Koran Jakarta | May 30 2017
No Comments

Memupuk Nilai Keindonesiaan dalam Jiwa Warga

Memupuk Nilai Keindonesiaan dalam Jiwa Warga

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Nilai Keindonesiaan

Penulis : Yayasan Suluh Nuswantara Bakti

Penerbit : Kompas

Terbit : 2017

Tebal : viii + 330 Halaman

ISBN : 978-602-412-181-5

Faktor utama perubahan masyarakat adalah menyusupnya nilai-nilai global yang merasuk ke seluruh aspek kehidupan. Ini secara perlahan memarjinalkan nilai-nilai lokal yang sarat kebijakan. Maka, budaya bangsa yang semakin tergerus harus diantisipasi dengan penguatan nilai-nilai keindonesiaan.

Buku ini hasil diskusi berseri. Tujuannya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai keindonesian dalam diri rakyat Indonesia. Ketika bangsa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup maka nilai keindonesiaan merupakan perisainya. Ini juga berperan sebagai penangkal sisi negatif dan penyerap sisi positif modernisasi serta globalisi.

Nilai keindonesiaan begitu mendesak untuk diaktualisasikan karena Indonesia berada dalam pusaran perubahan sehingga terjadi internasionalisasi dan globalisasi. Internasionalisasi berarti suatu dunia, tanpa batas dan penerapan peradaban industrial barat (a borderless world and the acceptance of western industrial civilization). Globalisasi membenarkan, rakyat dari seluruh bangsa berpartisipasi secara proaktif dalam kemajuan teknologi-teknologi baru. Mereka bebas memanfaatkan kemampuan teknologis tersebut di mana pun dan kapan pun (hal xix).

Penanaman nilai keindonesian pada hakikatnya pembentukan karakter individu. Generasi muda diharapkan mampu mengapresiasi kearifan budaya lokal dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Tak salah jika Umar bin Khattab berkata, “Didiklah anak-anakmu lebih baik dari pendidikan dirimu karena dia akan hidup di suatu zaman yang lebih sulit.”

Bahkan, ketika Otto von Bismarck dapat mengalahkan Napoleon III timbul pendapat umum bahwa perang pada tahun 1870 dimenangkan oleh kepala sekolah Prusia dan guru Jerman. Semua menunjuk betapa pentingnya pendidikan karakter melalui sistem nilai tertentu oleh suatu bangsa bagi warga negaranya (hal 304).

Memasuki abad 21 ini, mayoritas generasi muda kehilangan cara untuk memahami jati diri bangsanya. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk membangunkan generasi muda dengan menanamkan nilai-nilai luhur budaya warisan nenek moyang. Globalisasi tidak boleh menghanguskan itu semua.

Berdasarkan hasil diskusi panel yang tertuang dalam buku ini, penanaman nilai keindonesiaan bagi warga agar lebih efektif. Salah satunya dengan cara mengefektifkan sistem pendidikan nasional (SPN) yang berperan penting dalam penanaman nilai keindonesian kepada peserta didik. SPN meliputi pendidikan formal (sekolah), pelatihan nonformal (kursus atau pelatihan), dan pendidikan informal (keluarga).

Pendidikan menjadi salah satu upaya paling strategis untuk membentuk jiwa bangsa dan nilai keindonesiaan baik secara formal, informal, maupun nonformal. Ketiganya harus berjalan bersamaan dan terintegrasi (hal 251). Dengan demikian, generasi mudah goyah menghadapi serbuan modernisasi yang semakin melupakan budaya bangsa.

Selain jalur pendidikan, penanaman nilai keindonesian juga dapat ditempuh melalui komunitas-komunitas masyarakat. Perlu lembaga pengendali untuk mencegah kemungkinan terjadinya multipenyimpangan dalam menafsirkan keindonesiaan. Juga diperlukan suatu gerakan nasional yang masif dan diselenggarakan secara bijak. 

Diresensi Nurul Yaqin, Guru Pesantren Daarul Fikri, Cikarang, Bekasi

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment