Koran Jakarta | July 22 2017
No Comments

Menangkal Kekerasan atas Anak-anak lewat Puisi

Menangkal Kekerasan atas Anak-anak lewat Puisi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Memo Antikekerasan terhadap Anak

Penulis : 194 Penyair Indonesia

Penerbit : Forum Sastra Surakarta

Cetakan : September, 2016

Tebal : 384 halaman

ISBN : 978-602-6284-35-8

Anak-anak adalah masa depan bangsa. Menyelamatkan mereka sama saja menyelamatkan bangsa ini ke depannya melalui gerakan moral bersandar pada laku kebudayaan. Itulah cuplikan pengantar dari antologi puisi yang ikut serta ambil bagian menyelamatkan anak-anak dari kekerasan (baik secara psikis dan fisik) lewat puisi-puisi.

Akhir tahun 2016 lalu, bangsa seolah dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai kekerasan terhadap anak. Setiap hari di berbagai sudut kehidupan berita kekerasan berkarib dengan masyarakat. Televisi, radio, koran, hingga mulut orang-orang terus membahasnya. Anak-anak pun dibiarkan begitu saja menjadi korban.

Maraknya kekerasan terhadap anak menjadikan hak-hak bocah seolah tak lagi dipedulikan. Mereka dipaksa bekerja mencari uang, dijebak menjadi pengemis, diperjualbelikan hingga menjadi korban pencabulan sampai pembunuhan. Coba camkan puisi berikut. “Nak, tahukah kau, apa yang kaulakukan di sini. Kau disuruh jualan koran di pinggir jalan. Katanya sambil bermain-main, tapi mana uangnya. Kau hanya diberi sebungkus nasi untuk mengganjal perutmu. Hanya nasi dan sayur,” (hal 145).

Puisi ini menjelaskan tentang hak seorang anak telah dirampas paksa oleh orang-orang dewasa yang tak bertanggung jawab. Sering kali mereka tampak secara langsung di jalan-jalan raya sekitar lampu lalu lintas. Peristiwa perampasan hak masih terjadi. Padahal, mereka tetaplah anak-anak lugu yang terkadang hanya mematuhi perintah dan menjauhi larangan orang-orang tak bertanggung jawab.

Diharapkan dengan adanya buku ini bisa menggerakkan hati pemerintah untuk turut serta bertanggung jawab kesejahteraan anak-anak, bukan hanya merumuskan UU perlindungan anak. Harapannya, anak-anak tidak lagi menjadi korban dekadensi moral bangsa.

“Dalam bilik sempit ini aku hanya berteman air mata, terpenjara di rumah sendiri, mendengarkan tik tak sepi. Kadang-kadang menjerit merasakan cambuk di punggung. Saat kutumpahkan secangkir kopi di atas meja, sebab limbung dirajam lapar,” (hal 294).

Puisi berjudul Air Mata ini terlihat jelas menggambarkan seorang anak menjadi korban tindak kekerasan orang tuanya sendiri. Mereka tak bisa melawan. Mereka hanya berharap dan menunggu keajaiban datang.

Ada 194 penyair dari seluruh Nusantara berpartisipasi mengisi buku ini. Dengan berbagai latar belakang, tapi memiliki satu tujuan menyerukan untuk tidak menyetujui, menolak keras kekerasan terhadap anak. Antologi ini merupakan lanjutan dari buku sebelumnya, Memo untuk Presiden dan Memo untuk Teroris. Buku saling berkaitan. Isinya menolak penyimpangan masyarakat.

Di antara kekerasan terhadap anak dilakuan orang tua dengan tidak memperhatikan mereka. Kekerasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi bisa juga melalui kata-kata. Dengan adanya buku ini, setidaknya ada harapan bisa memutus mata rantai kekerasan terhadap anak, menjauhkan dari hal-hal yang bisa membuat tertekan dan tidak nyaman. Dengan demikian, bocah bisa benar-benar terlindungi oleh negara dan seluruh lapisan masyarakat. 

Diresensi Anisa Alfi Nur Fadilah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Balitar, Jatim

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment