Koran Jakarta | December 13 2018
No Comments
Single Mom Community

Memberi Semangat untuk Kehidupan Baru

Memberi Semangat untuk Kehidupan Baru

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Perpisahan yang terjadi karena perceraian maupun kematian bisa membawa duka mendalam. Single Mom Community mengajak para perempuan yang mengalami peristiwa perpisahan untuk bangkit menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Peristiwa perpisahan tentu saja bukan perkara mudah. Selain takdir kematian, adakalanya perpisahan harus terjadi demi kenyamanan kedua belah pihak. Setelah perpisahan, maka kehidupan baru akan dijalani.

Ketika palu perpisahan diketuk penegak hukum di meja hijau. Setiap orang akan mengalami perasaan psikologis yang luar biasa. Rasa tidak dihargai karena perpisahan yang diakibatkan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) maupun adanya wanita lain tak serta merta tuntas.

Kondisi diri terus terpuruk mengingat pernikahan yang kandas di tengah jalan. Berbedahalnya, jika perpisahan terjadi karena pasangan meninggal dunia. Istri yang ditinggalkan hanya merasa kehilangan sosok yang dicintai dan tidak ada lagi tempat untuk bersandar.

Kecenderungnya, pasangan yang ditinggalkan hanya akan mengenang memori manis semasa masih berdua. Yang tidak kalah pelik, perpisahan menimbulkan sejumlah konsekwensi, pengalaman tidak menyenangkan bersama pasangan, memori indah bersama pasangan bahkan kondisi keuangan.

Semuanya akan melekat, meskipun secara fisik dua pasangan telah berpisah secara resmi. Masalah keuangan menjadi sensitif dalam perpisahan. Sumber nafkah yang bermuara dari suami atau disokong suami mendadak harus ditanggung sendiri.

Belum lagi soal hak asuh yang jatuh ke tangan ibu membuat perempuan dituntut untuk dapat membagi waktu, antara anak dan mencari nafkah.

Perubahan yang terjadi tiba- tiba terasa sangat mengagetkan. Alih-alih untuk segera bangkit menata kehidupan kembali namun kerap terjadi yang bersangkutan justru tengah mengumbar amarah atau meratapi kenangan manis dengan pasangan. Menceritakan pengalaman pahit dapat mengurangi kepedihan.

Tapi jika salahcurhat, cerita perpisahan justru akan bergulir menjadi sasaran gosip. Meita Laksmiati Marzuki, pendiri Single Mom Community memilih tidak menceritakan pengalaman perpisahan dengan suami kecuali dengan keluarganya.

“Saya tidak info secara publik hanya untuk orang-orang tertentu untuk meminimalisir efek yang tidak penting,” ujar dia, Rabu (15/8). Single Mom Community menjadi wadah para perempuan yang terpisah secara perkawinan dari pasangannya, baik cerai maupun mati, untuk saling memberikan dukungan.

“Untuk fase awal akan saling menguatkan satu dengan lainnya,” ujar wanita yang mengalami proses perceraian dengan suami tujuh tahun yang lalu. Pada tahap selanjutnya, para anggota komunitas akan saling tukar informasi untuk mencari penghasilan, yaitu antara mencari pekerjaan atau mengembangkan skill.

“Supaya memperoleh duit,” ujar dia tentang kegiatan komunitas. Hal ini karena, para perempuan tersebut dituntut untuk menanggung biaya hidup sendiri dari biaya hidup yang semula ditanggung suami. Saat ini, Single Mom Community beranggota perempuan dengan rentang usia 30 sampai 50 an tahun.

Sebanyak, 50 anggota saling tukar cerita mengenai pengalaman berpisah dengan pasangan dan saling menguatkan satu sama lainnya. Sebagian besar anggotanya pernah mengalami perpisahan dengan pasangan. Namun ada juga, wanita lajang yang turut bergabung dalam komunitas ini.

Untuk komunikasi, mereka tergabung dalam WAGs. Anngota dari Indonesia maupun yang tinggal di luar negeri. Anggota yang terdapat di Riau, Jeddah, Dubai, Hongkong dan Jabodetabek dapat saling berbagi cerita dan masukan.

Single Mom Community berdiri pada 21 Juli 2016. Sampai saat ini, komunitas tersebut belum memiliki kegiatan khusus. Kagiatan yang dilakukan sebatas insidentil.

“Karena foundernya masih sibuk dan sekretariat belum dapat berjalan 100 persen,”ujar dia. Meski begitu melalui WAGs, komunitas dapat memberikan semangat pada para anggota lainnya. “Pernah ada yang hampir cerai, tapi Alhamdulillah nggak jadi,” tutup dia. din/E-6

Mempersiapkan Kehidupan Anak Paskaperceraian

Perceraian akan berdampak tidak hanya pada pasangan melainkan juga pada anak. Perilaku anak yang menyimpang usai perceraian orang tuanya menjadi cerita yang kerap terdengar. Padahal, anak dapat diajak untuk menerima perceraian. Ini agar anak bisa terhindar dari emosi yang tidak terkendali maupun perilaku menyimpang.

Meita mengatakan penjelasan kepada anak terkait hubungan kedua orang tua dapat meminimalisir prilaku negatif pada anak. “Jelaskan secara simple sesuai umur anak tentang ketidakhadiran ayahnya pasca divorce,” ujar dia. Meita yang telah bercerai selama 7 tahun dari suaminya menganalogikan sebagai pacaran. Anak perlu dijelaskan secara pelan-pelan ada masa-masa putus hubungan diantara kedua.

“Nah saya dan bapaknya memutuskan untuk putus,” ujar dia tentang penjelassan hubungan mantan suaminya pada anak semata wayangnya. Ia menyadari bahwa perceraian dapat membawa dampak emosional pada anak. Terutama untuk anak yang menginjak masa remaja, ada rasa sulit menerima perubahan kondisi keluarganya.

”Dan biasanya akan ada proses pengingkaran terlebih dahulu,” ujar ibu satu anak perempuan usia 12 tahun ini. Masalah-masalah lainnya biasanya terjadi di lingkungan sekitar maupun lingkungan sekolah. Tanggung jawab sebagai orang tua memilik efek yang besar pada perkembangan anak meskipun orang tuannya berpisah. Ada baiknya, orang tua menjaga sikap layaknya orang tua dihadapan anak bukannya musuh yang tengah bertempur di medan perang.

“Mengerti tanggung jawab sebagai orang tua dan tidak saling menjelekkan satu sama lain dihadapan anak,” ujar dia.

Maka, anak akan respek dan memiliki cinta di dalam keluarga walaupun ada masa-masa cemburu melihat teman yang memiliki orang tua lengkap. Meita sangat menekan pentingnya menjaga sikap sebagai orang tua dihadapan anak, mengingat anak adalah peniru ulung. Segala perilaku bahkan ucapan orang tua akan berimbas pada anak. Orang tua yang berpikir positif akan menular pada anak.

“Anak akan cepat move on ketika orang tuanya akan move on terlebih dahulu,” ujar dia yang sempat melakukan perenungan selama tiga hari di gunung sebelum berpisah dengan mantan suaminya. Upaya untuk mempersiapkan kehidupan setelah perceraian akan membantu mencapai kehidupan yang lebih baik. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment