Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Mencermati Ramuan Tumbuhan Obat untuk Kesehatan

Mencermati Ramuan Tumbuhan Obat untuk Kesehatan

Foto : dok balitbang Kemenkes
A   A   A   Pengaturan Font

Undang‑Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mendefinisikan pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan. Sedangkan pelayanan kesehatan preventif diartikan suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.

Praktek kesehatan berbasis preventif dan promotif telah lama dilakukan penduduk Indonesia. Salah satunya dengan mengek­sploitasi keanekaragaman hayati berupa tumbuhan obat sebagai pendukung untuk melakukan praktek kesehatan maupun pengobatan berbasis budaya. Tumbuhan obat salah satunya itu diracik dan dibuat dalam bentuk ramuan.

“Indonesia adalah negara dengan hutan tropika terbesar kedua di dunia, dan memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi sehingga dikenal sebagai salah satu dari tujuh negara megabio-diversity. Dis­tribusi tumbuhan berbunga yang terdapat di hutan tropis Indonesia lebih dari 30.000 jenis dan hampir 12 persen dari total tumbuhan berbunga di dunia sebesar 250.000 jenis. Tumbuhan yang telah diman­faatkan mencapai 2.518 jenis,” ungkap Vivi Setiawaty, Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kemenkes.

Ramuan yang digunakan antara lain untuk kebugaran, penambah nafsu makan, dan gejala kurang darah. Ramuan tersebut dapat dioptimal­kan pemanfaatannya oleh masyarakat melalui edukasi sehingga dapat meningkat­kan kesadaran dan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) 2017 te­lah mengelompokkan temuan ramuan berdasarkan indikasi penyakit. “Beberapa ramuan mempunyai kegunaan untuk mengatasi keluhan yang ber­sifat preventif dan promotif, dan dapat dikembangkan untuk menunjang program prioritas Kemenkes,” jelasnya.

Ramuan itu antara lain ramuan ASI tidak lancar, ramuan kurang nafsu makan/anoreksia, ramuan kurang darah, ramuan kecacingan, ramuan untuk panas dalam, gangguan kebugaran, ramuan untuk pegal dan capek, ramuan demam, ramuan mencret, ramuan gangguan vitalitas, serta ramuan gang­guan kesuburan.

Beberapa tumbuhan obat (TO) yang banyak digunakan di lokasi atau titik pengama­tan Ristoja 2017 antara lain yang digunakan sebagai ramuan sebagai berikut:

1. Ramuan Pelancar ASI

Ramuan pelancar ASI digunakan untuk “kondisi ibu menyusui dengan produksi air susu ibu tidak memadai”. TO yang digunakan penyehat tradisional (hattra) untuk me­ngatasi keluhan tersebut an­tara lain Sauropus androgynus (L.) Merr, Musa x paradisiaca L, Carica papaya L. Artocar­pus heterophyllus Lam serta Arachis hypogaea L.

Sauropus androgynus adalah tumbuhan yang pa­ling sering ditemukan dalam ramuan pelancar ASI, berikut­nya adalah M. paradisiaca dan C. papaya. Ketiga jenis tumbuh sering digunakan masyara­kat untuk sayuran dan buah. Tumbuhan yang lain hanya ditemukan dalam satu atau dua ramuan pelancar ASI.

2. Ramuan Kurang Nafsu Makan/Anoreksia

Kurang nafsu makan yang dimaksud dalam RISTOJA adalah “kondisi tidak/ku­rang selera makan dan badan terlalu kurus karena berbagai sebab”. Lima tumbuhan yang paling banyak digunakan dalam ramuan penambah nafsu makan/anoreksia adalah Curcuma longa L., Curcuma zanthorrhiza Roxb, Zingiber officinale Roscoe, Curcuma mangga Valeton & Zijp, Syzy­gium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry

3. Ramuan untuk Kecacingan

Definisi operasional kecac­ingan adalah kondisi dimana perut membesar, badan kurus dapat ditemukan cacing kremi, gelang, pita pada saluran pencernaan, cacing bisa keluar lewat muntah atau buang air besar.

TO yang paling sering digu­nakan dalam ramuan kecac­ingan adalah Carica papaya (6 ramuan) dan Allium sativum (4 ramuan). Lantana camara, Leucaena leucocephala dan Wollastonia biflora ma­sing-masing ditemukan dalam 3 ramuan.

4. Ramuan untuk Panas Dalam

Panas dalam yang dimaksud pada penelitian ini adalah rasa panas pada saluran pencer­naan, nyeri saat menelan, nyeri mulai dari mulut hingga teng­gorokan tanpa disertai dengan meningkatnya suhu tubuh.

Tumbuhan yang paling se­ring digunakan Imperata cylin­drica (L.) Raeusch, Bryophyl­lum pinnatum (Lam.) Oken, Jatropha curcas L, Zingiber zerumbet (L.) Roscoe ex Sm, Annona muricata L.

Imperata cylindrica pa­ling sering digunakan, terdapat da­lam 6 ramuan, diikuti oleh Bryophyllum pinnatum dan Jatropha curcas yang masing-masing terdapat dalam 4 ramuan.

5. Ramuan untuk Kebugaran

Ramuan untuk kebugaran yang dimaksud dalam peneli­tian ini digunakan untuk me­ngatasi kondisi daya tahan tu­buh menurun, mudah sakit dan kelelahan. Terdapat 92 TO yang dimanfaatkan dalam ramuan ini antara lain adalah Annona mu­ricata dan Cymbopogon citra­tus, masing-masing ditemukan dalam 4 ramuan, sedangkan tanaman Cymbopogon nardus, Morinda citrifolia, Psidium guajava, Syzygium aromaticum, dan Zingiber officinale terdapat dalam 3 ramuan.

6. Ramuan untuk Pegal dan Capek

Definisi operasional pegal dan capek adalah kondisi di mana otot-otot terasa linu-linu atau terasa tidak nyaman, se­telah aktivitas berat. Terdapat 179 TO yang dipakai dalam ramuan untuk mengatasi pegal dan capek. Tumbuhan yang paling sering digunakan adalah Urticastrum decumanum yang terdapat dalam 22 ramuan, Zingiber officinale dalam 15 ramuan, Syzygium aromaticum dalam 13 ramuan dan Piper retrofractum dalam 10 ramuan. Selain itu tumbuhan obat lain yang digunakan Curcuma longa L, Phyllanthus niruri L, Kaempferia galanga L, Morinda citrifolia L, Myristica fragrans Houtt, Physalis minima L.

7. Ramuan untuk gangguan vitalitas

Hasil pengumpulan data di lapangan diperoleh ramuan yang digunakan untuk mengu­rangi/mengobati gangguan vi­talitas. Gangguan vitalitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi penurunan gairah seksual, ejakulasi dini, mani encer termasuk mem­perbesar ukuran alat vital.

“Jadi, empat puluh jenis ramuan yang diperoleh dalam RISTOJA 2017 tersebar di 19 etnis. Terdapat 54 jenis TO yang dapat digunakan dalam ramuan gangguan vitalitas, lima jenis yang paling sering digunakan adalah Curcuma longa L, Imperata cylindrica (L) Raeusch, Lawsonia inermis L, Euphorbia glyptosperma Engelm, serta Lumnitzera littorea (Jack) Voigt,” ungkap Agus Suprapto, Kepala Pusli­bang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kemenkes.

Hasil Ristoja 2017 juga men­catat cara penggunaan ramuan paling banyak adalah secara oral (57 persen) dibandingkan dengan cara penggunaan yang lain yakni dengan pemaka­ian luar (36 persen) mau­pun dengan cara kombinasi pemakaian dalam dan luar (7 persen). “Sedangkan lama penggunaan obat tradisional sebagian besar kurang dari satu minggu (57 persen) dan hanya sebagian kecil yang menyata­kan penggunaannya lebih dari empat minggu (1 bulan) sejum­lah 23 persen,” tambahnya.

Jumlah komposisi ramuan menunjukkan bahwa ramuan tunggal menjadi yang terban­yak (58 persen). Ramuan yang terdiri dari 2-5 bahan peny­usun lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kom­posisi yang lebih dari 5 jenis tumbuhan obat. Ada satu etnis di Provinsi Kalimantan Barat yaitu Etnis Galik menggunakan satu ramuan dengan 77 bahan penyusun.  pur/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment