Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments

Mencederai Nilai Sosial

Mencederai Nilai Sosial

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Dua tokoh politisi yang sering ber­polemik, kini berada dalam satu ruang yang sama. Yang pertama Said Didu, mantan staf khusus Menteri BUMN, dan kini berada di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga. Rocky Gerung lebih menuai kontroversi karena ulasannya, komentar balasan yang beranak pinak.

Keduanya menuju Jember, Jawa Timur, untuk memberi kuliah. Menurut kabar, ada penolakan, sehingga keduanya tak bisa melalui jalan normal. Sebelum­nya, keduanya ditolak di Bali. Alasan penolakan pengundang yang dari pihak mahasiswa, terutama Rocky, di­anggap merendahkan tokoh nasional.

Keduanya–saya mengenal dalam berbagai forum diskusi–mengubah penampilan, menyamar, memakai penutup mulut, dan menggunakan kendaraan ambulans menuju tempat yang dituju.

Ini yang saya komentari ketika di Twitternya, Said Didu memperlihatkan keberadaan­nya dalam ambulans sambil tersenyum. Saya bertanya: kenapa kelihatan senang hati, bukankah menggunakan am­bulans bukan untuk kebutu­hannya—mengangkut orang sakit atau mayat, mengingkari fungsi ambulans?

Ini yang saya pertanyakan karena nilai-nilai sosial yang disepakati, harus dikorbankan fungsi utamanya. Kalau saja saat itu masyarakat butuh layanan am­bulans, pastilah tak terpenuhi.

Yang saya kesalkan adalah semudah itu mencederai kesepakatan sosial yang ada, dan tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Atau malah merasa menang karena bisa mengakali. Said Didu dan Rocky Gerung adalah con­toh, agar “berita ini” mendapatkan frame yang menegaskan keberadaannya.

Menggunakan ambulans untuk kepentingan ini dianggap biasa, bukan suatu kesalahan atau pemaksaan fungsi sosial. Seperti—nah ini yang saya tekankan—misalnya ketika jalanan ditutup karena suatu hajatan. Jalan yang biasa dilalui tak bisa dilalui, dan diberikan jalan keluar arah berputar. Di daerah kompleks, di perkampungan di Jakarta, banyak kejadian ini.

Dan puncaknya adalah hari Sabtu–Minggu, di mana ada janur kuning dan tulisan nama calon pengantin, atau calon yang disunat. Yang lebih mencemaskan lagi adalah penutupan jalan karena diadakan pasar malam. Pada hari Sabtu malam, ada jalan tertentu yang mendadak diputus dan di tengahnya dipakai sebagai “pasar tiban”.

Berbagai macam dagangan digelar, dan intinya, fungsi jalan umum diubah menjadi jalan tertutup, menjadi pasar. Dan karenanya, jumlah yang menggunaan jalan sebagai tempat jualan jumlahnya banyak, dan banyak juga penggunan­nya, maka kelihatannya sah. Sah dalam pengertian berubah menjadi pasar tetap tiap akhir pekan. Kalau sudah berubah seperti ini, sia-sia upaya mengingatkan fungsi utama jalan.

Tentu berbeda jika pengalihan sosial jalan itu karena ada layatan bagi yang meninggal. Rasanya masih bisa diterima, karena tak bisa diperhitung­kan, lain dengan hajatan kawinan, sunatan, atau terutama yang berkaitan dengan “ulang tahun” tokoh, atau organisasi daerah di situ.

Yang sebetul­nya bisa jauh-jauh hari direncanakan, bisa memilih di lapangan terbuka, atau rumah siapa tanpa menutup jalan. Pembenaran yang sama, apa lagi kalau berkaitan dengan ulang tahun kemerdekaan, ulang tahun DKI, atau Per­sija menang, misalnya. Sempurnalah pelangg­aran ini dan sah karena untuk kepentingan bersama.

Pola inilah yang mudah terjadi, atau bahkan dengan sendirinya terjadi dan seolah benar adanya, ketika dua tokoh politisi yang gemar berpolemik melakukan aktivitasnya.

Maaf, ini hanya mengingatkan!

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment