Mencermati Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekitar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments

Mencermati Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekitar

Mencermati Kasus Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekitar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kasus pemerkosaan yang menjerat seorang warga negara Indonesia, Reynhard Sinaga, di Inggris beberapa waktu lalu mengundang banyak perhatian masyarakat dunia. Karena diyakini korban dari kasus pemerkosaan tersebut sangat banyak.

Pemerkosaan merupakan salah satu bentuk dari kekerasan seksual. Sementara kekerasan seksual sendiri adalah setiap tindakan, ucapan atau perbuatan yang dilakukan seseorang untuk melakukan kegiatan tanpa adanya persetujuan atau pemaksaan.

Gina Anindyajati, Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi dan Trauma Psikososial, Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, mengatakan bahwa ada banyak bentuk kekerasan seksual yang ada di masyarakat dan beberapa di antaranya sudah teridentifikasi berdasarkan data dari Komnas Perempuan. Yaitu perkosaan, perbudakan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan aborsi, pelecehan seksual, prostitusi paksa, penyiksaan seksual, praktik tradisi, eksploitasi seksual, pemaksaan kehamilan dan kontrasepsi, kontrol seksual, penghukuman nuansa seksual, perdagangan perempuan dan intimidasi seksual. Tetapi, umumnya ada faktor pendorong yang menyebabkan si pelaku melakukan kekerasan seksual.

Menurut Gina, ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Ia menjelaskan banyak spekulasi yang menyebabkan kekerasan seksual terjadi, mulai dari melibatkan individu itu sendiri, keluarga, komunitas dan budaya. “Yang dikatakan literatur, memang ada faktor risiko yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual.

Tetapi ini bukan hanya urusan orang per orang, tetapi juga melibatkan unsur keluarga, komunitas dan budaya. Artinya, kita semua mempunyai peran dalam terjadinya kekerasan seksual,” jelasnya.

Gina menambahkan, semakin banyak seseorang terekspos dengan role model yang kerap melakukan kekerasan, maka semakin inggi risiko orang tersebut menjadi pelaku kekerasan, di samping dari faktor keluarga yang tidak harmonis dan budaya patriarki yang berlaku di masyarakat, di mana menempatkan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, dan budaya yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual.

Faktor risiko lainnya adalah keterampilan sosial yang buruk, tidak bisa mengembangkan relasi sosial sehingga mempunyai hubungan yang tegang dengan orang dewasa, memiliki perasaan tidak berdaya, biasanya juga memiliki hubungan yang tidak memuaskan dengan orang dewasa lainnya, merasa cemas, tidak aman sehingga tidak mencapai kepuasan dalam suatu hubungan, mempunyai harga diri rendah, kerentanan dalam hal maskulitas, perasaan terhina, kesendirian, memiliki keterikatan emosional, mempunyai masalah seksual seperti ejakulasi dini dan lainnya. Namun, bukan berarti apabila memiliki faktor-faktor risiko ini pasti melakukan kekerasan risiko.

“Ini risiko, kemungkinan. Banyak hal lain yang menjadikan seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Risiko ada, tetapi kalau tidak ada kesempatan maka itu juga tidak akan terjadi. Pencegahan itu yang kita perlu lakukan,” ujar Gina.

Siapapun Bisa Menjadi Korban Kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa, tidak mengenal jenis kelamin ataupun usia. Meskipun begitu, ternyata ada beberapa faktor risiko menjadi korban kekerasan seksual.

Misalnya usia muda, memiliki riwayat dianiaya saat masih kecil, pernah menjadi korban kekerasan seksual sebelumnya, menggunakan nafza, pekerja seks, memiliki banyak pasangan seksual, hidup di lingkungan masyarakat yang sanksi terhadap pelaku kekerasan seksual masih rendah, masyarakat yang menganut peran gender tradisional, norma sosial yang mendukung kekerasan seksual dan masyarakat dengan ideologi seks sebagai hak laki-laki saja.

“Kalau tinggal di lingkungan seperti itu dan mempunyai riwayat seperti ini bisa meningkatkan risiko menjadi korban kekerasan seksual,” tutur Gina. Itu karena prinsip kekerasan seksual hampir sama dengan pelonco.

Semua orang dapat dipelonco tetapi kemudian ada orang yang menjadi target utamanya. Gina mengumpamakan dengan kancil dan singa, di mana ada makhluk-makhluk tertentu yang memiliki aura korban dan itu yang membuat orang mudah untuk mengenali kalau ia mudah menjadi korban.

“Dan ini sesuatu yang di luar kuasa dia sehingga untuk membantu korban ini agar berdaya juga butuh pendampingan khusus. Membantu korban untuk bisa mengenali kalau ternyata dirinya mempunyai ciri tersebut, jadi pasien ini bisa mempunyai tameng agar ia tidak dibegitukan lagi,” katanya. Cirinya dapat terlihat dengan bagaimana relasinya dengan orang lain, seperti sulit untuk mengatakan tidak, selalu ingin menyenangkan orang lain. Sama halnya dengan pelaku, bukan berarti orang yang memilik perilaku seperti itu menjadi rentan.

Tetapi yang paling penting untuk diketahui adalah saat membangun relasi seseorang dapat percaya dan tidak merasa terancam terhadap hubungan itu. Hal itu terjadi tidak hanya pada pasangan, namun juga semua hubungan dengan setiap orang yang memiliki derajat keterbukaan yang berbeda-beda.

Begitupun pada pelaku kekerasan seksual, meskipun kasus pada orang dewasa 78 persen dilakukan laki-laki. Data Komnas Perempuan pada 2017 mencatat bahwa kekerasan seksual di ranah publik 1.106 dilakukan teman dan 863 oleh tetangganya. Sementara di ranah pribadi angka yang cukup tinggi sekitar 1.528 dilakukan pacar dan 425 oleh ayah kandung.

Penanganan Korban Kekerasan Seksual

Dampak pada korban kekerasan seksual beragam. Mulai dari aspek fisik, psikiatrik hingga sosial. Seringkali jejak psikiatrik tidak disadari, bersamaan dengan konsekuensi sosial yang biasanya lebih lambat.

“Namun dengan intervensi yang cepat dan tepat, maka ini semua bisa ditangani,” kata Gina. Ia menuturkan, apabila bertemu dengan korban kekerasan sebaiknya arahkan untuk mencari bantuan yang tepat agar bisa dilakukan pendampingan sehingga dampak yang timbul pada korban bisa dicegah. Perlu diingat, korban kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, tidak terkecuali laki-laki.

Tetapi, sering kali ketika laki-laki menjadi korban, penanganannya agak terpinggirkan karena kekerasan seksual laki-laki adalah hal yang minoritas. Belum lagi struktur masyarakat yang patriarki sehingga menjadi barrier untuk laki-laki menjadi korban. “Jadi seolah laki-laki tidak bisa menjadi korban kekerasan seksual dan tidak bisa mendapatkan pertolongan.

Padahal secara medis, pada prinsipnya sama antara laki-laki dan perempuan,” ujar Gina. Belum lagi beban budaya patriarki sama-sama berat antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki harus selalu kuat, sementara perempuan selalu salah. Untuk itu, masyarakata atau tenaga medis harus bisa menolong korban.

Bagaimana mereka harus dibantu, diterima, divalidasi perasaannya dan setelah itu biasanya baru korban berani mengutarakan apa yang mereka pikrkan. “Kita harus bisa memberikan layanan dan dukungan tanpa syarat, tidak menghakimi, mau meluangkan waktu untuk mendengarkan dan hadir,” ungkapnya. Penanganan untuk korban kekerasan seksual memang tidak mudah karena dapat menimbulkan trauma bagi korban, sehingga apabila korban berani melaporkan dan bercerita adalah hal yang hebat.  gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment