Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments
Massa Diam

Mencari Realitas Ekstrem dalam Kehidupan Publik

Mencari Realitas Ekstrem dalam Kehidupan Publik

Foto : dok. Djakarta Teater Platform
A   A   A   Pengaturan Font

Seni merupakan salah satu bentuk pengekspresian diri manusia. Salah satu bentuk seni yang populer adalah seni teater. Untuk membangkitkan industri seni pertunjukan di Indonesia, Djakarta Teater Platform (DTP) kembali mengadakan rangkaian bentuk festival kota dengan tajuk Massa Diam.

 

Isu Massa Diam dipilih sebagai bungkusan tematik festival, memunculkan ruang antara kemungkinan terjadinya pelumeran maupun peredaman sebagai titik-titik ekstrem dalam kehidupan publik yang saat ini mudah terprovokasi oleh hoax, viral maupun pencitraan tanpa investigasi.

Massa Diam menjadi sebuah sharing yang ditawarkan untuk memperbesar ruang abu-abu dalam menghadapi realitas yang ekstrem dan membuka medan masa lalu yang lebih memungkinkan untuk bisa ikut menata masa depan. Laju perkembangan teknologi yang begitu cepat juga tanpa disadari membuat masyarakat kini berada dalam hubungan dan realitas yang semakin ekstrem, seperti tubuh yang hampir tidak terpisahkan oleh smartphone yang menyediakan banyak aplikasi dan akses komunikasi dan informasi tanpa batas.

“Jadi tidak bisa membedakan mana perangkat dan tubuh kita yang menimbulkan banyak sekali efek dan itu menjadi kebutuhan atau menjadi bagian diri kita? Dari perangkat tersebut kita bisa mengenali diri kita tetapi juga bisa membuat kita merasa asing dengan tubuh kita,” jelas Afrizal Malna dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Pada rangkaian acara DTP, terdapat pula kegiatan-kegiatan yang edukatif dan terselenggara. Ada penampilan dari kelompok-kelompok teater dalam dan luar negeri yang masing-masing memberikan penampilan ciamik sesuai tema besar Massa Diam.

Curious Directive merupakan kelompok teater dari Norwich, Inggris. Mereka menyuguhkan penampilan yang membawa panggung teater ke level yang lebih tinggi, dengan menggabungkan sebuah bentuk kesenian teater dan teknologi dunia realitas virtual.

Bertajuk Frogman, kisahnya bercerita tentang kehidupan Meera, di mana temannya menghilang dan ada rahasia tersembunyi mengenai hal tersebut. Dengan kecanggihan teknologi yang disuguhkan, penonton pun disuguhi untuk menjadi juri dalam pementasan yang melakukan syuting di Raja Ampat, Indonesia. Curious Directive akan tampil selama dua kali setia harinya mulai dari 24 hingga 28 September.

Sementara Teater Ash membawakan karya City of Darkness yang terinspirasi dari kehidupan Kota Kowloon di Hongkong, di mana kota tersebut dijuluki Kota Kegelapan karena ada beberapa ruang yang tidak terkena sinar matahari. Terlebih banyak praktek yang melibatkan uang dan gangster yang berkuasa kala itu.

Sedangkan Teater Kubur sebagai salah satu kelompok teater tertua yang bertahan di Jakarta mengadakan riset selama tiga tahun guna menciptakan sebuah pementasan berjudul Instalasi Macet.

Ini berdasarkan salah satu daerah di Jakarta yang bernama Kampung Apung di mana menjadi dampak negatif dari pembangunan dan perkembangan wilayah kota yang tidak memperhitungkan ekosistem kota. Sehingga hampir selama 30 tahun, daerah yang menjadi satu dengan pemakaman umum ini harus mengalami banjir permanen.

Eksperimentasi pun berlangsung dalam spektrum mencari transformasi performatif dari masalah-masalah lingkungan ke tubuh para aktor, maupun tubuh balok-balok bekas dan slang-slang yang mereka gunakan sebagai tubuh dan ruang yang macet.

Lalu, MuDa, sebuah kelompok teater dari Kyoto, Jepang, mengadakan pertunjukan bertajuk Jolt pada 20 September. Gerakan jatuh dan terus berdiri menjadi gerakan paling dasar yang menginspirasi MuDa untuk menciptakan kreasi ini. Mereka berusaha memaparkan hal tersebut ke dalam pertunjukan yang penuh ritual, yang banyak dikolaborasikan dengan musik, proyeksi video sehingga perasaan stres yang mereka ingin tampilkan dapat tersampaikan dengan baik.

Fujyamaannette dari Tokyo, Jepang akan membawakan Eniac yang berkisah tentang dialog dan penyelidikan seorang penari. Hal ini digambarkan dengan visual dari jalan yang harus diambil seniman dari tubuh.

Passport, Passphoto yang dibawakan Rokater dari Yogyakarta adalah proyek yang bermula dari praktik fotografi dan pengarsipan foto di Nyoo Studio, studio foto tua yang berada di Jember. Praktik fotografi yang ada di sana memberikan sebuah jawaban mengapa masih mempertahankan praktik fotografi yang tidak sepenuhnya menjadi modern meskipun perkembangan teknologi telah berkembang pesat saat ini.

Sementara Akbar Yumni menampilkan teater dokumenter tentang usaha rekonstruksi dari beberapa adegan pada film Turang berdasarkan arsip foto-foto majalah dan sinopsis. Film Turang (1957) merupakan salah satu karya penting di Indonesia di mana dimusnahkan pada masa Orba. Hal ini membuat timpangnya sejarah estetika sinema Indonesia pada pasca kemerdekaan.

 

Meraih Mimpi di Kegelapan

Teater yang tampil pertama pada pembukaan DTP adalah kelompok teater dari Hong Kong, Teater Ash. Meskipun berdiri di Hong Kong, namun pertunjukannya merupakan kolaborasi dari beberapa negara berbeda, seperti Hong Kong, Taiwan, Jepang, Vietnam, Malaysia, AS, Inggris, dan Indonesia. Bertajuk City of Darkness, mereka mengangkat tragedikomedi dan spektakel visual tentang Kota Berdinding Kowloon di Hong Kong. Kota yang dihancurkan pemerintah tersebut pada sekitar 1990-an, memiliki aturan sendiri di atas tanah seluas 2,9 hektar yang ditinggali sekitar 55 ribu orang.

Pertunjukan tersebut menceritakan kisah Alice, seorang anak kecil yang harus menjalani hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, dan bersahabat dengan pamannya yang ajaib sekaligus penuh masalah.

Dengan menggabungkan antara novel grafik dan Charlie Chaplin, Alice menemukan kekuatan melalui imajinasi dan harapan. “Kami mencoba menunjukan apa yang dilihat gadis berusia sembilan tahun ketika melihat dunia yang mengaitkan segalanya dengan uang dan bagaimana ia dapat bertahan di dunia seperti itu,” cerita Cheung Lok-Kan, Aesthetic Director Teater Ash.

Selain itu, kisah ini juga ingin menekankan bahwa ada hal lain yang jauh lebih penting daripada uang dan material.

Penampilan apik Alice yang diperankan Lok-Kan membawa penonton merasakan emosi yang ia coba tunjukan sebagai anak berusia sembilan tahun yang masih belajar meraih mimpinya di tengah gelapnya dunia di sekelilingnya. Ini juga merupakan suatu metafor di mana perlahan dunia mulai memuja uang.

Lok-Kan juga bercerita bahwa kisah ini diadaptasi dari kisahnya yang sempat tinggal di kota tersebut dan apa yang terjadi pada sekelilingnya. Penulis dan juga sutradara pertunjukan ini, David Glass pun mengadakan riset untuk pengembangan cerita selama kurang lebih dua setengah tahun.

“Aku sempat tinggal di sana, kakekku tinggal di sana. Tapi itu sudah dihancurkan pemerintah, karenanya mengapa di akhir pertunjukan, itu seakan semuanya runtuh,”ceritanya.

Untuk memerankan kisah yang diadaptasi dari kisah masa kecilnya, ia mengaku tidak begitu merasa kesulitan. Bagian tersulit hanya ketika ia harus dapat menyelami sebagai anak-anak dengan imajinasi yang tinggi meskipun sebenarnya ia bukan anak-anak lagi. 

 

gma/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment