya memberi titik baru pada berbagai alergen yang ada, dan pengetahuan ini dapat memfasili­tasi penyelidikan lebih lanjut dalam pengobatan alergi madu dan lebah. nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment