Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Mendeteksi dan Mengatasi Kanker Payudara

Mendeteksi dan Mengatasi Kanker Payudara
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berani Deteksi Dini

Penulis : dr. Monty P. Soemitro dan dr. Nadytia Kusumadjayanti

Penerbit : Qanita

Cetakan : I, November 2018

Tebal : x + 142 halaman

ISBN : 978-602-391-615-3

Sejauh ini, kanker payudara menjadi momok para wanita. Buku ini menguraikan pengetahuan seputar kanker payudara beserta cara mengatasinya. Para wanita dianjurkan melakukan deteksi dini dengan “sadari” (Periksa Payudara Sendiri) sebagai upaya mengenali perubahan pada payudara. Cara sederhana ini sebagai antisipasi. Jika menemukan kelainan perlu ditindaklanjuti. “Sadari” harus diikuti dengan “sadarnis” (Periksa Payudara secara Klinis) dan pemeriksaan pencitraan (mamografi dan/atau USG).

Kanker payudara ditandai benjolan dan menjalar ketiak. Benjolan tidak disertai rasa sakit. Tanda-tandanya, muncul gambaran kulit seperti kulit jeruk, puting tertarik ke dalam dan mengeluarkan cairan. Lalu, tulang terasa sakit, sesak napas, atau sakit kepala.

Kanker payudara masuk ke pembuluh darah serta menyebar melalui saluran getah bening yang sangat banyak di payudara. “Semua jaringan pembentuk payudara memiliki kemampuan menjadi ganas karena berpotensi cepat membesar. Dia menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan serta menyebar” (halaman 6).

Pengobatan kanker payudara antara pasien satu dan lainnya tidak sama. Pembicaraan tentang prospek harapan hidup dan waktu bebas sakit, serta kambuhan sering kali dihindari pasien dan keluarganya. Hal tersebut justru sering menutupi kondisi pasien sendiri, sehingga hidupnya tampak semu.

Stadium untuk menentukan program pengobatan dan memperkirakan keberhasilan seseorang melewati masa kritis. Stadium juga penting untuk pengobatan lanjutan. Keinginan mempertahankan payudara dengan Stadium I harus diikuti terapi radiasi, untuk menyempurnakan pengontrolan kanker (halaman 88).

Penderita harus sadar, paham, waspada, dan mengontrol selama lima tahun secara ketat karena ada kemungkinan kambuh dan penyebaran. Dari 250 kasus operasi yang tetap memepertahankan payudara, 48 persen harus operasi kembali, setelah 5,5 tahun. Kalau diangkat, payudaranya hilang. Ini bisa memukul perasaan seorang wanita. Namun, sejatinya hal itu akan mendewasakannya atas keadaan sebenarnya.

“Kehilangan payudara untuk sembuh dan bisa bersama keluarga harus menjadi motivasi. Ikutilah kegiatan suatu komunitas dan keagamaan. Bahkan, menjadilah motivator dengan berbagi pengalaman pribadi kepada orang lain.”

Apabila seorang pasien kanker payudara periksa ke dokter dan dikatakan harus operasi, janganlah terlampau bersedih. Sebab, itu berarti kanker payudaranya baru berada di stadium kecil. Sebaliknya, jika dokter bilang tidak bisa dioperasi, jangan malah senang. Itu berarti stadiumnya sudah tinggi (halaman 91).

Faktor lain pengontrol kanker adalah sisi psikologis (mental dan semangat) dan sosiokultural (pola hidup dan makan). Semakin dini kanker payudara diketahui dan diobati, harapan hidup akan tambah baik. Kemungkinan kekambuhan semakin rendah.

Kanker payudara dapat dikonsultasikan kepada dokter spesialis bedah onkologi/dokter spesialis bedah tumor yang kesehariannya menangani kasus-kasus kanker payudara. “Pemeriksaan periodik dianjurkan kepada semua wanita. Sejak usia 20, pemeriksa teratur 1,5 tahun sekali. Setelah mencapai usia 40 menjadi satu tahun sekali” (halaman 122).

Buku ini memberi wawasan kepada para wanita dan keluarga penyintas kanker payudara. Meskipun tampak sulit dan berat saat terserang kanker, jangan berputus asa. Pasien kanker payudara punya cukup waktu untuk meningkatkan derajat spiritualnya. Kanker dapat memberi kesempatan meraih derajat spiritual lebih tinggi.

Diresensi Tri Jazilatul Khasanah, Mahasiswi Universitas Negeri Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment