Koran Jakarta | October 20 2017
No Comments

Meneladani Kepemimpinan Raja-raja Tanah Jawa

Meneladani Kepemimpinan Raja-raja Tanah Jawa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Butir-Butir Kearifan Para Raja di Tanah Jawa 

Penulis : Krisna Bayu Adji 

Tebal : 272

Penerbit : Araska

Cetakan : Cetakan I, Februari 2017

ISBN : 978-602-300-353-2

Pemimpin merupakan tugas mulia dan memikul tanggung jawab berat. Dia bukan untuk dilayani, melainkan harus mengayomi dan berperilaku bijaksana yang bisa diteladani. Ada sejumlah raja Jawa yang bisa ditimba kebijaksanaannya dalam memimpin. Buku ini membeberkan kearifan para raja Jawa sejak Kalingga hingga Yogyakarta. Mereka mampu membawa kerajaan ke puncak kejayaan. 

Falsafah kepemimpinan buku ini berasal dari berbagai sumber, seperti karya sastra Serat Sastra Gendhing, Serat Wulang Jayanglengkara, Serat Witaradya, dan Hasta Brata. Ada juga khasanah 10 M (manembah, momong, momot, momor, mursit, murakabi, mapan, mituhu, mitayani, dan mumpuni). Ini semua bersumber dari mutiara-mutiara Jawa yang disebarluaskan masyarakat melalui tradisi lisan (hal 19). 

Eksistensi suatu kerajaan tidak hanya berkaitan dengan luas wilayah kekuasaan. Kemampuan dalam menjaga kerukunan dengan kerajaan lain menjadi salah satu sikap yang mengokohkan keberadaan suatu kerajaan. Hal itu seperti dilakukan Kerajaan Kalingga masa Ratu Jay Shima yang dikenal dengan sebutan Ratu Shima. 

Demi menjaga perdamaian Kalingga, Ratu Jay Shima menjalin persahabatan dengan Kerajaan Sriwijaya dan Galuh. Ini menunjukkan, selama menjadi raja, Ratu Shima menerapkan gaya kepemimpinan smara bhumi adi manggala (salah satu gaya memimpin yang tertera dalam Serat Sastra Gendhing). Artinya menjalin persahabatan dengan negara lain demi perdamaian dalam negeri. 

Ratu Shima dikenal adil dalam perkara hukum. Yang bersalah, baik rakyat, punggawa, maupun putra sendiri, bila bersalah dihukum setimpal. Maka, Ratu Shima merelakan hukuman potong tangan putranya karena mencuri uang (hal 60–61). 

Pemimpin harus mampu menyejahterakan masyarakat, bukan memakmurkan diri pribadi, keluarga, maupun kelompoknya. Contoh yang dijalankan Mpu Sendok dari Kerajaan Medang. Para sejarawan berpendapat selama menjadi raja Medang, Mpu Sendok berusaha keras memakmurkan rakyat dengan membangun Bendungan Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya untuk irigasi pertanian (Prasasti Wulig, 8 Januari 935). 

Mpu Sendok telah menerapkan gaya kepemimpinan hasta brata yaitu mulat laku jantraning surya. Artinya, seorang pemimpin harus mampu menumbuhkembangkan daya hidup seluruh rakyat dalam meningkatkan kesejahteraan (hal 90). Selain itu, seorang pemimpin harus bisa menjaga toleransi antarumat beragama. Hal ini sangat penting dalam menjaga keutuhan negara. Salah satu sikap demikian dijalankan Raden Patah, Sultan Demak.

Sungguh pun beragama Islam, Raden Patah tetap menjaga toleransi dengan pemeluk agama lain. Buktinya, Kuil Sam Poo Kong (Semarang) tidak dipaksakan menjadi masjid lagi, sebagaimana ketika didirikan Laksamana Cheng Ho. Dia menjalankan hasta brata, yaitu mulat laku jantraning angkasa yang bermakna seorang pemimpin harus memiliki ketulusan hati, mampu mengendalikan diri, serta sanggup menampung aspirasi seluruh rakyat (hal 214–215).

Buku tidak hanya membahas kearifan para raja di tanah Jawa yang patut untuk diteladani, tapi juga menjabarkan latar belakang sejarah kehidupan dari raja-raja tersebut, yang bisa kita jadikan pelajaran. 

Diresensi Yatni Setianingsih, Lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment