Koran Jakarta | August 16 2017
No Comments
suara daerah

Membangun dengan Keberagaman di Kabupaten Alor

Membangun dengan Keberagaman di Kabupaten Alor

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, mendapat anugerah Harmony Award Tingkat Nasional dari pemerintah pusat pada Februari 2017 lalu. Alor menjadi contoh bagaimana hidup beragama yang berbeda-beda justru menjadi kekuatan dari sebuah daerah.

Berbeda tempat untuk berdoa, membuat warga Alor makin kuat toleransinya. Hal itu terjadi karena pembangunan rumah ibadah bagi agama lain adalah ekspresi dari kehidupan gotong royong. Gereja bisa dibangun oleh umat muslim, begitu pun sebaliknya. Bahkan, salib didoakan di masjid dan kubah masjid didoakan di gereja.

Untuk mengetahui lebih jauh kerukunan dan tolerasi yang ada di kabupaten ini, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro berkesempatan mewawancarai Bupati Alor, Amon Djobo, pada acara Kongres Pancasila IX, di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana bisa masjid dibangun oleh umat Katolik dan gereja dibangun umat muslim, sementara di Jawa pembangunan rumah ibadah justru sering memicu konflik?

Kami hanya meneruskan apa saja nilai-nilai baik yang ditinggalkan nenek moyang. Ketika masyarakat Suku Nabokwali dan Rahiowati mendirikan gereja, masyarakat Islam dan masyarakat lainnya membantu dan mendukungnya, dengan ikut mengerjakan pembangunan itu. Sebaliknya, pendirian Masjid Lerabaing yang dikenal sebagai Masjid At Taqwa pada paruh pertama abad ke-17 oleh Pangeran Sultan Gimales Gogo dari Kesultanan Ternate, difasilitasi dan didukung oleh Raja Kinanggi Atamalai, Kerajaan Kui.

Kerukunan dan indahnya keberagaman itu juga berlangsung pada peristiwa pembaptisan pendeta pribumi Alor pertama, Lambertus Moata, pada tahun 1908. Umar Watang Nampira, seorang pribumi Alor, penganut Islam yang taat adalah tokoh yang memungkinkan peristiwa itu terjadi.

Kenyataan itu agak susah dimengerti oleh kami yang tinggal di Jawa, apakah Anda bisa memberi saran agar kami bisa meniru kerukunan di Alor?

Saya juga susah mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi di Jawa ini, terutama kalau saya nonton televisi, semua yang berbicara itu profesor, orang-orang pintar semua, tetapi kenapa jadi rumit sekali. Kami orang desa, tidak pintar, tapi kami mengerti bahwa kerukunan yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang adalah modal sejarah yang justru harus terus dijaga dan dikembangkan.

Dikembangkan untuk apa, untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat yang nyata dan paripurna, bukannya malah modal sejarah itu tidak diakui, dibenci, dihancurkan.

Apa tantangan menjaga semua warisan sejarah yang baik itu?

Loyalitas besar kepada cita-cita dan tujuan bersama, itu tantangan besarnya. Kebinekaan sebagai energi kolektif masyarakat bersatu dan menyatu, ketika seluruh pemimpinnya memberikan prioritas pada titik temu pemikiran, dan tidak terseret oleh polarisasi perbedaan.

Hal itu mewujud, terutama dalam menyikapi masalah. Rakyat memerlukan dari pemimpinnya, cara menyelesaikan masalah dan memberi solusi atas permasalahan yang dihadapi. Rakyat tidak memerlukan alasan untuk menghindari masalah, apa lagi melarikan diri dari masalah.

Anda mendapat apresiasi Harmoni Award, apakah ini berarti besar untuk Anda?

Tentu saja artinya besar. Kami berbatasan dengan Timor Leste, tapi kami memilih Indonesia. Sejarah bangsa kami adalah bangsa Indonesia. Darah kami, darah Indonesia. Sifat-sifat alami kami, sifat yang ditulis para founding fathers sebagai dasar negara ini, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.

Apresiasi Harmoni Award menegaskan takdir Alor sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat majemuk, baik penduduk, tradisi, adat istiadat, dan budayanya. Suatu Negara Kepulauan yang sangat tepat menggunakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, beragam suku, agama, ras, dan golongan, tetapi dalam satu negara dan bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan yang sama.

Sebagai pemimpin Alor, apa rencana-rencana Anda?

Yang pasti bagaimana dengan kekuatan yang ada, baik mental maupun potensi daerah lainnya kami bisa melayani dan memajukan kehidupan masyarakat. Ada lima prinsip dasar kemuliaan melayani berbasis simpati dan empati harus dilakukan.

Pertama, membangun kesadaran seluruh potensi, pemerintah dan masyarakat bahwa menciptakan harmoni sosial adalah cara mengelola keragaman untuk mencapai satu tujuan kolektif. Kedua, membangun semangat seluruh kalangan, pemerintah dan masyarakat bahwa melayani rakyat dengan program yang sesuai dengan keperluan dasar dan aspirasi rakyat harus dilakukan secara nyata dan terasakan, dengan meggerakkan lini birokrasi sebagai ekstensi pelayanan.

Prinsip lainnya apa?

Ketiga, membangun apresiasi terhadap inisiatif positif, kreatif, inovatif dan produktif, baik dari kalangan masyarakat maupun kalangan penyelenggara pemerintahan. Keempat, setelah apresiasi kami musti mendorong respek atau rasa penghormatan terhadap seluruh unsur pimpinan formal, informal, dan nonformal, sebagai teladan bagi masyarakat – rakyat. Kelima, membangun cinta kasih, rahman dan rahim antarsesama warga rakyat, dimulai oleh dan dari lingkungan para pemimpinnya. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment