Koran Jakarta | February 24 2018
No Comments

Mempertahankan Pegunungan Kendeng Utara

Mempertahankan Pegunungan Kendeng Utara
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Sedulur Sikep Menggugat

Penulis : Dr Subarkah SH MHum

Penerbit : Badan Penerbit Universitas Muria Kudus

Terbitan : Januari 2018

Tebal : 180 + xiv

 

Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng pernah melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, sebagai bentuk protes izin lingkungan bagi salah satu pabrik semen sekitar Maret 2017 lalu. Terkait aksi tersebut, tentu ada beragam alasan yang melatari. Tetapi yang paling pokok, sebagai ikhtiar para petani, yang di dalamnya terdapat sebagian komunitas Sedulur Sikep (Samin) menjaga kelestarian lingkungan dan mata pencaharian.

Kawasan Pegunungan Kendeng, khususnya di sekitaran Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang masuk wilayah Pegunungan Kendeng Utara merupakan daerah kaya sumber mata air. Ini berkontribusi besar bagi kehidupan masyarakat (hal 4). Ada pro dan kontra terkait pendirian pabrik semen di kawasan pegunungan itu. Bagi kelompok pro karena munculnya harapan akan mendapat pekerjaan dari sekadar mengelola lahan pertanian.

Sementara itu, yang menolak, khawatir akan keselamatan lingkungan, terutama lahan pertanian dan suplai air dari sumber pegunungan sebagai kebutuhan sehari-hari (hal 8). Kehadiran buku Sedulur Sikep Menggugat: Jalan Berliku Pertahankan Pegunungan Kendeng Utara sangat menarik. Buku ini menjelaskan secara komprehensif kekayaan kawasan Pegunungan Kendeng Utara dengan sumber daya dan kearifan lokal.

Selain itu, juga diulas perjuangan sebagian komunitas Sedulur Sikep dan para petani kawasan pegunungan itu yang teguh mempertahankan lingkungan. Beragam cara yang ditempuh untuk menyalurkan aspirasinya, antara lain dengan aksi demonstrasi hingga gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Penolakan pabrik semen menyangkut esensi jati diri mereka. Pola hidup sederhana turun-temurun dan terjaganya keseimbangan ekologis (hal 112). Banyak yang menarik bisa dibaca. Perspektif kesejahteraan Sedulur Sikep, misalnya. Bagi mereka, kesejahteraan tidak semata bisa dinilai dengan uang yang dihasilkan, tapi kemandirian berusaha sebagai petani.

Kacamata atau pandangan demikianlah, sehingga faktor pendukung produksi pertanian, bagi mereka harus dijaga dan dipelihara. Selain itu, juga adanya keyakinan secara kultural. Pegunungan Kendeng memiliki ikatan dengan keberadaan situs bersejarah lain, di antaranya Petilasan Prabu Angling Darma, Ki Ageng Giring, Pertapaan Watu Payung, makam Syaikh Jangkung, makam Sunan Prawoto, Sumur Nagajara, Talang Tumenggung, hingga Pintu Gerbang Majapahit (hal 134).

Selain mempertahankan sumber penghidupan dan situs lain, di kawasan Pegunungan Kendeng ini juga ada burung merak, kijang, ayam hutan, udang gua, dan kelelawar yang mesti dilindungi. Buku ini adalah disertasi program doktor. Sebagai karya intelektual, buku netral, tidak terkait dukung mendukung atau pro kontra persoalan semen di kawasan Pegunungan Kendeng.

Diresensi Rosidi, pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kudus

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment