Menciptakan Daya Hidup Sosial Manusia Indonesia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 24 2017
No Comments

Menciptakan Daya Hidup Sosial Manusia Indonesia

Menciptakan Daya Hidup Sosial Manusia Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Meningkatkan Vitalitas Sosial Masyarakat Indonesia pada Era Liberalisasi Ekonomi dan Politik

Penerbit : UNS Press

Cetakan : 2016

Tebal : 683halaman

ISBN : 978-602-397-025-4

Upaya menciptakan masyarakat madani bukan tanpa hambatan. Jalan terjal menuju peradaban yang lebih baik ini senantiasa harus ditopang kelayakan hidup. Untuk mewujudkan, dibutuhkan vitalitas sosial. Seperti yang tertuang dalam laporan Canadian Index Wellbeing, vitalitas sosial merupakan daya hidup masyarakat untuk menghidupkan dan mengendalikan hubungan sosial menjadi kuat, aktif, dan inklusif. Ini antara warga, privat, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil. Mereka bersama-sama mencapai kesejahteraan hidup.

Himpunan Indonesia untuk Ilmu-ilmu Sosial (Hipiis) menerbitkan buku Meningkatkan Vitalitas Sosial Masyarakat Indonesia pada Era Liberalisasi Ekonomi dan Politik. Setelah tidur 15 tahun, dia kembali membangun wacana mengenai daya hidup sosial masyarakat. Buku dibagi menjadi enam: tentang organisasi Hipiis, kebangsaan, peningkatan kapasitas masyarakat, peningkatan ekonomi rakyat, penguatan mental, dan revitalitas peran negara.

Nama-nama ilmuwan sosial, seperti Taufik Abdullah, Sofian Effendi, Yudi Latief, hingga Azyumardi Azra berkontribusi menyumbangkan buah pikir. Pada bagian pertama, Taufik Abdullah mengisahkan awal Hippiis serta sumbang sihnya bagi negara.

Selanjutnya pada bagian kebangsaan, Yudi Latief menawarkan gagasan membumikan negara kesejahteraan dalam perspektif Pancasila. Baginya, cita-cita demokrasi Indonesia tidak hanya memperjuangkan emansipasi dan partisipasi politik, namun juga ekonomi. Pancasila menjadi basis utama untuk membentuk negara kesejahteraan dalam mewujudkan keadilan sosial. Prinsip keadilan ini akan bermuara pada moral ketuhanan. Landasan pokok perikemanusiaan, simpul persatuan hingga kedaulatan rakyat.

Azyumardi Azra menawarkan gagasan kebinekaan sebagai upaya pencerdasan bangsa yang merupakan “rahmat terselubung” bangsa. Kebinekaan aset dan modal dasar untuk pencerdasan bangsa menuju masa depan lebih baik di tengah berbagai tantangan (hal 133).

Sementara itu, pada bab revitalitas peningkatan kapasitas masyarakat, buku menghadirkan tema-tema pemberdayaan masyarakat. Mulai dari konservasi lingkungan, penguatan kearifan lokal hingga kesetaraan gender. Salah satunya tulisan sosiolog Argyo Demartoto tentang peningkatan kapasitas perempuan dalam partisipasi politik.

Dia menggarisbawahi, dunia politik masih didominasi maskulinitas. Upaya peningkatan partisipasi politik perempuan ini merupakan usaha pembebasan wanita dari belenggu patriarki yang membatasi dalam banyak aspek kehidupan.

Dari Sumatera Barat, Rinaldi Ekaputra menggagas konsep pengentasan kemiskinan melalui kearifan lokal masyarakat pesisir. Kemiskinan dan tekanan sosial ekonomi nelayan terkait alam dan nonalam. Kearifan lokal sebagai jembatan pemberdayaan masyarakat pesisir, di antaranya kearifan berkaitan dengan ekonomi, kesehatan, pelestarian alam, dan sesama manusia (hal 419).

Buku juga membahas dampak negatif internet pada remaja Surakarta. Meskipun secara umum, Surakarta masuk dalam kategori rendah, bukan berarti upaya pencegahan tidak perlu. Hal ini dilakukan sebagai penguatan mental generasi mendatang.

Revitalitas peran negara menjadi pembahasan terakhir. Melalui perspektif historis, Wasino menggagas implementasi bela negara melalui kerangka pendidikan nilai sebagai jalur alternatif implementasi bela Negara. Ini tidak melulu melalui proses indoktrinisasi. Pembelajaran bela negara bisa berasal dari berbagai sumber seperti sejarah, agama maupun karya sastra. 

Diresensi Gunawan Wibisono, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UNS

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment