Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments

Mendampingi Anak Di Era Digital

Mendampingi Anak Di Era Digital

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Media Moms and Digital Dads, Menjadi Orang Tua Bijak di Era Digital

Penulis : Yalda T. Uhls

Alih Bahasa : Reinitha A. Lasmana

Penerbit : Metagraf

Cetakan : Pertama, 2016

Tebal : xxxii + 352 Halaman

ISBN : 978-602-6328-14-4

Saat ini, kita memasuki era dimana informasi tersebar tanpa diminta. Ledakan teknologi informasi yang merasuki seluruh sektor kehidupan manusia kerapkali membuat orang tua dan pendidik harap-harap cemas—alih-alih dilema, akan dampaknya pada perkembangan anak-anak. Perlukah anak-anak dibekali dengan peranti gawai super canggih agar tidak ketinggalan zaman atau justru menjauhkannya karena kemungkinan ekses yang diterima lebih tinggi daripada manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seringkali memenuhi benak orang dewasa dalam mendampingi anak-anaknya menghadapi teknologi di era digital seperti sekarang.

Buku yang ditulis Yalda T Uhls ini barangkali mampu mengurai keresahan para orang tua akan dampak teknologi yang dikonsumsi anak-anak di era digital. Sebagai seorang akademisi di bidang media, komunikasi dan psikologi anak dengan pengalaman bekerja di industri media yang cukup mapan, penulis memaparkan banyak hal yang faktual dan objektif terkait dunia digital dan anak.

Mula-mula penulis memaparkan fakta yang didukung dengan ragam penelitian menarik mengenai anak-anak masa kini yang disebut oleh Marc Prensky sebagai pribuminya dunia digital (digital native), dan orang tua sebagai imigran digital, serta perilaku bermedia kedua golongan ini. Faktanya, kedua golongan ini sesungguhnya tidak dapat dibedakan secara kaku (halaman 8-13).

Anak-anak zaman digital mungkin sudah lebih mahir menggunakan perangkat komputer tablet sebelum mereka mampu mengikat tali sepatunya, namun penulis juga menukil sebuah penelitian yang menyatakan tidak semua orang dalam generasi yang sama dapat melakukan hal tersebut. Begitupun dengan orang tua yang merupakan imigran digital, tidak melulu gagap dalam berteknologi (gaptek). Kemahiran atau pengguasaan teknologi pada akhirnya ditentukan oleh seberapa adaptif seseorang dalam menggunakannya.

Yalda T Uhls dalam buku ini juga membahas fenomena zaman digital saat ini dan pengaruhnya dalam berbagai sektor kehidupan manusia, khususnya anak dan remaja. Paparan penulis mengapa generasi mobile perlu “mengangkat wajah” di tengah fenomena “menunduk” karena fokus memandang layar gawainya yang sudah lazim, didukung banyak penelitian dari para ahli perkembangan sebelumnya. Memahami dan membaca emosi dalam situasi sosial melandasi cara manusia belajar, hidup, dan menyayangi. Proses ini hanya mampu didapatkan melalui komunikasi langsung serta membutuhkan waktu untuk berkembang.

Komunikasi tak langsung sangat minim konteks situasi sehingga proses menangkap isyarat sosial, baik dari bahasa tubuh maupun ekspresi wajah dan suara, tak dapat dilakukan. Anak-anak zaman digital lebih gemar berkomunikasi melalui pesan teks, tombol like atau status di media sosial yang tidak menyediakan kesempatan kepada mereka untuk mempelajari dan menangkap isyarat sosial dengan jelas. Barangkali, inilah yang menjadi hipotesis kebanyakan orang mengapa anak-anak yang lebih lama menghabiskan waktu di depan layar gadget lebih kurang dapat berempati pada lingkungan sekitar, karena mereka kehilangan kesempatan mempelajari emosi dan dunia sosial yang sesungguhnya. (halaman 58-67)

Lantas, bagaimana cara terbaik mendidik anak dan remaja di era digital?

Kelebihan buku ini salah satunya adalah memberikan ruang pemahaman yang mendalam kepada pembacanya mengenai isu yang dibahas. Penulis secara seimbang memaparkan fenomena digital, perkembangan teknologi, dan dunia internet serta media sosial dari berbagai sisi. Media sosial dan dunia internet tak selalu mengandung sesuatu yang negatif. Ada banyak manfaat dari internet, media sosial, bahkan video games yang digilai generasi digital, yang perlu diketahui orang tua.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa terjadi penurunan tingkat minat baca generasi muda. Dan banyak pihak percaya hal ini disebabkan oleh kehadiran internet. Namun penulis mengutip sebuah hasil penelitian yang menjelaskan bahwa justru internet telah membuat banyak orang, termasuk remaja, lebih banyak membaca.

Akhirnya, cara terbaik mendidik anak dan remaja di era digital adalah kembali pada pola pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. Perilaku orang tua dalam mengakses media, membangun komunikasi dan hubungan dengan anak dan remaja, akan menentukan perilaku bermedia anak dan remaja pula. Karena orang tualah yang memegang peranan untuk membentuk norma sosial, bukan teknologi. 

Peresensi : Nyimas Gandasari, mahasiswa Paramadina Graduate School of Communications

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment