Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
PERADA

Membuang Sampah di Tempatnya, Belumlah Cukup

Membuang Sampah di Tempatnya, Belumlah Cukup

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Rumah bersih dan bebas dari sampah merupakan dambaan setiap orang. Namun untuk mewujudkannya, harus ada kemauan dan usaha. Buku ini membahas sampah yang menimbulkan berbagai permasalahan, proses meminimalkan, memperlakukan sampah, hingga teknik detail mengolah sampah.

Mungkin orang berpikir, membuang sampah di tempatnya sudahlah cukup, padahal tidak. Sampah tersebut akan menumpuk di tempat lain. Mungkin di tempat kita bersih, tapi bermasalah di tempat lain (hal 15). Kemasan makanan plastik, styrofoam, bekas botol minuman, dan lainnya hanya berpindah tempat. Untuk menguraikan, ada yang memerlukan tahunan, puluhan, bahkan ratusan tahun.

Sampah terus menumpuk hingga tempat pembuangan sampah tak mampu lagi menampung. Sampah menimbulkan pencemaran air dan udara, serta merusak ekosistem lainnya. Maka, membuang sampah pada tempatnya belumlah cukup.

Zero waste tidak hanya mengenai recycle atau mendaur ulang. Tetapi meliputi tahap refuse (menolak), reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali) melalui repair (memperbaiki) dan replace (mengganti) dan terakhir recycle (mendaur ulang) sehingga populer dengan gerakan 5R oleh Bea Johnson.

Setelah mengetahui landasan zero waste, dalam praktiknya kita bisa melakukan cegah, pilah, dan olah. Yang perlu dilakukan menolak penggunaan barang sekali pakai dan menggantinya dengan barang yang bisa dipakai berulang. Contoh, kantong kresek diganti tas belanja. Botol plastik dan tempat makanan sekali pakai diganti yang dipakai berulang. Perilaku ini dapat mengurangi sampah.

Pisahkan sampah sesuai dengan jenisnya. Sampah kompos (sisa sayur, buah), kertas dan kardus dalam kondisi kering dan bersih. Sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun), sampah daur ulang campuran (plastik, kaleng, kaca, kotak susu) dan sampah lain lain yang tidak bisa diolah (tisu, pospak).
Pemisahan untuk memudahkan memperlakukan sampah. Yang bisa diolah secara mandiri, dikirim ke bank sampah atau ke TPA. Tahap olah, sampah makanan dari sisa konsumsi menjadi salah satu masalah. Dalam satu tahun 13 juta ton sampah (hal 97). Ini merupakan pekerjaan besar. Sebenarnya kita bisa mengolah sampah tersebut menjadi bernilai. Membuatnya menjadi kompos dan mengembalikan ke tanah untuk menutrisi bumi sehingga rantai makanan dapat terus berjalan.

Bisa dibuat kompos gerabah, pot, ember, drum dan biopori. Komposter bisa dipilih dengan pertimbangan luas lahan, pola konsumsi, daya tampung, perawatan dan metodenya. Contoh, jika lahan sempit, pola konsumsi berupa sayur, buah, dan makanan matang lainnya, komposter pot bisa dipilih.
Sedangkan untuk pengolahan sampah kantung dan botol plastik yang kaku bisa dengan Eco-bricks. Ini sampah kantung plastik dipotong kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam botol sampai padat sebagai pengganti batu bata. Mengurangi sampah atau limbah juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dari pengolahan sisa konsumsi. Contoh membuat pewangi dari limbah kulit jeruk. Mencuci pakaian, mengepel lantai, menyemprot hama, menggunakan kombinasi biji lerak dan limbah kulit jeruk.

Belajar zero waste bukan hanya menghemat plastik, tetapi juga sumber daya lainnya (air, listrik, bahan bakar dan sebagainya) agar tidak terbuang percuma (hal 130). Akhir buku ini mengajak kita mengubah kebiasaan dengan mempraktikkan zero waste baik di dalam maupun luar rumah dengan mengisi tantangan 30 puluh hari. Harapannya zero waste bukan sekadar tren, tetapi menjadi sebuah karakter.

 

Diresensi Tantri Mega Sanjaya, Alumna Program Magister S2 Universitas Negeri Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment