Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments
Patungan untuk Berbagi

Menakar Tren Donasi di Era Digital

Menakar Tren Donasi di Era Digital

Foto : koran jakarta/imantoko
A   A   A   Pengaturan Font

Donasi digital sangat potensil dikembangkan, seiring dengan kemajuan zaman yang serba ‘mendambakan’ keringkasan dan kepraktisan.

Kerjasama Grab, OVO dan Tokopedia dalam program kampanye donasi digital Patungan untuk Berbagi se­panjang Ramadan kemarin menjadi bukti betapa potensi­alnya teknologi dalam lingkup kehidupan sosial.

Era berbagi kini berubah, dahulu cara kotak amal, ataupun menyambangi badan penyalur donasi merupakan salah satu cara. Namun kini proses berbagi terasa kian di­peringkas hanya memanfaat­kan teknologi yang tersemat dalam smartphone, kebaikan seolah bisa segera tersampai­kan tanpa prosedur rumit.

Cara baru ini terhitung sukses, dan menarik untuk dikembangkan, pasalnya bisa dibayangkan kolaborasi tiga perusahaan yang diluncurkan mulai 2 Mei dan resmi ditutup pada 6 Juni 2019 berhasil menggalang dana 11,5 miliar rupiah. “Era digital ini, jangan melihat aplikasi seperti OVO, Tokopedia, Grab hanya un­tuk belanja saja. Sebenarnya masyarakat Indonesia ingin berbagi tapi tidak tahu cara yang mudah untuk berbagi,” kata Director OVO, Setiawan Adhiputro saat konferensi pers di Jakarta, belum lama ini.

Untuk memeriahkan kampanye Patungan un­tuk Berbagi, Grab, OVO dan Tokopedia menggelar ber­bagai rangkaian acara festival menarik di delapan kota, di mana total ada 380 merchant GrabFood dan Tokopedia yang terlibat di dalamnya. Kemudian ada juga rangkaian acara berbuka puasa ber­sama 800 anak yatim dengan pengunjung dan perwakilan pemda dari sejumlah kota di Indonesia.

Misi utama yang terselip dalam rangkaian acara ini se­benarnya ada pada ajang edu­kasi soal bagaimana melihat peluang donasi digital bagi masyarakat luas. Itu sebab­nya disela kemeriahan acara itu, pengunjung yang juga pengguna OVO, Grab dan Tokopedia dapat merasakan pengalaman kemudahan un­tuk melakukan donasi melalui ketiga aplikasi tersebut.

“Dengan mengedepankan kenyamanan dan kemudahan, khususnya saat melakukan do­nasi, diharapkan penggunaan ekosistem digital untuk sarana menunaikan kebaikan selama Ramadan di Indonesia dapat meningkat,” tutur Setiawan.

Kemudian tren donasi digi­tal, tambah Setiawan, sebenar­nya sudah terbangun sebelum­nya sehingga tidak sulit untuk mensosialisasikannya. Apalagi masing-masing perusahaan digital, OVO, Grab, Tokopedia ataupun perusahaan digital lainnya sudah memiliki pro­gram serupa dan bergerak masing-masing.

“Jadi bisa dikatakan, ma­syarakat sebenarnya melalui program donasi di masing-ma­sing perusahaan digital sudah memperkuat pemahaman masyarakat itu sendiri, tinggal menggaungkannya saja. Di program kampanye berikutnya kami tidak menutup kemung­kinan akan memperluas kolaborasi dengan siapa pun,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirut Rumah Yatim, Nugroho B Wismono, melihat tren donasi melalui platform digital terus mengalami ke­naikan. “Terus meningkat, dibanding berdonasi cara konvensional melalui transfer bank dan lain sebagainya. Secara total kita sudah di atas 10 persen, bahkan hampir 15 persen pertumbuhan donasi digital,” terangnya.

Untuk merespon tren ini, Rumah Yatim juga telah me­nyiapkan QR Code agar semua orang bisa berdonasi secara langsung ke pihaknya. Melalui

QR code, media berdonasi konvensional seperti kotak amal yang memakan tempat dapat tergantikan. “Ini pen­ting bagi pemilik tempat untuk meminimalisir ruang, kita bisa tempelkan stiker QR code di de­pan kasir dan tinggal scan jika masyarakat ingin berdonasi. Langkah ini akan kita galakkan usai Ramadan di 14 provinsi,” lanjutnya. ima/R-1

Dana untuk Pendidikan

Selanjutnya penggalangan dana yang terkumpul 11,5 miliar rupiah itu dialokasikan untuk pendidik­an di Indonesia. Rumah Yatim telah menyalurkan bantuan senilai 1,5 miliar rupiah dalam bentuk paket beasiswa dan perlengkapan sekolah kepada lebih 4 ribu anak yatim dan kurang mampu. Penyaluran donasi akan terus dilakukan hingga mencapai lebih dari 30 ribu anak di berbagai wilayah di Indonesia.

Alasan hasil donasi disalurkan untuk pendidikan, menurut Setiawan, merupa­kan harapan bagi masa depan generasi Indonesia. “Donasi dari kampanye Patungan un­tuk Berbagi disalurkan dalam bentuk paket perlengkapan sekolah dan beasiswa seba­gai upaya mendorong ke­berlangsungan pendidikan dasar bagi anak yatim dan kurang mampu dan terancam putus sekolah akibat kendala finansial. Selain itu, donasi digital ini menegaskan peran teknologi dalam memudahkan dan mendekatkan pengguna untuk mencapai tujuan yang positif,” terangnya.

Nugroho menyambut baik inisiatif ini, pasalnya urusan sekolah bagi mereka yang membutuhkan memiliki per­masalahan cukup kompleks. Melalui dua fokus donasi itu, yaitu perlengkapan sekolah dan beasiswa dirasa cukup menjawab kebutuhan. “Para penerima manfaat itu luar biasa bahagianya ketika me­nerima hadiah perlengkapan sekolah, seperti seragam, tas, buku, alat tulis baru. Kemu­dian dana pendidikan yang tak tercover pemerintah, misal uang saku, bisa terjawab di program kampanye ini. Kita akan terus sebar kebaikan masyarakat yang berdonasi diprogam ini sebaik mung­kin, dan ini akan terus kita laporkan dan tepat sasaran,” paparnya.

Menurut rencana, ber­dasarkan mapping penerima bantuan alokasi dana Patun­gan untuk Berbagi akan dibagi secara seimbang, yaitu 50 persen untuk perlengkapan sekolah dan 50 persen untuk beasiswa.

“Untuk beasiswa terdiri dari tiga jenjang dan kita tidak akan sekali memberi bantunan tapi cakupannya untuk satu tahun. Secara proporsinya penerima beasiswa terbanyak ada di jenjang pendidikan SD, karena semakin ke atas jenjang pendidikan jumlahnya semakin sedikit. Rencana penyaluran akan tersebar di 18 provinsi, lebih dari 30 kota serta kabu­paten yang akan kita berikan,” jelas Nugroho.  ima/R-1

Mempercepat Kualitas Donasi

Co-Chair Badan Penga­rah Filantropi Indone­sia, Erna Witoelar, mengatakan potensi donasi di Indonesia bisa mencapai 200 triliun rupiah setahun. Namun, saat ini yang terkumpul baru sekitar 6 triliun rupiah dalam setahun. Potensi ini meningkat karena adanya platform digital yang diduga dapat memperce­pat jumlah dan kualitas donasi.

Sementara itu, donasi digital melalui Go-Pay me­ningkat 3 kali lipat selama Ra­madan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Dalam donasi digital ini Go-Pay menggandeng kitabisa.com dan berbagai penyalur zakat-infaq-sadaqah. Selain itu Go-Pay juga bekerja sama dengan lebih 300 masjid dan yayasan untuk menerima donasi melalui kode QR.

“Rata-rata masjid meng­alami kenaikan donasi 2x lipat sejak menerima donasi lewat kode QR Go-Pay. Tren donasi secara digital kami harapkan bisa semakin besar lagi,” ujar Armyn Gita, Public Affairs Lead Go-Pay.

Berdasarkan data Go-Pay sepanjang Ramadan 2019, total donasi digital melalui Go-Pay berhasil terkumpul lebih dari 11 miliar rupiah. Donasi ini terkumpul baik online le­wat kitabisa.com dan juga me­lalui kode QR berbagai masjid dan yayasan.  ima/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment