Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Mendengar yang Tak Ingin Didengar

Mendengar yang Tak Ingin Didengar

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Barang kali saja ini era di mana telinga mendengar hal-hal yang tak ingin kita dengar. Bahkan, kalaupun tak ada niat mendengarkan, biasa dipaksa mendengar. Semua bisa terdengar.

Barang kali saja ini era di mana mata melihat apa yang tak ini dilihat, atau diingat-ingat. Bahkan, kalau menutup mata pun, gambaran yang tak ingin kita lihat itu nampak jelas.

Barang kali ini era di mana, segala bau yang tak dikehendaki tercium, rasa sakit, atau segala apa. Bisa terjadi dan terus, kadang menghantui.


Contoh kabar tentang supporter suatu kesebelasan yang tewas dikeroyok supporter kesebelasan lain. Kengerian, kemarahan, menyambar dan berkobar. Kesadisan menggiris kesadaran. Yang berentet adalah kecemasan:

bagaimana kalau pihak sono balik menyerang. Karena akan selalu ada pertandingan sepak bola. Belum lagi peristiwanya itu sendiri yang menjadi gawat. Karena diduga ada teriakan-teriakan tertentu, yang membuat tambah gaduh dan mencemaskan, tuduhan ke siapa dari siapa.


Contoh kabar tentang lagu anak-anak yang “diperkosa” menjadi kampanye yang mengundang kutukan, penyesalan, dan permusuhan, sampai ditempuhnya jalur hukum.


Contoh kabar yang lain yang trending masih banyak. Saya tidak menyebutkan. Bahkan dengan inisial sekalipun, walau boleh dikata sebagian terbesar masyarakat mengetahui kabar itu.

Ini menggelisahkan, karena justru sekarang ini, hal ini yang terjadi. Informasi bukan lagi membanjir, melainkan menjadi air bah.


Satu media kabar, bisa mewartawakan 2.000 berita. Dan media seperti ini jumlahnya, di Indonesia saja, bisa ribuan. Twitter, di mana saya juga ikut, ada 6.000 cuitan setiap detik.

Facebook yang lebih popular, saya tak ikutan, setiap menitnya memproduksi 293.000 postingan, unggahan. Tayangan video setiap menit ada 300 jam produk yang diunggah.


Dunia sudah berubah. Tahun 1980-an, saya pernah mengutarakan: siapa yang mengontrol sinetron kalau ada 36 jam setiap hari, yang hanya 24 jam? Dunia sudah berubah, dan tak mengenali apa yang terjadi sebelumnya.

Dunia komunikasi berubah, meloncat bebas. Itulah era di mana telinga dipaksa mendengar yang tak ingin didengar, mata dipaksa melihat yang tak ingin dilihat atau diingat. Dan pancaindra lain dipaksa dengan cara yang sama, dan bersamaan.


Barang kali saja kita bisa menyikapi dengan tak kaget dan cepat dengan berita yang tak kita kehendaki. Lebih sabar lagi, lagi, dan lagi. Dan berharap akan ada keseimbangan baru dalam pemberitaan. Barang kali saja.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment