Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments

Mencermati Demam dan Bayi Kuning

Mencermati Demam dan Bayi Kuning

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berteman dengan Demam
Penulis : dr Arifianto, SpA dan dr Nurul I Hariadi, FAAP
Penerbit : Kata Depan
Cetakan : 2019
Tebal : x + 262 halaman
ISBN : 978-602-6475-76-3

Sejak BPJS memudahkan layan­an kesehatan masyarakat, pola pikir sehat bergegas ke dokter. Demam karena efek cuaca dan ekologi buruk menjadi contoh kasus sehari-hari. Demam karena campak, rubela, dan roseola tentu berbeda dengan demam karena “flu singapure-HFMD,” kawasaki, varisela, dan skarlatina (hlm 46). Buku ini menawarkan pilih­an posisi karena demam. Menjadi pasien yang selalu ikut kata dokter ataukah membekali diri dengan ilmu kesehatan yang mudah diakses, agar konsultasi di ruang praktik tidak pasif. Pasien memperoleh semua informasi mengenai diri atau anaknya yang sakit. Jika memilih posisi kedua, buku ini penting (hlm vi).

Saat ini, layanan kesehatan ber­kembang pesat. Konsep layanan antar­manusia yang semula menempatkan pasien sebagai objek, kini konsumen dalam kedudukan setara. Muncullah patient engagement, yaitu melibatkan pasien dalam sistem kesehatan terin­tegrasi semata-mata untuk kebaikan pasien. Muaranya jelas keselamatan pasien.

Apakah demam itu penyakit? Har­uskah demam diobati? Ulasan demam dirinci dengan banyak contoh saat anak kejang demam, demam beruam, demam berdarah dengue, dan demam tifoid. Topik demam ini mengikat pembahasan seputar infeksi saluran napas, infeksi saluran kemih dan cerna, serta alergi dan asma. Buku ini semakin berharga terutama kupasan khusus tuberkulosis anak dan metode higienis sirkumsisi atau khitan anak (hlm 172).

Demam diciptakan tubuh untuk tujuan baik. Ketika tubuh diserang kuman (virus dan bakteri), terjadilah reaksi peradangan yang mengakibat­kan peningkatan suhu yang normal­nya berkisar 36,4 hingga 37,5 derajat Celsius. Seseorang dikatakan demam jika suhu tubuh berada di atas normal. Mekanisme alamiah tubuh seperti ini jelas menunjukkan, demam bukanlah penyakit, melainkan gejala penyakit.

Ketika anak demam, pertanyaan pertama “mengapa anak demam?” Apakah anak menderita penyakit yang ditandai gejala demam? Yang harus diobati penyakitnya, bukan gejalanya (hlm 5). Jika demam merupakan reaksi tubuh saat menghadapi infeksi, dap­atlah diklaim gejala penyakit. Demam dengan gejala batuk dan pilek menun­jukkan ada infeksi saluran napas atas.

Demam yang disertai diare dan muntah menunjukkan ada infeksi saluran cerna. Demam yang disertai kejang dan penurunan kesadaran me­nunjukkan ada infeksi di saluran saraf pusat. Akan tetapi, tingginya suhu tu­buh (demam) tidak selalu berhubung­an dengan makin beratnya penyakit. Mayoritas demam berlangsung singkat dan sebenarnya bertujuan melindungi tubuh.

Tentang bayi kuning (hlm 212). Normalkah kuning pada bayi baru lahir? Sekitar 60 persen bayi meng­alami kuning dan mayoritas dapat dikategorikan wajar jika terjadi pada usia dua sampai 14 hari. Kadar ter­tinggi bilirubin biasa terjadi pada usia tiga sampai lima hari. Kuning tidak wajar jika terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran atau menetap sampai lebih dari dua pekan. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar bilirubin to­tal dan tindakan lanjut.

Kuning yang dikategorikan normal sebagian karena kurang ASI. Pastikan bayi menetek 8–12 kali sehari (tiap 2–3 jam) diimbangi produksi berkemih yang cukup. Sebaliknya, konsumsi ASI cukup pun dapat menyebabkan ku­ning. Kondisi ini tidak mengkhawatir­kan. Umumnya, bayi kuning dicurigai jika menetap lebih dari dua pekan dan bayi tampak sehat. Cirinya berat ba­dan naik normal, pola buang air besar dan air kecil normal, serta gerakan motorik baik.

Bayi prematur (lahir sebelum usia 37 pekan) berisiko terkena kuning. Fungsi hatinya belum sempurna untuk membuang bilirubin. Bayi ras Asia, khususnya Asia Timur, dan Medit­erania lebih berisiko kuning. Kuning tertutupi kulit bayi yang gelap karena faktor ras.

Diresensi Yustina Windarni, alumni Politeknik API Yogyakarta

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment