Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Memegang Palu Menjaga Kejujuran Nurani

Memegang Palu Menjaga Kejujuran Nurani

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : H Adi Andojo Soetjipto SH

Penulis : A Bobby Pr

Penerbit : Kompas

Terbit : 2017

Tebal : 312 hlm + xxii

ISBN : 978 602 412 211 9

Setiap berbicara mengenai jabatan hakim negeri ini diperkirakan tidak pernah sepi godaan baik di tingkat pengadilan negeri, banding, maupun Mahkamah Agung. Untuk mendapat jabatan ketua pengadilan negeri di kota besar, misalnya, terkadang calon harus berani merogoh kocek dalam-dalam atau sowan kepada pejabat yang menentukan mutasi, rotasi, demosi, atau promosi.

Di sisi lain, bisa juga terjadi setelah mendapat jabatan, godaan lain muncul juga. Godaan bukan hanya berasal dari orang luar, tetapi juga dalam diri pejabat pengadilan sendiri. Godaan dari luar ketika orang orang lain ingin memanfaatkan jabatan pengadilan untuk kepentingan. Sedangkan godaan dari dalam waktu pejabat pengadilan tergiur mempergunakan kedudukannya untuk keuntungan pribadi.

Dalam buku ini dikemukakan, salah satu pejabat pengadilan yang tidak ikut-ikutan tergoda memanfaatkan jabatan untuk kepentingan personal. Dialah mantan Hakim Agung dan Ketua Muda Pidana Mahkamah Agung, Adi Andojo. Buku ini menceritakan tentang pikiran Adi selama menjadi hakim.

Adi juga menceritakan soal kejujuran dalam hal tambal gigi. Dia bercerita bahwa tahun 1950-an belum ada kebiasaan korupsi. Bahan-bahan untuk menambal gigi yang berlubang juga masih berkualitas tinggi. Sehingga sejak tahun 1956 saat Adi berobat sampai tahun 2016, tambalan gigi masih kokoh (hal 71).

Pada saat pertama bertugas di Madiun, Adi dicoba disogok pihak tertentu. Peristiwa penyogokan juga terulang saat bertugas di Pengadilan Tinggi Semarang. Saat itu, Adi pernah mau disuap anak buahnya sendiri. Dia dijanjikan uang sebesar 200.000 rupiah untuk memenangkan perkara rekan hakim tadi.

Dengan tegas Adi menolak tawaran. Dia tidak mau merusak kredibilitasnya sebagai hakim, meski gajinya hanya 70 rupiah saat itu. Ketika menjabat Hakim Agung, sejumlah tawaran baik uang, rumah, mobil, perhiasan, wanita cantik, maupun iming-iming lain juga ditawarkan, namun semua tawaran ditolaknya.

Prinsip kejujuran sangat ditekankan Adi kepada anggota keluarganya. Dia tidak mulai dari orang lain, tetapi dari lingkungan terdekat, istri, anak-anak, dan diri sendiri. Istrinya selalu bertanya, kalau dikasih uang di luar gaji, duit apa Pak? Kalau uang halal baru mau menerima. Jadi, bukan bersyukur dulu lalu terima uang, tapi tanya dulu halal atau tidak. Setelah itu bersyukur.

Baginya, profesi hakim bukanlah langkah untuk menggapai kekayaan, tetapi menegakkan keadilan dan kebenaran. Dia lebih baik hidup sederhana daripada makan uang tidak halal. “Di rumah saya tidak ada sepeser pun hasil korupsi, dan dalam perjalanan perkawinan saya tidak pernah sekalipun selingkuh,” kata Adi (hal 1).

Buku ini biografi salah saorang Hakim Agung Indonesia yang mulai dari karier awal sampai pensiun tidak terkena godaan. Di negeri ini memang tidak sedikit orang pintar. Namun yang sulit, menemukan orang berani bertindak jujur atas pekerjaannya. Paling tidak, buku ini berisi pesan bahwa jujur sejak menjadi hakim pengadilan tingkat pertama sampai akhir pengabdian memberi jaminan masa depan lebih aman dan cerah. Sebab nama baik adalah modal dan mahkota bagi anak cucu. 

Diresensi Binoto Nadapdap, Dosen Pascasarjana FH UKI

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment