Koran Jakarta | March 27 2019
No Comments

Mempersiapkan Diri sebelum “Resign”

Mempersiapkan Diri sebelum “Resign”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Resign Malu Tak Resign Pilu

Penulis : Fazar Firmansyah

Tebal : xix + 200 halaman

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : ke-1, 2018

ISBN : 978-602-04-6056-7

Lulus dari perguruan tinggi ternama, lalu bekerja di perusahaan bonafit dan bergaji tinggi, tentu menjadi impian banyak orang. Namun, terkadang kenyataannya jauh dari harapan. Buku ini menguraikan permasalahan yang sering dijumpai dalam dunia kerja.

Ada 3.225 perguruan tinggi yang setiap tahun meluluskan lima jutaan sarjana (halaman 37). Sedangkan ketersediaan lapangan kerja sangat terbatas. Wajar, banyak yang harus bekerja di bidang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Jika dijalani dengan terpaksa, bekerja bisa dirasa sangat berat.

Padahal, sebagian besar waktu akan dihabiskan untuk bekerja. Maka, orang harus dapat menyikapinya secara positif. Misalnya, dengan bekerja yang berbeda dari bidang ilmunya, orang dapat menambah pengetahuan baru (halaman 31). Hitung-hitung sebagai tempat belajar, tapi dibayar.

Karyawan bertahun-tahun, biasanya semangat kerjanya mulai mengendur karena banyak alasan, di antaranya terjebak rutinitas monoton. Pekerjaan tidak sesuai dengan passion. Tingkat kesejahteraan rendah atau lingkungan kerja kurang kondusif. Situasi yang tidak nyaman ini akan membuat karyawan dihadapkan pada pilihan sulit, resign atau bertahan.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu tujuan bekerja untuk memperoleh penghasilan. Namun, jika hanya uang sebagai sumber motivasi, tak heran banyak karyawan hanya semangat bekerja beberapa hari setelah gajian. Semangatnya menipis mengikuti isi dompet. Tapi terus menggerutu selama bekerja karena gajinya tidak cukup, tidak memperbaiki keadaan. Untuk menjadi pribadi yang pantas digaji tinggi, tentunya karyawan harus meningkatkan kemampuan, totalitas, loyalitas dan integritas (halaman 90).

Meski demikian, ada karyawan yang mengeluh, sudah berkontribusi maksimal, tetapi kompensasi tidak sepadan. Mungkin karena kondisi keuangan perusahaan memang sedang tidak sehat. Jika demikian, karyawan bisa memutuskan untuk resign, tapi tidak perlu terburu-buru. Sebab setelah memutuskan resign, belum tentu cepat mendapat pekerjaan baru. Sedangkan kebutuhan hidup terus bertambah. Jadi, harus dipersiapkan secara matang. Pegawai bisa resign jika sudah mendapat pekerjaan atau setidaknya memiliki tabungan cukup untuk biaya hidup selama tiga bulan ke depan (halaman 178).

Ada juga karyawan yang merasa jenuh dan banting setir menjalankan usaha sendiri. Memulai bisnis memang diperlukan keberanian untuk melakukan action. Berbisnis harus punya tujuan yang jelas. Berbisnis bukan mengikuti hawa nafsu atau emosi sesaat. Dia juga bukan terpaksa karena frustrasi karena sulit mencari pekerjaan.

Bisnis juga penuh risiko. Untuk membangun bisnis agar terus tumbuh dan bertahan, diperlukan motivasi kuat, ilmu dan pengalaman (halaman 183). Berbisnis bisa dipersiapkan saat masih menjadi karyawan dengan memanfaatkan waktu di luar jam kerja. Bisnis harus sesuai dengan passion agar menyenangkan, kalaupun belum menghasilkan. Setelah pendapatan dari passion tadi mendekati gaji saat ini, maka resign bisa dilakukan dengan tenang.

Buku Resign Malu, Tak Resign Pilu mengupas hakikat pekerjaan dan menentukan pilihan dalam hidup. Buku ini bisa membantu menemukan kembali motivasi dan tujuan hidup.

Diresensi Mia Cisadani, Alumna Universitas Diponegoro

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment